Skip to main content

Full text of "Buku Islami Vol.4 Bacaan Waktu Senggang 2"

See other formats


KONSPIRASI INTELIJEN 

& 

GERAKAN ISLAM RADIKAL 

Penyunting: 


Umar Abduh 




Desain Cover: 


Noor Fajar 

Cetakan I, Nopember 2003 
Penerbit: 

Center for Democracy and Social Justice Studies 
WISMA HAROEN 
Jalan Raya Pasar Minggu 
Jakarta 12780 

Tel. 7988223, Fax 798 3265 
ISBN 979-96534-2-8 



Dari Kami 


D alam beberapa tahun terakhir ini, Indonesia diwarnai 
dengan berbagai peristiwa kekerasan dan pemboman 
yang telah menewaskan ribuan warga masyarakat. 
Kerugian materiil maupun non materiil yang diakibatkannya 
telah mempengaruhi seluruh sendiri kehidupan masyarakat 
Indonesia. 

Berdasarkan hasil penyelidikan maupun penyidikan 
yang telah berjalan selama ini, pihak kepolisian berhasil 
menangkap sejumlah pelaku yang terkait dengan kelompok 
Islam Radikal. Ada yang menyebutkan kelompok ini 
merupakan bagian dari matarantai jaringan kelompok Alqaeda 
pimpinan Osama bin Ladin yang telah ditasbihkan peemrintah 
Amerika Serikat sebagai orang paling berbahaya sekaligus 
paling dicari pada saat ini. 

Berbagai tuduhan maupun spekulasi yang 
dikembangkan oleh Pemerintah Amerika Serikat yang kerap 
menyebut Islam, khususnya di Indonesia, sebagai salah satu 
pusat kegiatan terorisme telah emnciptakan ketegangan bani 
antara Barat dan Islam. 

Kondisi ini telah mendorong kami untuk menerbitkan 
tulisan yang menyoroti sisi lain tentang gerakan Islam radikal 
di Indonesia dari berbagai sumber informasi yang layak untuk 
diketahui oleh masyarakat Indonesia. Buku ini disusun oleh 
Umar Abduh, salah seorang figur yang pernah berinteraksi 
secara langsung dengan kelompok Islam radikal di Indonesia. 
Umar yang pernah merasakan tekanan luar biasa saat rezim 



Orde Baru berkuasa, sebagai akibat keterlibatannya dalam 
berbagai kelompok Islam garis keras, kami anggap merupakan 
sosok yang cukup tepat dalam menyoroti aktifitas kelompok 
Islam radikal di Indonesia. 

Buku yang tengah anda baca ini merupakan buku 
ketiga kami, yang sengaja diteritkan untuk menyoroti 
persoalan hangat di tengah masyarakat. Buku pertama, Timor 
Lorosa’e on the Crossroad ditulis oleh George J. Aditjondro, 
mengungkapkan berbagai persoalan krusial yang dihadapi 
Indonesia saat menghadapi masalah Timor Timur. Buku kedua, 
Di Balik Jejak Skandal Balongan diluncurkan Februari lalu saat 
masyarakat tengah skeptis atas langkah Kejaksaan Agung 
dalam menangani berbagai kasus korupsi di tubuh Pertamina, 
yang hingga kini nyatanya memang tidak pernah tuntas 
penyelesaianya. 

Sebagaimana halnya dua buku kami terdahulu, buku ini 
disusun tanpa pretensi apapun. Isinya bisa jadi masih jauh dari 
harapan masyarakat. Oleh karena itu, kami sangat 
mengharapkan saran dan kritik dari pembaca. 

Terimakasih 


Jakarta, Awal Ramadhan 1424 H 

27 Oktober 2003 


John Mempi 
Direktur Eksekutif 



Daftar Isi 

Dari kami ... iii 
Pendahuluan ... 1 

1. Baasyir, Bafana, and Intel ... 17 

2. Mengenai Jama’ah Islamiyah ... 25 

3. Jejak Intelijen di Balik Al-Farouq ... 33 

4. Donie Brasco dari Ciputat ... 49 

5. Abdul Haris: “Saya Orang Swasta Murni” .. 57 

6. Dasamuka yang Gemar Menyaru ... 63 

7. Misteri Hari Terakhir ... 73 

8. Jejak Seluler Meringkus Faruq ... 79 

9. Muchyar Yara: “Haris Teman Lama Hendro” ... 83 

10. Antara Ba’asyir dan Hambali (01) ... 91 

1 1 . Antara Ba’asyir dan Hambali (02) ... 93 

12. Menciptakan Hantu Teroris ... 95 

13. Kronologis Kasus PHK Sepihak Wartawan REPUBLIKA ... 103 

14. Omar Al Farouq, Haris dan Amrozy ... 115 

15. ICG dan Kesaktian SidneyJones ... 119 

16. Fuad Bawazier, Al-Chaidar, dan Nur Hidayat ... 125 

17. Al Farouq Beli 3 Ton Bahan Peledak dari Sumber TNI ... 131 

18. Rencana Membunuh Megawati ... 133 

19. Umat Islam dan Tentara ... 137 

20. SK Itu Dalang Bom .. . 151 

21. Kyai Syamsuri dan Peledakan ... 157 

22. “Pelaku NH, Otaknya Jendral SK” ... 163 

23. Embrio Tragedi Lampung Kedua ... 165 



Pendahuluan 


K eberadaan lama’ ah Islamiyah dan jaringannya telah 
terungkap seiring dengan banyaknya anggota jaringan 
Jama’ah Islamiyah ditangkap kepolisian Indonesia, 
seperti dituturkan para personilnya di hadapan pimpinan MUI 
KH Amidhan dan Ormas Pemuda KNPI diwakili Idrus Marham 
dan Naufal mewakili Laskar Hizbullah, selanjutnya pernyataan 
resmi tersebut disosialisasikan melalui konferensi pers pada 
hari Jum’at, 19 September 2003 yang intinya menjelaskan: 

Jama’ah Islamiyah adalah organisasi riil, dirintis 
Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir sejak 1992 dengan 
cikal bakal basis gerakan Darul Islam atau NII (Negara Islam 
Indonesia) dan dinyatakan resmi berdiri tahun 1996 di 
Malaysia. Mereka mengakui memiliki hubungan dengan 
Osama bin Laden, Mujahidin Afghanistan dan Moro selama 
kurun waktu 1985-2000 dalam hal ideologis, dan bukan 
dalam struktur organisasi; demikian pula keterlibatan mereka 
dalam konflik Maluku, Ambon, dan Poso. 

Struktur organisasi JI meliputi wilayah Malaysia, 
Brunei, Filipina dan Indonesia; terbagi dalam tiga Mantiqi. 
Mantiqi I meliputi wilayah Malaysia, Brunei dan Singapura. 
Mantiqi II meliputi Filipina, Kalimantan, Sulawesi dan 
Maluku. Mantiqi III meliputi Sumatera, Jawa dan Nusa 
Tenggara Timur dan Barat. Serta, Mantiqi Ukhra (lain). 

Namun dalam kurun waktu empat tahun terakhir pasca 
wafatnya Abdullah Sungkar, terjadi perpecahan dalam tubuh 
Jama’ah Islamiyah. 



Faksi pertama adalah faksi ideologis (tetap dalam 
garis khittah PUJI: Pedoman Umum Jama’ah Islamiyah dengan 
format Dakwah dan Jihad), dengan struktur gerakan bersifat 
klandestein atau di bawah permukaan, di bawah kepemimpinan 
Abu Rushdan, tercatat sejak Abu Bakar Ba’asyir bersedia 
menjadi Amir MMI tahun 2000. 

Faksi kedua adalah faksi moderat dengan struktur 
organisasi terbuka dan format gerakan MMI (Majelis 
Mujahidin Indonesia) berbasis anggota heterogen (bervariasi 
dan tidak melulu mantan mujahidin Afghan, Moro, Ambon dan 
Poso) dipimpin oleh Abu Bakar Ba’asyir. 

Faksi ketiga adalah JI faksi liar 1 , radikal dan ekstrem 
yang terlibat dalam aksi kekerasan bom Kedubes Filipina, 
Natal 2000, Legian Bali dan Marriott Jakarta, di bawah 
komando Hambali dan Zulkamaen. 


1 Hambali dan Zulkamaen tercatat sebagai Ketua Mantiqi I, namun sejak 
terlibat konflik Ambon tahun 1999 dan terjerat kooptasi intelijen di bawah 
intel Abdul Haris, Abu Dzar dan Al Farouk, Hambali dkk berusaha menyeret 
konflik Ambon dan Poso ke Jawa dan Ibukota Jakarta dan berusaha 
melibatkan teman sejawatnya dan merusak struktur disiplin di Mantiqi II, III 
dan yang lain untuk melancarkan aksi jihad melawan Amerika dan antek- 
anteknya. Sayang, baik faksi Abu Rushdan maupun Ba’asyir hanya 
mengambil sikap berlepas diri (tabarra) terhadap kiprah Hambali dan 
Zulkamaen yang indisipliner dan keluar dari khittah PUJI tersebut. Faksi JI 
ideologis dan moderat tidak mencermati dan melakukan kewaspadaan 
terhadap potensi dan kemungkinan buruk maupun dampak petualangan faksi 
Hambali yang ternyata telah masuk dalam jebakan jaring-jaring intelejen 
seperti Abdul Haris “Donnie Brasco”, Abu Jihad, Abu Dzar, Al Farouk dan 
sebagainya. Kini, suka atau tidak mereka telah terkena akibat buruk hasil 
penetrasi dan permainan intelejen Negara yang tidak mampu mereka 
waspadai dan perhitungkan, yang ternyata membelit habis seluruh gerakan 
Islam. 



Faksi Hambali - Zulkamaen yang liar dan terindikasi 
kuat terlibat jaringan intelejen ini dinyatakan memiliki 
hubungan dengan Osama bin Laden. Termasuk pernyataan 
mereka yang membenarkan posisi Ba’asyir sebagai Amir JI dan 
mengangkat serta mem -bai’at Sukiman alias sebagai Wakalah 
III 2 pada tahun 2001. 

Demikian isi konferensi pers 5 oknum elite JI 3 dari faksi 
yang berbeda, saat menjelaskan kepada MUI and pimpinan 
Ormas pemuda KNPI and Hizbullah sesaat setelah dibebaskan 
dari penangkapan atau penculikan kepolisian yang dinilai 
kontroversial. Pernyataan serupa diulang Sukiman bersama 
empat shahibnya di Polwil Pati, Jawa Tengah, Sabtu malam 27 
September 2003 yang lalu. 

Terbongkarnya jaringan organisasi gerakan Jama’ah 
Islamiyah oleh Kepolisian Republik Indonesia yang subyek 
pelaku atau anggotanya ternyata masyoritas warga dan bangsa 
Indonesia, menyisakan misteri dan tuduhan yang mengemuka 
selama ini belum terungkap. Keberhasilan polisi juga 
menyisakan pertanyaan besar, karena muatan politik dan 
rekayasa intelejen yang melatari belum dan tidak disentuh. 
Padahal mencari akar masalah dan sumbu terorisme merupakan 
kerja sesungguhnya aparat hukum Indonesia dalam 
memberantas terorisme, sekaligus smber instabilitas politik dan 
keamanan di negeri ini. 


2 Hal ini menunjukkan bahwa ketiga faksi JI di atas masing-masing 
memiliki struktur organisasi Mantiqi yang sama dalam istilah, namun beda 
dalam personil. Sebagai bukti, wakalah 111 faksi Abu Rushdan saat ini 
bernama Fahim. 

3 Muhaimin Yahya, Syamsul Bahri, M. Nasir Abbas, Bambang Tetuko dan 
Sukiman. 



Buku yang berada di tangan anda ini merupakan 
kompilasi data lapangan dan komentar masyarakat berkenaan 
dengan aspek misteri dan sumbu terorisme atau kekerasan yang 
terjadi di Indonesia. Kumpulan berita tersebut disusun menjadi 
sebuah buku kecil untuk keperluan arsip serta demi 
kepentingan dan mengingatkan bangsa Indonesia dari peran 
intelejen negeri ini yang belum berhenti dari pola strategi 
paradigma lama rezim Orde Baru dalam menggapai dan 
melanggengkan kekuasaan sekaligus menghancurkan lawan 
politik ideologis. Strategi dan paradigma lama intelejen negara 
yang sangat bertentangan dengan semangat dan prinsip 
Reformasi, Demokrasi dan sarat dengan pelanggaran HAM. 

Strategi dan paradigma lama intelejen dalam 
penyelenggaraan negara dan pemerintahan Indonesia 
diterapkan sejak era militer Soeharto Orde Baru tahun 1968. 
Rekayasa intelejen dijalankan dengan sasaran utama kekuatan 
politik Islam baik yang berlatar belakang eks Masyumi maupun 
eksponen NII melalui program pemecah-belahan.. Inilah yang 
terus terjadi dan berlangsung hingga sekarang. 

Konsep rekayasa intelejen tersebut perlu diingatkan 
kepada masyarakat partai, pergerakan maupun masyarakat 
umum. Karena konsep intelejen yang diterapkan melalui tipu 
muslihat dan strategi politik intelejen seperti penggalangan, 
rekrutmen, pembinaan serta penugasan dan pembinasaan itulah 
yang dahulu dijalankan terhadap kader-kader muda Masyumi 
maupun mantan komandan NII melalui komitmen dan dalih 
untuk mensukseskan Pemilu 1971, sekaligus menghadapi 
bahaya laten komunisme. Sehingga partai dan gerakan yang 
muncul dan eksis adalah yang terkendali, sedang partai dan 
gerakan ideologis justru mati suri. 



Rekayasa kebangkitan Neo NII bentukan BAKIN 
dilakukan dalam rangka menghadapi gerakan NII ideologis 
yang terus bergerak dan berusaha survive dimotori oleh sayap 
sipil NII seperti Kadar Shalihat, Djadja Sudjadi, Abdullah 
Munir dan lainnya, dengan menamakan diri sebagai gerakan 
NII Fillah. Tokoh-tokoh kelompok NII yang dikhawatirkan 
Orde Baru itu pada akhirnya dibantai dengan meminjam tangan 
komunitas NII sendiri, baik dari kubu Adah maupun kubu 
Ajengan Masduqi 4 yang terjebak dalam provokasi dan skenario 
intelejen. 

Politik “ulur tangan” atau proses penggalangan terhadap 
sisa-sisa laskar NII misalnya, oleh sisa-sisa laskar pemberontak 
itu tidak berusaha kritis dan waspada terhadap niatan apa 
sesungguhnya yang ada di balik kebijakan ulur tangan intelejen 
tersebut, niat ishlah ataukah konspirasi atas pengesahan 
hubungan baik tersebut. 

Kebijakan politik kooptasi, konspirasi dan kolaborasi 
rekayasa intelejen {galang, rekrut, bina, tugaskan dan 
binasakan ) terhadap gerakan NII tersebut tenis berlanjut dari 
tahun 1975 sampai saat sekarang. Bahkan sisa-sisa laskar NII 
saat itu percaya dan sadar menerima jebakan Ali Murtopo 
untuk melakukan konsolidasi kekuatan bagi bangkitnya 
kembali organisasi NII. 

Kooptasi tersebut diketahui terjadi karena atas jaminan 
Danu Moh. Hasan yang tercatat sebagai mantan panglima divisi 
gerakan DI-TII yang telah lebih dahulu direkrut dan dibina Ali 

4 Jasa membantai kelompok inti NII inilah yang membuat kubu Ajengan 
Masduqi tidak pernah diusik keberadaanya hingga sekarang, sekali pun Polri 
banyak menemukan data dan bukti berupa senpi (senjata api) maupun kasus 
perampokan. 



Murtopo sudah lama bergabung atau dikaryakan di lembaga 
formal Bakin. 5 

Bila masalah itu dirunut, penyusupan para infiltran 
kader intelejen militer ke dalam gerakan ummat Muslim 
Indonesia yang berlangsung sejak Orde Baru di bawah 
Soeharto dan Ali Moertopo maka proyek pembusukan dalam 
tubuh gerakan organisasi NII untuk pertama kalinya melalui 
keberhasilan Ali Moertopo dalam merekrut and membina Danu 
Moh. Hasan and Ateng Djaelani sebagai agen Bakin yang 
ahirnya memunculkan kasus Komando Jihad di Jawa Timur 
pada tahun 1977. Penangkapan diri Danu sendiri baru 
berlangsung sekitar tahun 1979, selanjutnya melalui sidang 
pengadilan divonis 10 tahun and bebas pada tahun 1987, namun 
sampai di rumah meninggal akibat racun arsenikum. 

Selanjutnya intelejen militer berhasil membina dan 
menyusupkan Hasan Baw ke dalam gerakan Warman, yang saat 
itu bersama-sama dengan Abdullah Umar dan Farid Ghazali 
tahun 1978/9. Namun ia berhasil dieksekusi oleh Farid Ghazali. 
Farid sendiri akhirnya tewas oleh aparat keamanan tahun 1982. 


5 Namun secara lebih jauh Danu malah “mempromosikan” Ali Murtopo 
melalui argumen bahwa masa lalu Ali Murtopo sebagai mantan Hizbullah 
memanggilnya untuk kembali menjadi Mujahid (padahal Ali Murtopo sejak 
awal tidak pernah sedetik pun menjadi anggota Hizbullah, tetapi malah 
sebagai aktivis dan kader militan Pesindo). Menurut penjelasan Danu Moh. 
Hasan secara sangat meyakinkan kepada para mantan komandan Dl-TII, 
tentang tekad Ali Murtopo yang sudah siap untuk tobat serta kembali 
bergabung dengan Islam dan siap pula berlanjut kepada upaya menyusun 
kekuatan untuk kembali melawan rezim militer Soeharto yang kuffar dan 
zhalim saat itu sekaligus dalam rangka mengambil alih kekuasaan, (lihat: 
Umar Abduh, “ Investigasi Mega Proyek NII: Pesantren Al-Zaytun Sesat? ”, 
2001, Darul Falah; juga “ Al-Zaytun Gate”, 2002, LPDI. 



Tahun 1981 Bakin kembali menyusupkan salah satu 
anggota kehormatan intelnya (berbasis Yon Armed) bernama 
Najamuddin, ke dalam gerakan Jama’ah Imran. Melalui aksi 
provokasi dengan menyerahkan setumpuk dokumen rahasia 
militer dan CSIS yang berisi rencana jahat ABRI terhadap 
Islam dan ummat Islam. 

Pada akhirnya berkat pembusukan dan pematangan 
kondisi dan situasi melalui kinerja intel Najamuddin, rekayasa 
tersebut berhasil memicu aksi radikal ekstrem dalam wujud 
kekerasan bersenjata kelompok ini. Padahal modal awal senjata 
itu pun hasil pemberian Najamuddin, dan terjadilah 
penyerangan terhadap Polsek Cicendo, Bandung. Kemudian 
berlanjut dengan aksi pembajakan pesawat Garuda Woyla 
setelah sebelumnya kelompok ini berhasil menghabisi karir dan 
nyawa Najamuddin, yang tercatat resmi sebagai anggota 
inyelejen Bakin tersebut. 6 

Tahun 1983 Ali Moertopo mati mendadak, namun telah 
berhasil mengkader banyak penerus, beberapa kader Ali 
Moertopo yang paling menonjol dan paling berani adalah LB 
Moerdani, Try Soetrisno dan Hendro Priyono. 

Proyek awal LB Moerdani yang diajukan kepada 
Soehato, presiden saat itu, adalah menciptakan stimulus dan 
prakondisi atas segera diberlakukannya asas tunggal Pancasila 


6 Surat tugas menangkap Imran bin Muhammad Zein dari Komandan intel 
berhasil diambil anggota Jama’ah Imran sesaat setelah berhasil 
mengeksekusi intel Armed Najamuddin, kini bukti surat tugas tersebut ada 
dalam berkas pembelaan di tangan pengacara mereka Abdur Rahman 
Assegaf dalam bentuk copy. (Wawancara Abu Salamah di Cimahi, Bandung, 
Maret 2003). 



yang banyak mendapatkan tntangan dan penolakan kalangan 
tokoh Islam. 

Pancingan and pematangan oleh intelejen (BAKIN, 
BAIS, and BIA) maupun penguasa teritori militer terang- 
terangan menyulut kemarahan ummat melalui sikap kurang ajar 
and tak terpuji aparat teritori (angota babinsa koramil) yang 
mengguyurkan air comberan and sengaja masuk ke dalam 
Mushalla tanpa melepas sepatu laras kotornya, di samping 
mengumbar kalimat jorok and mennatang ummat Islam, yang 
mengakibatkan dibakarnya motor aparat teritori tersebut. 

Itulah yang berlanjut memicu terjadinya drama 
pembantaian ummat Islam di Tanjung Priok pada 12 September 
1984, yang diawali dengan penangkapan beberapa jama’ah 
mushalla, berlanjut dengan munculnya reaksi tokoh-tokoh 
PTDI (Perguruan Tinggi Dakwah Islam) kemudian disusul 
Amir Biki tokoh masyarakat Priok menggelar tabligh akbar 
yang panas, namun itulah yang diinginkan oleh rezim militer 
pada saat itu. 

Ummat Islam hanya bermodal semangat dan pekik 
takbir menuntut pembebasan anggota jama’ah mushalla yang 
ditahan aparat. Namun mereka dihadapi persiapan tempur 
dengan kekuatan penuh oleh rezim militer, langsung di bawah 
komando Pangdam Jaya Try Soetrisno dan Pangab LB 
Moerdani. Momentum ini dimanfaatkan untuk menciduk dan 
memenjarakan banyak aktivis Islam melalui penyusupan 
kembali informan dalam rangka inventarisasi jaringan aktivis 
Islam seluruh Indonesia. 

Pada tahun 1986 intelejen berhasil kembali 
menyusupkan agen sipilnya Syahroni dan Syafki mantan 



preman Blok M dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu 
Thayyib yang menghasilkan lebih 15 orang NII masuk penjara. 

Dimunculkannya kasus Lampung oleh rezim intel Orba 
Soeharto tahun 1989, bertujuan mengaitkan dan menjerat posisi 
Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Berdasarkan 
skenario intelejen Adullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir 
yang berada di Malaysia sedang terlibat rencana kekerasan di 
Indonesia dan telah terhubung melibatkan jaringan mujahidin 
internasional. Isu saat itu dikaitkan dengan nama Abdullah 
Abdu Rasul Sayyaf, salah satu tokoh dan petinggi mujahidin 
Afghanistan yang diberitakan siap memasok persenjataan atas 
permintaan dan jaminan Abdullah Sungkar di Malaysia. Inilah 
isu yang dibawa Nurhidayat dan Sudarsono, dua tokoh 
provokator kasus Talangsari, Way Jepara Lampung tahun 1988, 
hingga kini kedua tokoh provokator kasus Lampung tersebut 
masih tetap dalam lirik intelejen. 

Kasus Cihideung, Talangsari, Way Jepara, Lampung 
inilah salah satu kader intelejen militer yang masih bertugas di 
Kodam Jaya Letkol Hendro Priyono telah disiapkan menjadi 
Komandan Korem Garuda Hitam, Lampung untuk melibas 
habis gerakan Warsidi dan menjadikannya sebagai proyek 
prestasi menuju pangkat bintang. 

Pada tahun 1986 pihak intelejen juga merekrut kembali 
Prawoto alias Abu Toto, kader muda NII bentukan Ali 
Moertopo yang sedang buron and berada di luar negeri bagian 
Sabah Malaysia untuk disusupkan kembali ke dalam gerakan 
NII-LK (Lembaga Kerasulan) pada tahun 1987. Pada saat itu 
LK di bawah kepemimpinan Abdul Karim Hasan. 7 Masuknya 

7 Konon katanya melalui Jenderal purn. Himawan Sutanto yang saat itu 
menjadi atase atau pejabat KBRI di Malaysia and yang juga menggalang 



kembali Abu Toto 8 mampu mempengaruhi dan meyakinkan 
Abdul Karim Hasan untuk kembali kepada manhaj NII dan 
sekaligus menggerogoti dan membusukkan kultur, doktrin dan 
struktur organisasi serta sistem kewilayahan NII. 

Antara tahun 1996-1998 kebijakan intelejen militer 
memutar modus and haluannya, dari represif menjadi seakan 
toleran, bahkan terkesan sangat akomodatif. Padahal yang 
terjadi dalam global plan militer justru sedang menerapkan 
strategi dan jurus “menebar angin menuai badai” ke seluruh 
strata masyarakat. 

Gerakan intelejen yang ditebar ke segala arah, dalam 
rangka membuat kesan baik kepada publik tentang paradigma 
militer masa lalu yang sulit dielakkan dari kesan buruk dan 
absurditas maupun kekejaman politik otoritarian terhadap 
rakyat harus mulai ditinggalkan. Peta dan medan gerakan 
strategis intelejen militer sejak tahun 1996-2001 justru makin 
melebar baik radius maupun spektrumnya demi mempercepat 
proses pembusukan tersebut di seluruh gerakan Islam. 

Seluruh perlawanan ummat Muslim, baik yang dengan 
atau tanpa kekerasan semua di bawah pengetahuan, kontrol dan 


sisa-sisa lasykar NII untuk dikooptasi secara resmi oleh militer di Kodam 
Siliwangi tahun 1974-75 di mana saat itu Himawan Sutanto adalah selaku 
Pangdamnya. 

8 Arsip media massa tahun 1994, Harian Republika, Kompas dan Pos Kota 
memberitakan sikap dan statemen kedua petinggi ABRI saat itu, sekali pun 
posisi dan keberadaan Abu Toto tidak secara terang-terangan dilindungi atau 
dimunculkan. Tetapi justru pada tahun itulah keberadaan gerakan NII KW 
IX pimpinan Abu Toto memperoleh suntikan dana triliyunan rupiah untuk 
proyek pembangunan pesantren Al-Zaytun. Demikian pula kedekatan Abu 
Toto dengan ICMI dan BPPT. (Baca buku Pesantren Al-Zaytun Sesat? dan 
Al-Zaytun Gate karya Umar Abduh). 



provokasi intelejen militer. Kasus GPI, Woyla, Priok, 
Lampung, Aceh, Mataram, Pamswakarsa, Kupang, Ambon, 
Bom Istiqlal, Bom Natal dan Poso serta yang lain termasuk 
seperti perpecahan ormas dan partai Islam secara keseluruhan 
selalu melibatkan infiltran militer intelejen. 

Hal yang sama sekali tidak disadari ummat Muslim 
maupun para politisi Indonesia (demikian pula halnya oleh 
masyarakat internasional). Hanya dengan dalih dan statement, 
di antara mereka ada yang mengaku sebagai militer hijau atau 
militer yang selalu membawa nama dan suara serta jargon 
Islam atau keberpihakan moral terhadap problematika yang 
menimpa ummat serta mengajak bekerjasama menghadapi 
potensi ancaman musuh politik ideologis, maka kalangan Islam 
menjadi terpesona dan akhirnya terpedaya dan bersedia 
melakukannya. 

Selanjutnya rekayasa politik dan intelejen selalu 
memberi peluang dan kesempatan untuk memancing 
munculnya reaksi dalam bentuk sikap ketidak-puasan yang 
berujung perlawanan sporadis dari ummat Muslim, namun 
dengan serta merta dilibas secara tidak manusiawi dan sangat 
tidak seimbang. 

Melihat modus pembusukan dan penggembosan 
gerakan Islam oleh intelejen seperti ini, masyarakat sangat 
membutuhkan data dan informasi yang lebih banyak lagi baik 
dalam kuantitas maupun kualitas yang bersifat investigatif. 
Dengan harapan suatu saat akan ada pihak yang mampu 
merangkumnya menjadi sebuah buku yang lebih baik, lengkap 
dan akurat. 

Sekalipun tetap harus menyadari bahwa informasi data 
intelejen tersebut tidak mungkin bisa diperoleh oleh 



masyarakat, partai, pergerakan, apalagi masyarakat umum, 
dalam bentuk dokumen terulis, kecuali beberapa kasus atau 
person yang berhasil terangkap tangan, seperti kasus intelejen 
Najamuddin yang surat tugasnya berhasil didapatkan setelah 
beberapa anggota kelompok Imran sukses mengakhiri hidup 
Najamuddin. 




Baasyir, Bafana 
dan Intel 


K esaksian Faiz Abu Bakar Bafana melalui 

teleconference pada persidangan Ba'asyir menegaskan, 
bahwa "Kami hadir bersama ustadz dalam sebuah 
rapat dimana ustadz memerintahkan Mukhlas untuk membunuh 
Megawati." Rapat itu dipimpin oleh Ba'asyir. Namun, Mukhlas 
tidak bersedia karena merasa tidak mampu. 

Dan hingga kini Megawati pun masih hidup, masih bisa 
jalan-jalan ke mancanegara dengan uang rakyat, sementara itu 
rakyat banyak yang bertambah miskin tidak mampu beli beras, 
terpaksa menjual diri, atau bakar diri karena susah hidup. 

Sayangnya Ba'asyir tidak menanggapi kesaksian Faiz 
Abu Bakar Bafana itu, padahal banyak kelemahan di sana-sini. 
Mungkin sudah begitu aturan yang digariskan tim pembela 
hukum Ba'asyir. 

Faiz Abu Bakar Bafana bertemu Ba'asyir di Malaysia, 
ketika ustadz dalam pelarian dikejar-kejar setan Orde Baru. 
Benarkah Ba'asyir merupakan pimpinan JI (Jama'ah 
Islamiyah)? Memang benar. Lihat posting bcv-subject 
"Mengenai Jama’ah Islamiyah" yang dimuat milis Sabili pada 
Friday, November 15, 2002 7:21 AM. 



JI versi Ba’asyir (dan Sungkar) adalah pengajian biasa, 
bukan kelompok teroris. JI pimpinan Ba'asyir sama sekali tidak 
punya format kekerasan, tidak radikal. Sebagai kelompok 
pengajian biasa, mereka sama sekali tidak ada upaya sterilisasi 
terhadap kemungkinan masuknya virus intel seperti Faiz Abu 
Bakar Bafana. 

Kira-kira, samalah Faiz Abu Bakar Bafana itu dengan 
Abdul Haris, intel BIN yang disusupkan ke Majelis Mujahidin 
Indonesia. 

Dulu, Republika mengabarkan, setelah Idul Fitri 1423 H 
sosok Abdul Haris akan ditampilkan sebagai saksi (yang 
memberatkan) Ba'asyir. Namun entah mengapa, rencana itu 
tidak jadi. Mungkin karena kedok Abdul Haris sudah keburu 
dibuka oleh pers (lihat posting ber-subject "Al-Farouq, Intelijen 
dan Abdul Haris (1/7)" yang dipublikasikan pada Thursday, 
November 28, 2002 6:58 AM di milis Sabili). 

Perlu diketahui, Abdul Haris sudah menjadi agen dan 
menyusup ke berbagai gerakan Islam sejak badan intelijen 
masih bernama BAKIN yang salah satu periode 
kepemimpinannya dijabat oleh ZA Maulani. 

Faiz Abu Bakar Bafana sejak awal menampilkan kesan 
sebagai orang pergerakan biasa (bukan intel), yang bergabung 
ke dalam lingkaran Abdullah Sungkar + Abu Bakar Ba'asyir 
karena ghirah dan ukhuwah (begitulah kesan yang ia bentuk 
sejak awal). Apalagi didukung oleh sikap politik Mahathir yang 
menerima pelarian politik dari Indonesia. 

Sikap Mahathir berubah setelah ia bermusuhan dengan 
Anwar Ibrahim dan merasa terancam kedudukannya. Mulailah 
Faiz Abu Bakar Bafana menjadi antek Mahathir, yang 



selanjutnya secara lebih intensif menjadi planted agent di 
lingkaran Abdullah Sungkar + Abu Bakar Ba'asyir. 

Format JI AS+ABB tetap non radikal. Tidak ada kaitan 
dengan Hambali maupun Imam Samudera dll. Hambali 
memang pemah menjadi bagian dari JI AS+ABB sebelum 
akhirnya pecah tahun 1999. 

Karena group ABB non radikal, Hambali melepaskan 
diri. JI yang radikal selain kelompok Hambali adalah kelompok 
Abu Rushdan. Hambali sudah mati. Abu Rushdan sudah 
ditangkap. 

Mengenai Hambali, lihat posting bcv-subject "Antara 
Ba'asyir dan Hambali" yang dipublikasikan pada Wednesday, 
October 30, 2002 9:54 AM di milis Sabili, juga posting dengan 
subject sama yang dipublikasikan pada Thursday, October 31, 
2002 7:47 AM di milis yang sama. 

Kelompok Abu Rushdan tidak terlibat kasus Bali. 
Mereka radikal di Poso, Ambon dan Filipina, untuk membela 
kaum Muslimin yang teraniaya. Abu Rushdan ditangkap, meski 
tidak terlibat kasus Bali, karena ia pernah melindungi Sarjio 
(peracik amunisi kasus peledakan Bali, yang digunakan oleh 
kelompok Imam Samudera). 

Sarjio adalah salah seorang pelaku kasus Bali, yang 
pada saat dalam pelarian mendapat perlindungan dari Abu 
Rushdan. Abu Rushdan punya atasan bernama Abu Fatih yang 
hingga kini masih bebas (belum tertangkap). Namun demikian, 
Abu Rushdan menjadi motor penggerak dan policy maker bagi 
kelompoknya. 

Hambali selain berstatus sebagai WNI juga warga 
negara Malaysia. Ia orang dekatnya As'ad Waka BIN (orang 
kedua setelah Hendropriyono). Waktu Gus Dur Presiden, As'ad 



dikenal sebagai orang dekatnya Gus Dur. Hambali juga 
merupakan planted Agent yang ditanamkan ke dalam gerakan 
Islam radikal (baik di Indonesia maupun Malaysia). 

Sarjio salah seorang pelaku peledakan Bali sudah 
banyak memberi pengakuan kepada POLRI soal sumber- 
sumber bahan peledak untuk kasus Bali. Bahkan Sarjio siap 
jika POLRI meminta reka-ulang tentang bagaimana ia meracik 
bahan peledak untuk kasus Bali. RDX yang diracik Sarjio 
sumber-sumber (bahannya) berasal dari Mabes TNI. 

Karena itulah Sarjio tidak pernah dijadikan saksi untuk 
persidangan kasus Bali, misalnya untuk persidangan Amrozy. 

Harian Republika sering mengungkap keganjilan 
persidangan kasus Bali. Apakah ini ada kaitannya dengan 
dipecatnya 15 wartawan Republika oleh Erick Tohir baru-baru 
ini? 

M engapa begitu mudah Ba'asyir disusupi intel? 

Karena niat mereka cuma satu, yaitu 
mensosialisasikan perlunya penerapan syari'at 
Islam. Bahkan kepada intel sekalipun. Ini alasan yang pertama. 
Alasan kedua, karena pada umumnya mereka tidak punya 
sense dan knowledge yang memadai soal dunia (tipudaya) 
intelijen. 

Ketiga, banyak sekali dari kalangan "islam pergerakan" 
atau "islam garis keras" yang bisa dibeli. Seperti Nurhidayat 
(kasus Lampung 1989). 

Informasi berikut ini dapat menjadi salah satu penjelas 
bagi alasan ketiga di atas. Tentang, keterlibatan SBY + 
Mendagri dalam kasus pembunuhan Abu Jihad alias Teungku 
Fauzi Hasbi (putra Hasbi Geudong). Teungku Fauzi Hasbi 



adalah Intel Madya BIN. Teungku Fauzi Hasbi orang dekatnya 
As'ad (Waka BIN). Ia sudah menjadi "islam garis keras" 
sekaligus intel sejak lembaga itu bernama BAKIN. 

Menurut Irfan S. Awwas, dalam sebuah tulisannya di 
Jawa Pos edisi Jumat 27 Desember 2002, berjudul "ICG dan 
Kesaktian Sidney Jones", dikatakan bahwa: ".Laporan itu 
hanya menggambarkan bahwa Teungku Fauzi Hasbi (paman Al 
Chaidar) masih menjalin komunikasi dengan Syafrie hingga 
kini. Juga digambarkan Hasbi punya kedekatan dengan A.M. 
Hendropriyono (kepala BIN). Padahal, hingga kini dia masih 
menjalin kontak tidak saja dengan Syafrie, bahkan dengan 
banyak petinggi militer aktif dan purnawirawan seperti Wiranto 
(mantan Pangab). Karena itulah, GAM pimpinan Teungku 
Fauzi Hasbi oleh kalangan Islam pergerakan disebut GAM 
mac/e in militer untuk membedakannya dengan GAM lainnya." 

Pelaksana pembunuhan Abu Jihad adalah orang BIN, 
melibatkan beberapa nama tokoh "islam garis keras" seperti 
Nur Hidayat (provokator kasus Lampung 1989), Gaos Taufik 
(tokoh NII faksi Ajengan Masduki). Menurut Laporan ICG 8 
Agustus 2002, Gaos Taufik adalah pejuang Darul Islam dari 
Jawa Barat yang kemudian menetap di Medan; kemudian 
terkait gerakan Komando Jihad, menurut laporan dialah yang 
melantik Abdullah Umar dan Timsar Zubil. Kini, Gaos Taufik 
berdomisili di Tangerang. 

Teungku Fauzi Hasbi dibunuh di Ambon bersama 2 
rekannya dari NII faksi Ajengan Masduki. Mereka adalah 
Ahmad Saridup dan Agus Saputra. Keduanya bisa 
mendampingi Teungku Fauzi Hasbi atas rekomendasi dari 
Nurhidayat. 



Teungku Fauzi Hasbi dan dua rekannya sebelum 
dibunuh di Ambon, ditugaskan oleh BIN untuk melakukan 
bisnis di sana. Sersan Jawali (intel Kodim setempat) menjadi 
fasilitator selama Teungku Fauzi Hasbi (dan dua rekannya) 
menjajagi "bisnis" di Ambon. Padahal, Teungku Fauzi Hasbi 
ditugaskan ke Ambon untuk dibunuh. Dua orang yang 
menyertai Teungku Fauzi Hasbi dan ikut dibunuh merupakan 
"bonus" yang diberikan Nurhidayat karena keduanya 
merupakan seteru Nurhidayat. 

Saya berkesimpulan, masalah radikalisme (terorisme) 
yang berkaitan dengan gerakan Islam, tidak sepenuhnya murni. 
Lebih banyak merupakan rekayasa, dengan dua cara. 

Pertama, memasukkan intel seperti Bafana, Hambali, 
Al-Farouq, atau Abdul Haris ke dalam gerakan Islam, dan 
menjadikannya radikal, kemudian ditumpas. 

Kedua, membina orang dalam menjadi partner. Seperti 
yang mereka lakukan terhadap Teungku Fauzi Hasbi, 
Nurhidayat dan Sudarsono (provokator kasus Lampung 1989), 
Ahmad Yani Wahid (petinggi Jama’ah Imran, Kasus Cicendo 
Bandung, dan Pembajakan Woyla). 

Tujuannya, adalah menciptakan hantu teroris yang 
berasal dari "islam garis keras" atau "islam fundamentalis" atau 
"islam radikal". 

Lihat juga posting di milis Sabili ber -subject 
"Menciptakan Hantu Teroris" yang ditayangkan pada Sunday, 
November 10, 2002 6:36 AM. 

Nampaknya Ba'asyir memang diplot untuk menjadi 
"hantu teroris". Melalui kesaksian Bafana, nampaknya Ba'asyir 
akan tetap mendekam di tahanan, dan barangkali, kelak akan 
dinobatkan sebagai Bapak Teroris Islam Garis Keras. 



Sehingga negara ini punya ancaman serius, terutama 
dari Islam Garis Keras melalui sosok Ba'asyir. Dengan 
demikian, yang paling afdhol untuk menjalankan roda 
pemerintahan adalah MILITER. 

Sumber: 

From: "Syaifuddin Bidakara " < syaifuddin-bidakara@operamail.com > 

Sent: Wednesday, July 02, 2003 8:00 AM 
Subject: [Sabili] Baasyir, Bafana dan Intel 



02 

Mengenai 
Jama’ah Islamiyah 

Oleh Umar Abduh* 

J AMAAH Islamiyah memang bukan organisasi maya, 
keberadaannya memang riil setidaknya sejak 1979, 
berpusat di Mesir, dan merupakan pecahan dari Ikhwanul 
Muslimin (IM) pimpinan Hasan Al Banna. 

IM sendiri merupakan harakah Islamiyah yang sudah 
ada sejak tahun 1936. Tahun 1947-1948 IM berhasil mengusir 
pendudukan Inggris, Perancis dan Rusia di kawasan Terusan 
Suez. Militansi IM membuat pemerintah Mesir mendapat 
tekanan internasional. Akibatnya, pemerintah Mesir banyak 
melakukan tindakan represif terhadap aktivis IM, antara lain 
melakukan pembunuhan terhadap para pemimpin IM seperti 
Hasan Al Banna ditembak mati tahun 1950-an, Abdul Qadir 
Audah dihukum mati (1954) dan Sayyid Quthb dihukum 
gantung pada tahun 1965. 

Jama'ah Islamiyah dibawah pimpinan Omar Abdur 
Rahman pernah dituduh pemerintah AS sebagai dalang 
peledakan gedung WTC di Kenya tahun 1998. Menurut 
Amerika, aksi itu dilakukan bekerja sama dengan Osamah bin 
Laden. Setelah sebelumnya, sekitar 1997 pernah pula dituding 



sebagai dalang peledakan pangkalan militer AS di Saudi Arabia 
dan kamp militer AS Libanon. 

Metodologi dan sistem Jama’ah Islamiyah telah banyak 
diadopsi atau setidaknya memberi inspirasi bagi banyak 
harakah Islamiyah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan 
kawasan ASEAN. 

Gerakan DI/TII pimpinan Sekarmadji Maridjan 
Kartosoewirjo (SMK) merupakan gerakan politik Islam militan, 
yang sistem dan metodologinya berbeda dengan IM maupun 
pecahannya (Jama’ah Islamiyah). Namun, salah satu faksi neo 
DI/TII (atau NII) pasca SMK di bawah pimpinan Abdullah 
Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir mulai mengadopsi atau 
terinspirasi oleh metodologi dan sistem ini sekitar tahun 1995. 

Meski Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir 
pernah memberikan Tadzkirah -sebagaimana Djohan Effendi 
mengutip majalah Nidaul Islam (lihat KOMPAS edisi 7 
November 2002)— yang semangatnya sama dengan Ja’ma’ah 
Islamiyah, bukan berarti mereka secara formal-struktural 
adalah bagian dari Jama'ah Islamiyah pimpinan Omar Abdur 
Rahman. Apalagi sampai menjuluki mereka sebagai Imam 
(spiritual) gerakan Jama'ah Islamiyah untuk kawasan Indonesia. 

Meski Jama'ah Islamiyah pimpinan Omar Abdur 
Rahman dituduh oleh Amerika pernah bekerja sama melakukan 
aksi peledakan terhadap fasilitas militer AS, institusi itu sama 
sekali bukan bagian dari struktur Al Qaedah. Karena nama Al 
Qaedah sendiri baru dimunculkan AS tahun 2000 pasca tragedi 
Oklahoma yang ternyata dilakukan oleh Timothy Mc Veigh 
(warga negara AS) bukan Al Qaedah. Hingga kini tuduhan 
keterlibatan Al Qaedah terhadap tragedi Oklahoma tidak dapat 
dibuktikan, begitu pula tuduhan adanya hubungan antara Al 



Qaedah dengan Jama'ah Islamiyah pimpinan Omar Abdur 
Rahman. 

Sampai sejauh ini Abdullah Sungkar dan Abu Bakar 
Ba'asyir memang tidak pernah menjadi bagian dari harakah 
Jama'ah Islamiyah pimpinan Omar Abdur Rahman. Kesamaan 
dalam ideologi, meotodologi, sistem berharakah dan kesamaan 
dalam memposisikan syari'at Islam di dalam konteks kehidupan 
bernegara, adalah hal yang lu mr ah dan sama sekali tidak bisa 
dikatakan adanya kaitan dari sebuah jaringan. 

Metodologi dan sistem berharakah serta bagaimana 
memposisikan syari'at Islam di dalam konteks kehidupan 
bernegara, tidak bisa dikaitkan dengan dengan "sikap keras" 
yang mewarnai perjalanan harakah Jama’ah Islamiyah 
pimpinan Omar Abdur Rahman ataupun sikap berani Osamah 
bin Laden terhadap Barat (Amerika). 

Dapatkah kita mengatakan bahwa TNI atau ABRI 
adalah institusi tukang jagal dengan merujuk kepada kasus 
pembantaian tahun 1984 (kasus Tanjung Priok 12 September 
1984)? Tentu tidak tepat. Karena, meski doktrin, metodologi 
dan sistem yang digunakan sama, akan menghasilkan "warna" 
yang berbeda, mengingat "warna" tadi lebih banyak ditentukan 
oleh siapa pemimpinnya dan kepentingan politik yang 
menyertainya. 

Dapatkah kita menyebut adanya sebuah jaringan antara 
TNI (atau ABRI) kita dengan militer AS, karena sistem dan 
metodologi yang digunakan sama? Dapatkah kita membebani 
dosa militer AS yang memborbardir Afghanistan kepada milter 
kita, hanya karena banyak perwira kita yang bersekolah di AS? 

Lihatlah bagaimana santun dan teduhnya komunitas 
Partai Keadilan (PK) yang elemen terbesarnya adalah 



komunitas Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin versi Indonesia), yang 
juga mengadopsi atau terinspirasi oleh metodologi dan sistem 
berharakah Ikhwanul Muslimin Mesir pimpinan Syaikh Sa'id 
Hawwa'. Padahal metodologi dan sistem berharakah yang sama 
juga ditemukan pada Jama'ah Islamiyah pimpinan Omar Abdur 
Rahman. 

Selain PK, yang sewarna dengan itu adalah SHT 
(Shabab Hizbut Tahrir), Ponpes Hidayatullah di Kalimantan 
Timur, Ponpes Ngruki, dan ponpes-ponpes lain yang dikelola 
oleh para alumninya. Dan masih banyak lagi termasuk KPPSI 
(Komite Persiapan Penegakan Syari'at Islam) di Sulawesi 
Selatan, atau MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang lahir 
Agustus 2000 di Yogyakarta. Kalau dikatakan bahwa JI ada di 
Indonesia, secara sistem dan metodologis bisa dimengerti. 
Namun secara riil dan formal- struktural sama sekali sangat 
menggelikan dan terlalu naif. 

Meski sistem dan metodologinya sama, namun antara 
SHT, MMI, Hidayatullah, PK, KPPSI, dan Ngruki, tidak punya 
kaitan formal-struktural, selain jalinan iman semata. Begitu 
juga dengan KMM (Kumpulan Mujahidin Malaysia) pimpinan 
Abu Jibril juga tidak ada pertalian formal-struktural meski Abu 
Jibril merupakan salah seorang penggagas dan bahkan ikut 
menjabat pada Lajnah Tanfidziyah MMI. 

Yang ada kaitan dengan Fathurrohman Al-Ghozi dan 
Hambali adalah KMM pimpinan Abu Jibril. Secara struktural 
Abu Jibril sudah pisah dengan Abdullah Sungkar (dan Abu 
Bakar Ba'asyir) sejak tahun 1995 ketika Sungkar menyatakan 
lepas dari DI/TII (NII) dan mengadopsi manhaj IM atau 
Jama'ah Islamiyah pimpinan Omar Abd. Rahman. 



Kenyataannya, semua institusi itu sama sekali tidak 
mempunyai kaitan formal- struktural, apalagi mempunyai grand 
design tertentu yang harus dioperasikan secara serentak dan 
terpadu. Kesemua institusi itu sama sekali independen dan 
tidak bisa disamakan (digeneralisir) sebagai JI di kawasan Asia 
Tenggara. 

Semua kesesatan informasi ini bersumber dari analisa 
dan investigasi Sidney Jones Direktur ICG (Interenational 
Crisis Group) untuk Indonesia, yang tanpa menggunakan 
ukuran yang jelas berusaha mengkaitkan semua institusi itu 
sebagai JI bahkan mengkaitkan kegiatan masa lalu Abdullah 
Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir sebagai program JI. Padahal 
istilah JI baru muncul di dalam mang persidangan khususnya 
persidangan Abdullah Sungkar (1979) saja dan tidak pada 
persidangan lainnya. Nama JI sama sekali tidak pernah 
digunakan sebagai nama institusi (gerakan) oleh mereka yang 
disangkakan. 

* Mantan Napol kasus Imran/Cicendo/Woyla, penulis buku "Al 
Zaytun Sesat" dan "Al Zaytun Gate". 


Sumber: Berita Buana, Rabu, 13 November 2002, halaman 5 



03 

Jejak Intelijen 
di Balik Al-Farouq 

S EPTEMBER lalu, majalah Time memuat laporan utama 
yang menggemparkan: Umar al-Faruq mengaku kepada 
interogator Dinas Rahasia Amerika (CIA) bahwa ia 
adalah pejabat Al-Qaidah di Asia Tenggara yang beroperasi di 
Indonesia. Menurut dokumen CIA, Faruq mengaku terlibat 
dalam kasus bom Natal 2000 dan berencana membunuh 
Presiden Megawati Soekamoputri atas perintah Abu Bakar 
Ba’asyir, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia. 

Banyak misteri dalam pengakuan itu. Siapa sebenarnya 
Al-Faruq? Kenapa Badan Intelijen Negara (BIN), yang 
menangkapnya atas tuduhan pelanggaran imigrasi, membiarkan 
dia jatuh ke tangan CIA? Kenapa Al-Faruq tidak diadili di sini 
jika benar ia telah membuat kejahatan besar di Indonesia? 

Kenapa pula Abdul Haris, seorang aktivis Majelis 
Mujahidin Indonesia yang ditangkap bersama Al-Faruq, dilepas 
begitu saja? Benarkah dia tokoh yang disusupkan BIN ke 
dalam Majelis Mujahidin Indonesia untuk menjaring Ba’asyir 
dan kawan-kawan? Berikut ini investigasi TEMPO. 

DI atas latar warna biru toska, gambar burung garuda 
dikitari bintang-bintang kecil terpampang pada kulit muka buku 
kecil itu. Mereka yang kerap berhubungan dengan dunia 



intelijen akan mudah mengenalinya sebagai simbol Badan 
Intelijen Negara (BIN). Dan pada bagian bawah sampul itu 
tercantum kata-kata "Sangat Rahasia". 

Buku, kecil setebal 12 halaman itu, yang disalin isinya 
pekan lalu oleh wartawan TEMPO, memang memuat informasi 
yang tidak banyak diketahui umum. Sebagian isinya 
membeberkan rencana jahat sekelompok teroris untuk 
membunuh Megawati Soekarnoputri sebanyak dua kali, yakni 
ketika Megawati masih wakil presiden dan setelah menjadi 
presiden. 

Seperti kita ketahui, pembunuhan itu tidak pernah 
terjadi. Namun, buku kecil itu bercerita lebih banyak dari 
sekadar plot dan skenario. Dia juga menghadirkan aktor-aktor. 

Salah satu aktor adalah Syawal alias S alim Yasin alias 
Abu Seta, pria asal Makassar yang disebut dalam buku itu 
pernah berjihad di Afganistan. Dialah salah satu teroris yang, 
menurut buku itu, berencana membunuh Megawati pada Mei 
1999. Adalah Syawal pula orang pertama yang dikontak ketika 
Umar al-Faruq alias Mahmud bin Assegaf, pria asal Kuwait itu, 
datang ke Indonesia. 

Dan kisah selebihnya sudah menjadi rahasia umum. 
Majalah Time pada edisi 23 September 2002 memuat laporan 
utama yang mengguncangkan, membuat kisah yang semula 
hanya menjadi kasak-kusuk lingkungan intelijen itu terkuak ke 
kalangan publik. Mengutip antara lain dokumen Dinas Rahasia 
Amerika (CIA), majalah itu menulis pengakuan lengkap Al- 
Faruq, yang pernah tercatat sebagai penduduk Desa Cijambu, 
Kecamatan Cijeruk, Jawa Barat. Febih dari sekadar operator, 
menurut Time, Al-Faruq adalah petinggi Al-Qaidah untuk 
kawasan Asia Tenggara. 



Di samping terlibat dalam dua kali rencana 
pembunuhan terhadap Megawati, menurut majalah itu Al-Faruq 
mengaku terlibat dalam peledakan bom di sejumlah kota di 
Indonesia pada malam Natal tahun 2000 serta merencanakan 
peledakan sejumlah sarana milik AS di Singapura dan 
Indonesia. Semua aksi ini ia lakukan dengan bantuan Abu 
Bakar Ba'asyir, pemimpin Pondok Pesantren Ngruki, Solo. 

Nyanyian Al-Faruq yang direkam oleh CIA itu segera 
mendatangkan hasilnya di Jakarta. Pengakuan itu membuat 
polisi punya alasan menahan Abu Bakar Ba'asyir, Ketua 
Majelis Mujahidin Indonesia yang juga disebut-sebut sebagai 
pemimpin spiritual Jamaah Islamiyah. Belakangan, polisi 
Indonesia memang membantah penangkapan Ba'asyir melulu 
berdasar nyanyian Al-Faruq, tapi berdasar pula kesaksian warga 
Malaysia yang ditahan pemerintah Singapura, Faiz bin Abu 
Bakar Bafana (lihat TEMPO 18 November 2002). 
Bagaimanapun, Faruq menjadi orang pertama yang "bernyanyi" 
tentang Ba'asyir dan membuat ustad ini ditahan polisi pada 18 
Oktober lalu, beberapa hari setelah ledakan bom hebat 
mengguncang Legian, Bali. 

Tapi, siapa sebenarnya Al-Faruq, yang menurut buku 
kecil BIN itu kini ditawan di pangkalan militer milik Amerika 
Serikat di Baghram, Afganistan? 

Penelusuran TEMPO atas tokoh ini lebih banyak 
memunculkan pertanyaan baru ketimbang membuatnya jernih. 
Sejumlah dokumen resmi menyebut dia lahir di Indonesia dan 
warga negara negeri ini. Sumber lain menyebut dia lahir di Irak 
atau Kuwait dan memiliki paspor Kuwait. Yang hampir pasti, ia 
memiliki kartu tanda penduduk, akta kelahiran, dan kartu 



keluarga di empat lokasi: Ambon, Makassar, Jakarta, dan Bogor 
(lihat Dasamuka yang Suka Menyaru). 

Siapa pun Al-Faruq, ia kini populer sebagai teroris besar 
dengan rencana yang sangat jahat, seperti ingin membunuh 
presiden serta belasan orang dalam kasus bom Natal. Tapi 
kenapa dia kini berada di dalam tahanan Amerika, bukan di 
balik jeruji Indonesia sehingga bisa menjawab sebagian dari 
misteri hidupnya? Bukankah ia ditangkap di Indonesia, oleh 
aparat Indonesia? 

Al-Faruq diciduk pada 5 Juni 2002 di Masjid Raya 
Bogor. Alasan resmi penangkapannya adalah pelanggaran 
dokumen imigrasi. 

Menteri Kehakiman Yusril Izha Mahendra menjelaskan 
dalam pertemuan dengan anggota DPR Oktober silam, Faruq 
dideportasi karena, sebagai orang Timur Tengah yang mengaku 
warga negara Indonesia, ia tak bisa menunjukkan surat bukti 
kewarganegaraan Indonesia. Al-Faruq dihijrahkan ke Malaysia 
dengan pesawat Malaysia Airlines beberapa saat setelah ia 
dibekuk. Dan Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang 
Hubungan Masyarakat, mengatakan Al-Faruq dideportasi ke 
Malaysia atas permintaannya sendiri (lihat Misteri Hari 
Terakhir). 

Malaysia, Amerika Serikat, Guantanamo, Kuba. Atau 
Baghram, Afganistan. Entah di mana Al-Faruq sesungguhnya 
berada sekarang. Sebab, kisahnya ke Malaysia pun boleh jadi 
cuma fiksi. Seorang pejabat BIN kepada TEMPO beberapa 
waktu lalu mengatakan: "Faruq sebetulnya tidak diekstradisi ke 
Malaysia, tapi langsung diangkut ke Amerika Serikat," ujarnya. 

Aparat BIN, menurut sumber itu, mencap sendiri paspor 
Faruq seperti seolah-olah dia pergi ke Malaysia. "Dengan 



begitu, orang akan yakin dia terbang dulu dari Indonesia, ke 
Malaysia, baru ke Amerika Serikat," katanya. Padahal, pada 
kenyataannya Al-Faruq diangkut langsung ke sebuah pesawat 
militer Amerika yang sudah menunggu di Bandara Halim 
Perdanakusumah. Prosedur istimewa? Tidak sepenuhnya begitu 
dan toh ini bukan pertama kali. 

Sejumlah media asing, majalah Time edisi 18 Maret 
2002, misalnya, menyebut adanya kerja sama yang baik antara 
intelijen Indonesia dan Amerika dalam "perang melawan teror". 
Al-Faruq bukanlah hasil tangkapan Indonesia pertama yang 
kemudian disetor ke Amerika. Harian The Australian menulis 
tentang seorang Pakistan bernama Hafiz Muhammad Sasa Iqbal 
yang ditangkap dalam operasi intelijen Indonesia pada 9 
Januari 2002 dan "dideportasi" ke Mesir atas permintaan CIA. 

Dalam penjelasan resminya kepada Koran Tempo (edisi 
25 Februari 2002), Kapolri Da'i Bachtiar mengatakan: "Iqbal 
adalah titipan dari pihak imigrasi yang pernah diperiksa polisi. 
Dia juga disebut-sebut punya kaitan dengan jaringan Al-Qaidah 
sehingga dideportasi ke luar negeri." Tapi pengakuan Faruq 
membuat kisah pengirimannya ke luar negeri menjadi lebih 
kontroversial dibanding Iqbal. Banyak pihak, termasuk media 
massa, mempersoalkan mengapa Indonesia menyerahkan 
begitu saja orang yang dituding melakukan kejahatan besar di 
Indonesia ke tangan orang asing. 

Profesor emeritus Daniel S. Lev, bekas dosen 
Universitas Washington di Seattle dan seorang pengamat senior 
masalah Indonesia, termasuk yang memandang aneh pelepasan 
Al-Faruq itu. "Semestinya ia diadili di Indonesia," kata Lev, 
yang pernah mengkaji sistem hukum Indonesia serta 
mendalami masalah hak asasi manusia dan perbandingan 



politik. "Bukankah perbuatan pidana yang dituduhkan itu 
terjadi di Indonesia, bukan Amerika? Atas dasar apa dia 
diserahkan ke Amerika?" 

Lev mengatakan, dia mengendus ada permainan tapi 
tidak tahu persis permainan apa. "Saya tanya ke orang-orang di 
Washington. Tapi mereka juga mengaku tidak tahu," ujarnya. 
"Pemerintahan Bush memang aneh. Tetapi yang lebih aneh lagi 
adalah Jakarta, mengapa pemerintah rela begitu saja 
menyerahkan orang ini." 

Jangankan Daniel Lev. Mira Agustina, istri Al-Faruq, 
pun mengaku penuh diliputi tanda tanya ketika suaminya tiba- 
tiba menghilang begitu saja sejak 4 Juni lalu. 

Subuh pada 5 Juni, dua orang berbadan tegap serta 
berjaket hitam yang mengaku aparat imigrasi memberondong 
masuk rumahnya di Cijeruk, Bogor. Menurut Oman Komariah, 
ibu Mira, ada sekitar 20 pria dengan perawakan dan pakaian 
serupa yang menunggu di halaman rumah. "Mereka minta 
diantar ke kamar Faruq dan akan segera membawa Al-Faruq," 
kata Oman. Tapi Al-Faruq tidak ada. Para tamu akhirnya hanya 
membawa sejumlah barang dan berkas milik tuan rumah. 

Ketua rukun warga setempat, Ukus Sewaka, yang 
datang mendekat karena mendengar suara gaduh, mencoba 
menanyakan identitas para tamu asing itu, tapi dijawab singkat 
dan sangar: "Dari imigrasi pusat!" Tatkala Ukus mau mencatat 
nomor mobil mereka -empat Mitsubishi Kuda dan satu Panther 
asal Jakarta dan Bogor— mereka mencegahnya. Itu membuat 
Ukus mengerut dan tak berani ikut masuk ke rumah Mira ketika 
terjadi penggeledahan. "Abdi sieun (saya takut)," ujarnya. 

Muchyar Yara dari BIN mengatakan penggerebekan dan 
penangkapan Al-Faruq dilakukan lembaganya bersama aparat 



imigrasi. Tapi, kata Yara, BIN-lah yang melakukan koordinasi. 
"Penangkapan itu memang kami yang mengarahkan," tuturnya. 
Alasan keimigrasian bisa jadi bukan dalih utama. "Kami 
memperoleh informasi awal dari intelijen Filipina, Singapura, 
dan Amerika bahwa ada orang asing di kampung (Cijambu, 
Kecamatan Cijeruk, Bogor) yang terlibat dalam jaringan 
terorisme," Yara melanjutkan. 

Menteri Koordinator Polkam, Susilo Bambang 
Yudhoyono, membenarkan kesaksian Muchyar Yara. Dalam 
pernyataannya di Bandung, 20 September lalu, Yudhoyono 
mengatakan: "Pemerintah tahu pasti rencana dan penangkapan 
Al-Faruq. Sebab, pekerjaan itu dilakukan intelijen Indonesia 
setelah melakukan investigasi untuk memerangi terorisme." 

Al-Faruq, menurut Muchyar Yara, ditangkap oleh suatu 
tim di bawah komando Mayor Andika, seorang perwira 
Kopassus yang diperbantukan ke BIN. Kebetulan atau tidak, 
sang Mayor adalah menantu Kepala BIN Letnan Jenderal 
(Pum.) Hendropriyono. Dengan kata lain, ini lebih mirip 
operasi polisi. BIN rupanya tidak hanya melakukan 
pengumpulan data intelijen, tapi juga menangkapi orang - 
sebuah praktek yang ganjil. 

Masih ada kejanggalan lain. Pihak imigrasi sendiri 
membantah terlibat. Direktur Jenderal Imigrasi Iman Santoso, 
yang tengah berada di Jerman saat itu, mengatakan tidak tahu 
masalah dan alasan penangkapan. Al-Faruq. Sementara itu, 
Kepala Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Ade Endang 
Dahlan juga menegaskan pihak imigrasi tidak mengetahui 
ataupun terlibat dalam penangkapan tersebut. 

Kepolisian Republik Indonesia memang belakangan 
mengirimkan dua petugasnya ke Afganistan untuk memeriksa 



Al-Faruq guna kepentingan penyidikan terhadap Abu Bakar 
Ba'asyir. "Tapi mereka manbantah keterlibatannya dalam 
penangkapan Al-Faruq sendiri. "Tidak pemah ada penangkapan 
itu," kata Kepala Humas Polri Brigjen Saleh Sa'af kepada 
Tempo News Room, awal Juli lalu. Belakangan, seorang 
perwira tinggi di Mabes Polri membisikkan hal ini kepada 
TEMPO: "BIN tak melibatkan polisi." Menurut pejabat itu, 
setelah ditangkap, BIN menyerahkan Faruq ke polisi. Namun 
polisi tak bisa menemukan bukti pelanggarann.ya kecuali soal 
pemalsuan dokumen imigrasi itu. Lalu, soal deportasi ke 
Amerika itu? 

"Penyerahan ke Amerika itu tidak lepas dari desakan 
negara adikuasa tersebut,” kata sumber di Polri tersebut. "Dan 
ini membuktikan bahwa nuansa politis dari kasus ini semakin 
jelas." Tekanan politis ini pula yang barangkali membuat BIN 
akhirnya merelakan jeri.h-payah memburu Al-Faruq yang 
mereka lakukan dilakukan melalui penyadapan jaringan telepon 
internasional (lihat Jejak Seluler Meringkus Faruq). 

Gunjingan terhadap BIN makin keras ketika sebuah 
fakta lain muncul dalam penangkapan Faruq. Seorang pria 
bernama Abdul Haris dibekuk bersamanya, tapi kemudian 
dibebaskan. Kepada TEMPO, yang sempat mewawancarainya, 
Haris mengaku persangkutannya dengan Faruq hanya karena 
urusan paspor. "Saya mengenal Faruq karena membantu 
menguruskan paspor isterinya, Mbak Mira," ujarnya. 

Namun, penelusuran TEMPO menemukan indikasi kuat 
bahwa dia bukan sekadar "calo paspor": dia orang BIN yang 
ditanam dalam Majelis Mujahidin Indonesia. 

Dalam Majelis Mujahidin, Haris duduk sebagai 
pengurus di Departemen Hubungan Antar-Mujahid —sebuah 



posisi strategis yang mengatur hubungan antar-organisasi Islam 
di dalam dan di luar negeri. Namun, pada saat yang sama, 
bahkan Polri sendiri mengatakan Haris adalah anggota BIN. 
Dalam pernyataan resminya yang dilansir oleh situs 
Liputan6.com, Kapolri Da'i Bachtiar menyatakan Haris adalah 
orang BIN yang menemani dua polisi berangkat ke Afganistan 
untuk menemui Al-Faruq. Berita ini juga disiarkan beberapa 
kali oleh SCTV. 

Kepada TEMPO, Haris sendiri membantah dia orang 
BIN. Demikian pula Muchyar Yara, yang mendukung 
pernyataan Haris dalam soal itu. Tapi, Yara mengatakan Haris 
adalah kawan lama Hendropriyono: sebuah fakta yang 
membuat kalangan Majelis Mujahidin bisa saja memiliki alasan 
untuk curiga. 

Maklumlah, ada bebacapa "kebetulan” yang 
menyusahkan organisasi itu. Abdul Haris menghilang dari 
pertemuan dan kegiatan Majelis Mujahidin bersamaan dengan 
hilangnya Faruq. Ihwal menghilangnya Haris sebenarnya 
disadari oleh aktivis MMI. "Sudah sekitar enam bulan Haris 
tidak aktif. Kami memang mendapat kabar bahwa dia seorang 
agen yang disusupkan, tapi kami tidak gegabah 
mempercayainya sebelum diklarifikasi, "ujar Irfan S Awwas, 
Ketua Tanfidziyah MMI. 

Sementara itu, Faruq, yang ternyata disetor kepada CIA, 
kini menyanyikan pengakuan yang menyudutkan Ba'asyir dan 
membuatnya ditahan polisi. "Haris itu orangnya baik dan 
humanis, tapi saya tak mengira dia itu munafik," kata Elang 
Lesmana Ibrahim, seorang aktivis Islam dari Bandung, yang 
beberapa kali bertemu Haris (lihat Donnie Brasco dari Ciputat). 



Sejarah intelijen Indonesia memang mencatat 
kelompok-kelompok radikal Islam, sebagai salah satu "kerikil 
dalam sepatu" yang terus-menerus ada. Dan bukan hal baru 
kalangan intelijen menanam agennya ke organisasi Islam 
dengan tujuan melumpuhkannya. "Sejak masa Orde Baru, 
kelompok Islam selalu dipermainkan," kata Daniel Lev. "Dari 
sudut pandang intelijen sepertiBIN dulu Bakin— orang-orang 
radikal Islam berguna sekali karena gampang digerakkan dan 
dipakai." 

Hendropriyono sendiri bukan sekali ini bersilangan 
riwayat hidupnya dengan gerakan radikal Islam. Pada akhir 
dasawarsa 1980, ketika masih menjadi Komandan Korem di 
Lampung, dia memimpin operasi menumpas Gerakan Warsidi 
sebuah kelompok yang dituduh ingin mendirikan negara Islam. 
Darah tumpah di situ, dan Human Rights Watch menyebutnya 
sebagai "The Butcher of Lampung". 

Kini, Hendropriyono, yang belakangan ini dikenal 
akrab dengan sejumlah tokoh Islam, bukan lagi tentara 
lapangan. Dia memimpin BIN, lembaga intelijen yang 
belakangan ini memperoleh kekuasaan besar setelah keluarnya 
Perpu Anti-terorisme pada 18 Oktober lalu. 

Hendropriyono tak bersedia memenuhi permintaan 
wawancara TEMPO. Muchyar Yara, yang diminta 
mewakilinya, menolak tuduhan BIN atau Hendropriyono 
menanam Haris untuk menjaring Ba'asyir. “Tapi, jika benar 
Haris orang BIN, apakah itu sesuatu yang salah?" kata 
Muchyar. "Bukankah yang dimata-matai itu orang asing yang 
bikin kekacauan, di Poso, Ambon, dan sebagainya?" (lihat 
"Haris Teman Lama Hendro") 



Al-Faruq yang dimata-matai bisa saja orang asing. Dan 
Al-Faruq, melalui sebuah rekaman video yang diperoleh BIN, 
barangkali benar pernah melatih orang-orang Islam dalam 
sebuah kamp di Poso. Tapi, Ba'asyir adalah warga negara 
Indonesia yang sudah terkena getah dari pengakuan Al-Faruq di 
depan CIA. 

Ini bahkan bukan sekadar nasib seorang Ba'asyir yang 
tudingan terhadapnya masih harus dibuktikan di pengadilan 
kelak. Ini menyangkut hendak dikemanakan badan intelijen 
Indonesia. 

Beberapa hari setelah ledakan dahsyat di Legian, Bali, 
pemerintahan Megawati mengeluarkan peraturan pemerintah 
tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Peraturan itu 
memberikan peran lebih besar lagi kepada Kepala BIN, yang 
pada pemerintahan Megawati memiliki posisi setara menteri 
kabinet. Dan kini, setelah Bali, Megawati memberi BIN 
wewenang untuk melakukan koordinasi atas semua badan 
intelijen yang ada di berbagai departemen dan kepolisian. 

Posisi BIN juga bisa lebih kuat lagi mengingat data 
intelijen yang dijaring melalui kegiatan mata-mata, seperti 
penyadapan dan penyusupan, kini bisa diterima sebagai alat 
untuk menahan seorang tersangka teroris, meskipun keabsahan 
data itu harus diuji oleh pengadilan. 

Setelah serangan teror di Bali, meski semula enggan, 
Indonesia akhirnya harus terlibat dalam barisan perang 
melawan terorisme yang dipimpin Amerika. Banyak negara lain 
juga melakukannya dengan, antara lain, mengadopsi undang- 
undang anti-terorisme. Namun, seperti dilaporkan Human 
Rights Watch awal tahun ini, "perang melawan terorisme" 



ternyata banyak pula disalahgunakan oleh rezim-rezim otoriter 
untuk menindas oposisi dan para pengkritik. 

Membuat badan intelijen yang punya akuntabilitas 
adalah salah satu cara menghindari ekses seperti itu. 

Sumber: Majalah TEMPO Edisi 25 November - 1 Desember 
2002, hal. 69 - 87. 



04 

Donnie Brasco 
dari Ciputat 

B adan Intelijen Negara diduga kuat "menanam" seorang 
intelnya dalam Majelis Mujahidin Indonesia yang 
dipimpin Abu Bakar Ba'asyir. Berikut ini kisah 
penyusupan itu. 

HUJAN jatuh di kawasan Ciputat, Tangerang, dan lelaki 
itu baru saja hendak meninggalkan rumah. "Anda perlu dengan 
saya? Boleh, tapi sebentar saja, ya," katanya. Ia sungguh 
santun. Badannya sedikit besar. Kulitnya putih. Di keningnya 
membayang titik hitam tanda bekas sujud. Sore itu ia 
mengenakan songkok berwarna gelap dan baju takwa berkelir 
cokelat. Tak jauh dari tempat ia berdiri, tampak dua orang 
perempuan berjilbab: yang seorang istrinya dan yang seorang 
lagi anak gadisnya. Di luar rumah, sebuah mobil Kia Visto siap 
berangkat. "Sebetulnya kami sudah ada acara di tempat lain," 
katanya. 

Di teras rumah yang lumayan besar, ia bercerita tentang 
dirinya. Seorang lelaki biasa yang sepintas tak istimewa. 
Muhammad Abdul Haris, 50 tahun: seorang pengurus Majelis 
Mujahidin Indonesia (MMI) yang mencari nafkah sebagai guru 
dan pekerja swasta. Adapun MMI adalah organisasi Islam yang 



diketuai Abu Bakar Ba'asyir ustad pemimpin Pesantren Ngruki, 
yang menjadi sorotan karena dituding menjadi simpul terorisme 
di Indonesia. 

Lebih dari sekadar aktivis, setengah tahun terakhir Haris 
menjadi bahan gunjingan di kalangan penggiat organisasi 
massa Islam. Tamsil Linrung, pengurus Partai Amanat Nasional 
yang pernah ditahan di Filipina karena tuduhan membawa bom 
misalnya, mencurigai dia sebagai intel BIN. 

Tak cuma menyusup ke MMI, Haris menjadi kunci bagi 
tertangkapnya Umar al-Faruq, yang kini menjadi tahanan AS 
karena dituduh memimpin jaringan Al-Qaidah di Asia Tenggara 
termasuk Indonesia. Haris pula yang mengantar tim investigasi 
polisi yang mewawancarai Faruq di Afganistan, setelah majalah 
Time menulis berita tentang Faruq pada September lalu. Meski 
mati-matian dibantah Haris dan BIN, peran Abdul Haris ini 
diakui oleh Kepala Kepolisian RI sendiri. 

“Tim investigasi itu terdiri atas Brigadir Jenderal Polisi Aryanto 
Sutadi, Komisaris Besar Polisi Benny Mamoto, dan anggota 
Badan Intelijen Negara Abdul Haris," kata Kepala Kepolisian 
RI Jenderal Da'I Bachtiar seperti dikutip situs Liputan6.com, 17 
Oktober 2002. 

Meski tak persis benar, kisah penyamaran Haris mirip 
dengan cerita polisi yang menyusup ke sarang mafia Italia 
dalam film Donnie Brasco: sempurna, tak terlacak, dan baru 
disadari ketika semuanya berakhir. Dan Haris, sang Brasco dari 
Ciputat, memulainya pada 1995. Ketika itu, ia bertemu dengan 
Irfan S. Awwas orang yang belakangan menjadi salah satu 
Ketua MMI di rumah seorang dai di kawasan Cawang, Jakarta 
Timur. Haris meyakinkan: bahasa Arabnya bagus dan ia 
memahami masalah agama dengan baik. 



Seperti Irfan, Haris memimpikan syariat Islam tegak di 
Indonesia. Setelah pertemuan itu, mereka sering bertemu. 
Ketika Majelis Mujahidin didirikan melalui kongres 
pertamanya, 5-7 Agustus 2000, Abdul Haris langsung dipercaya 
menjadi pengurus di Departemen Hubungan Antar-Mujahid 
(Qism Alaqatul Mujahidin). Ini posisi penting karena "di sini 
diatur hubungan antar-organisasi Islam di dalam dan luar 
negeri," kata seorang pengurus MMI. 

Selama di MMI, Haris menjadi pusat infonnasi. Ia kerap 
menyerahkan catatan yang disebutnya sebagai info intelijen 
mengenai kasus Maluku dan Poso. Ia juga mengetahui aktivis 
Islam Indonesia yang pernah ikut berperang di Afganistan. 
Meski aktif, anehnya, Haris selalu menghindar jika difoto. 
Karena itu, dalam dokumentasi MMI, gambar Haris tak pernah 
ada. 

Tak hanya di MMI, ia berkeliling ke aktivis Islam lain. 
Di Bandung, Abdul Haris mendatangi Lesmana Ibrahim, 
pensiunan mayor angkatan laut yang mengelola sebuah taman 
kanak-kanak Islam. Lesmana adalah kawan baik almarhum 
Haris Fadilah alias Abu Dzar, mertua Al-Faruq. "Saya 
mengenal dia karena diperkenalkan seorang kawan," kata 
Lesmana. Di rumah pria itu, Haris menginap dan berbincang 
tentang gerakan Islam. "Salah satu hal yang dibahas adalah soal 
Amerika, Israel, dan. terjepitnya muslim Palestina," kata 
Lesmana Ibrahim. 

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, Haris datang 
lagi. Kali ini ia meminta Lesmana menandatangani pernyataan 
sikap yang intinya mendukung diberlakukannya Piagam 
Jakarta. Tapi Lesmana menolak. Sampai di sini, baik Lesmana 
maupun orang-orang MMI tak ada yang curiga kepada Abdul 



Haris. Kecurigaan baru muncul ketika sejak Juni lalu Haris 
tiba-tiba menghilang dari komunitas gerakan Islam. 

Juni lalu? Itulah saat Faruq ditangkap intelijen BIN di 
Bogor, Jawa Barat. Dalam keterangan resminya, BIN mengaku 
penangkapan dilakukan karena Faruq punya masalah 
keimigrasian. Ketika ditangkap, pria itu sedang bersama Haris. 
Saat itu Haris sedang mengantar paspor milik istri Faruq, Mira 
Agustina. Kepada TEMPO, Haris mengaku hanya membantu 
membuatkan paspor untuk Mira. Dia mengaku mengenal 
Faruq, tapi membantah keras bahwa dia memata-matai tokoh 
itu (lihat Abdul Haris: "Saya Orang Swasta Mumi"). 

Tapi ada cerita lain dari Tamsil Linrung. Menurut 
Tamsil, nama Abdul Haris sebetulnya sudah muncul ketika ia 
ditahan pemerintah Filipina awal 2002 lalu. Ketika itu, seorang 
intel Filipina bernama Rueben P. Galban berkali-kali mengaku 
bahwa informasi tentang Tamsil dan Agus Dwikarna mereka 
peroleh dari intel Indonesia. "BIN dibantu oleh orang Indonesia 
yang bernama Abdul Haris," kata Galban seperti ditimkan 
Tamsil. 

Galban adalah perwira polisi berpangkat super-intenden 
dan merupakan kepala bidang penghubung intelijen asing 
dalam badan kepolisian Filipina. Galban bahkan menjelaskan 
sepak terjang Haris, termasuk sejarah kedekatan Haris dengan 
Faruq. "Ia dikenalkan dengan Faruq oleh seseorang bernama 
Syawal," kata Tamsil mengutip Galban. 

Terkesan kaget, ketika dikonfirmasi, Galban 
membantah cerita Tamsil Linrung. "BIN tidak memberikan 
informasi kepada kami. Maaf, ya, sekarang saya amat sibuk," 
katanya. Lalu, klik, telepon ditutup. Belakangan, Galban 
bersedia menjawab lebih panjang. "Informasi yang saya 



bicarakan dengan Tamsil itu saya ketahui dari media massa, 
bukan informasi intelijen," ujarnya kepada TEMPO melalui 
telepon internasional. 

Sepulang Tamsil dari Filipina, Haris mengontaknya. 
Dalam sebuah pertemuan, Haris mengatakan bahwa 
penangkapan Tamsil terjadi karena ada "seseorang" yang 
melaporkan ke BIN. Haris juga mengaku mendapatkan banyak 
mfo tentang gerak-gerik aktivis Islam lainnya seperti Agus 
Dwikarna dan Fathur Rahman al-Ghozi dari badan intelijen itu. 
"Ia mengaku membaca kertas yang tercecer ketika sedang 
memasang karpet di kantor BIN, " kata Tamsil. Kepada 
TEMPO, Haris mengaku pemah mendapat proyek pengadaan 
karpet dari BIN. 

Kecurigaan Tamsil terbit. Demikian pula tokoh lain 
yang pemah ditemui Haris. Tapi, seperti dalam Donnie Brasco, 
semua telah terlambat. "Ia pernah menelepon saya dan 
mengatakan merasa tidak enak karena sedang bersama Faruq 
saat Faruq ditangkap," kata Fesmana Ibrahim. "Saya tidak 
menyangka kalau dia munafik begitu. Saya akui dia baik dan 
humanis. Karena itu, sungguh saya tidak menyangka," kata 
Irfan S. Awwas. 

Siapakah Haris sesungguhnya? Muhammad Abdul 
Haris adalah lelaki kelahiran Desa Rowobayem, Purworejo, 8 
Mei 1952. Ia pernah kuliah di Jurusan Fikih Fakultas Syariah 
Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan 
lulus pada 13 Juli 1977. Skripsinya membahas asas legalitas 
hukum pidana di Indonesia. 

Bapak dua anak ini pada 1989-1991 memperdalam 
bahasa Arab di Riyadh, Arab Saudi. Ia mengaku belajar di 
Jamiah Malik as-Suud, sebuah universitas di sana. 



Menurut Hamdi el-Faragh, yang pernah mengajarnya, 
Haris termasuk mahasiswa yang pintar. Ia menonjol dalam 
analisis maddah (materi), nahwu-sharaf (tata bahasa), dirasah 
Islamiyah (studi Islam), serta mata pelajaran ta'bir kitabi dan 
syafahy (pengungkapan bahasa Arab lisan dan tulisan). Hamdi 
mengaku mengenal Haris karena ia biasa mengabsen 
mahasiswa yang ada. 

Soal dana, Haris mengaku mendapat beasiswa dari 
pemerintah Arab Saudi. 

Tapi penelusuran TEMPO menunjukkan Haris bukan 
mahasiswa biasa. Seorang sumber BIN sendiri memastikan, di 
Arab Saudi, Haris dibiayai lembaga intelijen itu. Menurut 
sumber itu, Haris telah "dipelihara" sejak 15 tahun lalu. 
Tentang beasiswa pemerintah Arab Saudi kepada Haris, Hamdi 
el-Faragh membantah, "Dia tidak dibiayai pemerintah Arab 
Saudi. Ada seorang kafil (penyumbang dana) tetap baginya dari 
Indonesia, tapi saya tidak tahu siapa." Detail lain dikemukakan 
Hamdi: "Hanya mahasiswa yang belajar empat tahun (program 
gelar -Red.) yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Arab 
Saudi. Sedangkan Abdul Haris hanya belajar dua tahun dalam 
program non-gelar." 

Lalu apa motivasi Haris? Tak jelas. Seorang aktivis 
MMI mencurigai Haris mendapat uang dari BIN karena aksinya 
tersebut. Tapi sulit memastikannya. Rumah Haris di bilangan 
Ciputat memang bagus -setidaknya bila dibandingkan dengan 
tetangga sekitarnya — tapi tak ada bukti yang lebih kuat. BIN 
membantah telah memelihara Haris (lihatwawancara 
MuchyarYara). 

Haris sendiri kini menghilang. Setelah pertemuan 
dengan TEMPO di sebuah sore yang basah itu, telepon 



genggam Haris masih bisa dihubungi beberapa kali. Tapi, 
setelah itu, ia menghilang. Seperti Donnie Brasco, tugasnya 
telah usai. 


Sumber: Majalah TEMPO Edisi 25 November - 1 Desember 
2002, hal. 69 - 87. 



05 

Abdul Haris: 
“Saya Orang Swasta 

Murni” 


T) ARI mana Anda kenal keluarga Al-Faruq? 

Kebetulan saya kenal paman Mira (Mira Agustina, istri Al- 
Faruq -Red.). Namanya Muhabbah. Dia pedagang bakso di 
Bogor. Kami pernah beberapa kali bertemu. Dengan Faruq, 
saya bertemu pas mengurus paspor Mbak Mira. 

Mengapa Anda sampai tertangkap bersama Al-Faruq 
di Masjid Raya Bogor? 

Saya berjanji bertemu untuk menyerahkan paspor Mira 
kepada Faruq karena Mira waktu itu ada di Tanjung Pinang. 
Cuma, saya sayangkan, sebelum saya menyerahkan paspor itu, 
rupanya Faruq sudah merasa kalau sedang dicari. Cuma dia 
tidak berceritera, akhirnya saya ikut kena getahnya. Kalau tahu 
begitu, saya serahkan saja paspor itu ke pamannya Mira. 

Bagaimana kronologinya? 

Saat itu sekitar tanggal 5 Juni. Fauq meminta paspor itu 
dibawa ke Rawamangun. Belum satu jam, dia menelepon saya 
dan minta saya mengantarkannya ke bandara. Bani saya mau 



meluncur ke sana, dia meralat lagi. Sudah, kalau begitu 
ditunggu saja di Masjid Raya Bogor. Jadi, dia yang menentukan 
tempat, saya hanya mengikuti. Saya heran, mau menyerahkan 
paspor istrinya kok minta tempat ketemunya berpindah-pindah 
dan tidak berani datang ke imigrasi langsung. Saya menduga 
dia sudah tahu dirinya diikuti terus sejak awal. 

Akhirnya Anda berdua bertemu di Bogor? 

Ya, di Masjid Raya Bogor selepas salat asar. Ketika 
kami sedang mengobrol, datang beberapa orang mau 
menangkap Faruq. Mereka mengaku dari imigrasi dan tidak 
bersenjata. 

Berapa jumlah mereka ? 

Saya tidak tahu persis. Peristiwanya cepat sekali. 
Mereka bilang Faruq ditangkap karena memalsukan paspor. 
Kami langsung diborgol dan dibawa dengan mobil terpisah. 
Mata saya ditutup selama perjalanan hingga masuk ke sebuah 
ruangan selama kurang-lebih satu jam. Waktu itu pakai mobil 
Kijang. Celakanya, waktu itu Faruq membawa uang Rp 27 juta 
sehingga saya dikenai tuduhan menjual paspor sangat mahal. 
Padahal, perjanjian kami, saya mendapat upah sekitar satu juta 
rupiah. 

Berapa lama Anda ditahan? 

Saya ditahan selama dua malam satu hari, dan diperiksa 
terpisah dengan Faruq. Pertemuan terakhir kami ya ketika 
mengobrol di masjid sebelum ditangkap. 

Apa saja yang mereka tanyaban kepada Anda? 

Soal perkenalan dengan Faruq. Saya bilang hanya 
membantu membuatkan paspor istrinya, Mira. Lalu dicek 
silang dengan Faruq. Untunglah Faruq melindungi saya karena 
dia tidak omong macam-macam, misalnya saya ini orang MMI, 



Majelis Mujahidin Indonesia. (Keputusan Kongres I MMI pada 
5-7 Agustus 2000 menetapkan Abdul Haris sebagai anggota 
Departemen Hubungan Antar-Mujahid -Red.) 

Kalau urusannya sama-sama cuma soal paspor, kok 
Anda kemudian dilepas dan Faruq terus ditahan? 

Mereka yakin bahwa saya hanya orang yang mencari 

duit. 

Anda ikut tim Mabes Polri ketika menginterogasi AI- 

Faruq? 

Saya heran dikait-kaitkan dengan itu. Nama Abdul 
Haris kan banyak sekali, tapi yang jelas bukan saya. Saya 
sendiri kan bukan siapa-siapa, ha-ha-ha. 

Anda kan fasih berbahasa Arab dan kenal Al-F aruq? 

Bahasa Arab saya kurang begitu bagus. 

Faruq itu warga negara Indonesia atau asing? 

Kalau saya perhatikan sih bukan. Kosakata Indonesia- 
nya sedikit sekali dan patah-patah. Kami berkomunikasi dalam 
bahasa Arab. 

Kami mendapat informasi, Anda memperoleh proyek 
pemasangan karpet dan gorden di kantor Badan Intelijen 
Nasional? 

Saya memang pernah mendapat proyek pengerjaan 
karpet di BIN. 

Ini informasi lain yang kami peroleh: Anda pernah 
menyodorkan daftar nama orang yang dicari dan bakal 
ditangkap BIN kepada Hendro. 

Masya Allah, saya ini orang swasta murni. Hidup saya 
kan dari satu kontrak ke kontrak lainnya. Kok informasinya 
aneh-aneh begitu? Tidak, tidak pernah saya melakukan hal itu. 



Anda belajar di Riyadh selama dua tahun (1989-1991). 
Kami mendapat informasi Anda dibiayai Badan Intelijen 
Negara (ketiba itu Bakin) 

Ha-ha-ha, isunya kok aneh-aneh begitu. Beasiswa saya 
dari pemerintah Arab Saudi. Teman-teman seangkatan saya 
banyak. Ada yang dari Yayasan Al-Masturiah, ada juga yang 
dari Muhammadiyah. Jadi, beasiswa itu memang untuk banyak 
orang. 

Kabar itu muncul karena beberapa kcdangan orang 
mencurigai Anda orang BIN yang ditanam di MMI? 

Saya orang swasta murni. Istri saya seorang guru. Saya 
hidup dari kontrakan. 

Apakah Anda mendapat mobil Kia Carnival dari BIN 
karena sukses membantu penangkapan Faruq? 

Masya Allah, kejam sekali informasinya. Tanya saja ke 
Irfan Awwas (Ketua Umum MMI), kapan saya punya mobil 
dan jenisnya. 

Sumber: Majalah TEMPO Edisi 25 November - 1 Desember 
2002, hal. 69 - 87. 




Dasamuka yang 
Gemar Menyaru 

S EBAGAI sosok yang begitu penting, Umar al-Faruq 
sama membingungkannya seperti tokoh dunia 
pewayangan Dasamuka —sang raksasa yang memiliki 
banyak wajah. Oleh kalangan intelijen, khususnya Badan 
Intelijen Negara (BIN) dan Dinas Rahasia Amerika (CIA), dia. 
diyakini bagai operator Al-Qaidah di Indonesia. CIA secara 
khusus menyebut tokoh ini mengakui terlibat dalam berbagai 
peledakan bom di Indonesia dan ikut serta dalam plot 
membunuh Presiden Megawati Soekarnoputri. Berdasar 
pengakuan Al-Faruq itu pula polisi belakangan menangkap Abu 
Bakar Ba'asyir, tokoh yang disebutnya memberikan perintah 
melakukan semua kejahatan tadi. 

Namun penelusuran TEMPO menunjukkan: sejumlah 
orang yang dipercaya mengenal Al-Faruq —sebagian di 
antaranya adalah sumber resmi— terbukti tidak sependapat 
tentang detail dari riwayat hidupnya. Kapan dan di manakah dia 
dilahirkan? Benarkah dia tidak bisa berbahasa Indonesia? 
Kenapa dia bisa memiliki tiga KTP di kota berbeda? Apa 
sebenarnya aktivitas dia sehari-hari? 

Banyak pertanyaan itu hanya akan terjawab jika saja 
aparat Indonesia tidak menyerahkan Al-Faruq ke pemerintah 



AS. Dan kini, andai Al-Faruq bisa dihadirkan, semua kesaksian 
yang bertabrakan di bawah ini bisa dijelaskan. 

Dinas Rahasia Amerika (CIA) 

Al-Faruq ditangkap di Indonesia 5 Juni lalu dan 
diserahkan kepada CIA untuk diinterogasi. Setelah berdiam tiga 
bulan, menurut dokumen CIA yang dikutip majalah Time, Al- 
Faruq buka mulut seperti ini. 

—Lahir di Kuwait, 24 Mei 1971. 

—Dikenal dengan nama Al-Faruq al-Kuwaiti. 

—Tokoh kunci Al-Qaidah di Asia Tenggara. 

—Berperan membekingi dana gerakan Jamaah Islamiyah yang 
tokohnya menjadi incaran di Malaysia dan Singapura. 

—Sejak 1990-an mengikuti latihan Al-Qaidah di kamp Khaldan, 
Afganistan. 

—Kenal dekat dengan pemimpin kamp, Al-Mughira al-Gaza'iri., 
dan tangan kanan Usamah bin Ladin, Abu Zubaidah. Dia juga 
mengaku kenal dengan Ibn Al-Shakyl al-Libi, yang kata dia 
pernah memerintahkan serangan ke pusat-pusat kepentingan 
Amerika di Asia Tenggara. 

—Pergi ke Filipina Selatan dan membantu MILF (Front 
Pembebasan Islam Moro) serta tinggal di kamp Abu Bakar 
pada 1995. 

—Membantu Agus Dwikarna (sekarang di tahanan Filipina 
karena dituduh membawa peledak saat masuk Filipina) 
melahirkan Lasykar Jundullah, kelompok Islam militan 
Makassar yang terlibat dalam kekerasan melawan warga 
Kristen di Poso, Sulawesi. 



—Mendalangi sejumlah aksi peledakan gereja di Indonesia pada 
malam Natal 2000. 

—Mendalangi kerusuhan antar-agama di Poso dan Ambon. 
—Merencanakan penyerangan bom bunuh diri terhadap kapal 
perang Amerika yang berlabuh di Surabaya, akhir Mei lalu. 
—Dua kali merencanakan membunuh Presiden Megawati 
Soekarnoputri. 

Kepolisian RI 

Pada 11 Oktober setelah memperoleh izin dari Cl A, 
Kepolisian Republik Indonesia mengirim tim yang 
beranggotakan Superintenden Benny Mamoto dan Brigjen 
Aryanto Sutadi (Direktur Tindak Pidana Umum Markas Besar 
Polri) untuk menginterogasi Al-Faruq di Kabul, Afganistan. 

Seperti kita baca dari berita acara pemeriksaan Abu 
Bakar Ba'asyir, interogasi terhadap Al-Faruq dilakukan dalam 
bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa 
Arab. Para interogator Indonesia banya mengumpankan 35 
pertanyaan yang dijawab Al-Faruq dengan "yes" atau "no”. Al- 
Faruq hanya sekali menjawab "no", yakni ketika dia ditanya 
apakah merasa dipaksa dalam interogasi, dan dia menjawab 
semua pertanyaan di bawah ini dengan "yes". 

—Apakah nama Anda Ahmad Muhammad alias Faruq al- 
Kuwaiti alias Mahmud bin. Ahmed Muhammed Sagaf alias 
Umar Faruq? 

—Anda memakai nama Mahmud bin Ahmad Assegaf ketika 
berada di Indonesia? 

—Apakah Anda lahir di Irak? 

—Apakah Anda warga negara Kuwait? 



—Anda masuk ke Indonesia sejak 1998 dari Filipina? 

—Anda memimpin Koperasi "Rashid" di Ambon, yang dibiayai 
oleh Al-Moudi, Direktur Yayasan Al-Haramayn di Indonesia? 
—Anda bertemu Abu Bakar Ba'asyir di Ambon ketika Anda 
memimpin koperasi itu? 

—Anda menerima uang dan tiket dari Abu Zubaidah untuk pergi 
dari Peshawar (Pakistan) ke Filipina? 

—Anda berencana menyerang kepentingan Amerika di 
Indonesia? 

—Benarkah Abu Bakar Ba'asyir merestui serangan ke Kedutaan 
Besar Amerika di Jakarta? 

—Benarkah Abu Bakar Ba'asyir merestui menggunakan anggota 
Jamaah Islamiyah untuk menyerang kepentingan Amerika di 
Asia Tenggara? 

—Benarkah ikut merencanakan peledakan bom di sejumlah 
gereja pada malam Natal 2000? 

Mira Agustina 

Perempuan bercadar ini menikah dengan Al-Faruq pada 
26 Juli 1999. Mira, santri Pondok Al-Muttaqien, Jepara, Jawa 
Tengah, dijodohkan oleh ayahnya (almarhum), Haris Fadillah. 
Bersama dua anaknnya dari perkawinannya dengan Al-Faruq, 
Mira kini tinggal di Desa Cijambu, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat. 

Majalah Time yang mengutip dokumen CIA menunjuk 
Mira dari Cijeruk itulah istri dari Al-Faruq yang kini ditawan di 
Baghram, pangkalan Amerika di Afganistan. Namun, ketika 
ditunjukkan fotokopi gambar Al-Faruq, Mira sendiri 
mengatakan "tidak mengenalnya". 


Inilah Al-Faruq versi Mira. 



—Bernama asli Mahmud bin Ahmad Assegaf, namun sering 
dipanggil Abu Faruq. 

—Seorang keturunan Arab yang lahir di Ambon, 24 Mei 1971. 
—Fasih berbahasa Indonesia dengan logat Ambon. 

—Semua keluarga sudah meninggal, dan Faruq punya ayah 
angkat di Kuwait yang juga sudah meninggal. 

—Sehari-hari berdagang mutiara dan kayu gaharu. 

—Senang menonton televisi, terutama film laga dan program 
flora-fauna. 

—Tidak mengenakan pakaian gamis ala Islam ketika keluar 
rumah sehari-hari. 

Dody M. Wibowo 

Kepala Imigrasi Kelas I Makassar ini pejabat yang 
bertanggung jawab saat Al-Faruq mengajukan aplikasi paspor. 
Menurut Dody, Al-Faruq ditangkap dan dikarantina di 
Makassar karena bersikap mencurigakan: tidak bisa berbahasa 
Indonesia. 

Inilah AI-Faruq versi Dody. 

— Al-Faruq mengajukan permohonan paspor dengan nama 
Faruq Ahmad. 

—Memiliki akta kelahiran dengan nama Faruq Ahmad, lahir di 
Ujung Pandang (nama lama Makassar), 10 Desember 1966. 
—Memegang KTP Makassar dengan nomor 
21.5005.101266.0001, yang berlaku dari 8 Februari 1999 
hingga 10 Desember 2002. 



—Tinggal di Makassar dari 8 Februari 1998 hingga Februari 
1999 di Jalan Veteran Selatan Lorong 2/2 A. (Warga setempat 
yang diwawancarai TEMPO mengatakan 
tidak mengenal nama Faruq, dan menyatakan tidak pernah ada 
pria yang menyewa rumah tersebut.) 

—Kepada petugas imigrasi, Faruq mengaku datang dari 
Pakistan dan masuk ke Malaysia, kemudian ke Indonesia. Saat 
di Malaysia, Faruq kehilangan paspor Pakistan. Dia masuk 
Indonesia secara ilegal pada Februari 1998, untuk berdakwah 
sebagai mubalig. 

Kantor Wali Kota Ambon 

Al-Faruq pemah tinggal di Ambon. Dokumen dari 
kantor ini mendukung kesaksian Mira, bahwa Al-Faruq: 

—Bernama Mahmud bin Ahmad Assegaf, lahir di Ambon, 24 
Mei 1971. 

—Memiliki KTP Ambon nomor 25.5002.240571.0001. 

—Alamat di BTN Kebun Cengkeh Blok 04 no 2 RT 004/RW 
005, Batu Merah, Sirimau, Ambon. (Dari penelusuran TEMPO, 
tidak banyak tetangga yang mau bercerita tentang Al-Faruq, 
tapi ada seorang tokoh muda muslim yang menyatakan Al- 
Faruq sering berdakwah di masjid-masjid, membangkitkan 
semangat solidaritas keislaman di Maluku.) 

Ayi Nugraha 

Kepala Sub-Direktorat Penindakan Keimigrasian 
Direktorat Jenderal Imigrasi Departemen Kehakiman. Ayi 
menunjukkan fotokopi paspor dan KTP Al-Faruq dengan 
alamat Jakarta: 



—Kantor imigrasi Jakarta Timur mengeluarkan paspor Al-Faruq 
27 Februari 2002 atas nama Ahmad Assegaf dengan foto Al- 
Faruq seperti yang diberitakan media. 

—Dia membawa KTP nomor 09.5401.240571.85277 dengan 
alamat RT 03/RW 07, Kelurahan Utan Kayu Selatan, 
Matraman, Jakarta Timur. 

Ali Al-Dafiri 

Kuasa usaha Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta ini 
memberikan dua keterangan berbeda tentang kewarganegaraan 
Al-Faruq. 

— Al-Faruq memiliki paspor Irak dan lahir 1969 dengan nama 
Mahmud Ahmad Muhammad Al-Rasyid. 

—Dia masuk ke Kuwait pada 1985 dan bekerja di sana hingga 
meninggalkan Kuwait tahun 1995. (Namun ketika dihubungi 
TEMPO lagi pekan lalu, Al-Dafiri menyatakan Faruq lahir di 
Kuwait dan meninggalkan Kuwait pada 1995.) 

—Sebagian keluarganya masih di Kuwait, namun tetap bukan 
warga negara Kuwait. 

Sumber: Majalah TEMPO Edisi 25 November - 1 Desember 
2002, hal. 69 - 87. 



07 

Misteri Hari Terakhir 

K ata BIN, Al-Faruq dideportasi karena paspor palsu. Tapi 
banyak kejanggalan seputar penangkapannya. 


SELEPAS asar pada 5 Juni 2002 lalu, terjadi keributan 
kecil di halaman Masjid Raya Bogor. Namun keramaian di 
Jalan Pajajaran di depan masjid, dan keriuhan di terminal 
Bogor yang tak jauh dari situ, membuat orang tampaknya tidak 
terlalu hirau ketika sekitar 10 orang mengepung dua orang di 
masjid itu dan meringkusnya. 

Itulah hari ketika Mahmud bin Ahmad Assegaf raib. 
Tiga bulan kemudian, tokoh tak dikenal itu kali ini muncul 
dengan nama Umar al-Faruq menjadi pusat pembicaraan 
sebagai "tokoh" Al-Qaidah yang menyusup ke Indonesia. 

Apa yang sebenarnya terjadi pada awal juni itu? 

"Saya bertemu Al-Faruq di masjid itu ketika mereka 
menangkap kami," kata Abdul Haris, orang yang ditangkap 
bersama Al-Faruq dalam penggerebekan kilat itu, kepada 
TEMPO via telepon dua pekan lalu. Haris membantu 
menguruskan paspor Mira Agustina, istri Al-Faruq, yang 
berencana pergi bersama suami dan dua anaknya ke Selangor, 
Malaysia. Haris berjanji menyerahkan paspor hari itu. 



Sebelum pertemuan, Haris mengaku sempat berbicara 
lewat telepon genggam dengan Al-Faruq. Dalam teleponnya 
yang pertama, kata Haris, terdengar suara Al-Faruq dengan 
nada gelisah dan ragu. Ia minta Haris datang ke Rawamangun 
bersama paspor pesanan itu. Tapi, kata Haris, tak sampai sejam 
kemudian Al-Faruq menelepon lagi untuk minta bertemu di 
Bandar Udara Cengkareng, sekalian menjemput kawannya 
yang tiba dari luar negeri. Belum sempat Haris meluncur, Faruq 
menelepon lagi. "Tunggu saja di Masjid Raya Bogor," begitu 
ucapan Haris menimkan Al-Faruq. Bersama Mira dan dua 
anaknya, Al-Faruq memang tinggal di Cijeruk, Bogor. 

Pembicaraan telepon itu mengesankan Al-Faruq gelisah 
karena mencium ada yang tak beres hari itu tapi tak tahu di 
mana dan kapan bahaya akan menerkamnya. 

Firasatnya benar. Selepas salat asar, mereka sempat 
mengobrol dalam bahasa Arab di beranda masjid. Nahas, ketika 
itulah serombongan orang datang menangkap mereka. Al- 
Faruq, kata Haris, ditangkap dengan tuduhan memalsukan 
paspor. Haris, yang berada di sampingnya, kena getah ikut 
diciduk. 

Dalam ingatan Haris, penangkapan itu berlangsung 
cepat. "Tahu-tahu tangan kami sudah diborgol," tuturnya. Haris 
dimasukkan ke mobil Toyota Kijang, lalu kedua matanya 
ditutup. Faruq digelandang ke mobil terpisah. Mereka berputar- 
putar di Kota Bogor hampir sejam dan tiba-tiba saja berhenti. 
Menurut Haris, mereka berdua disekap dalam sebuah rumah 
tinggal. "Saya sulit mengingat di mana lokasi rumah itu karena 
pusing setelah mata ditutup," katanya. Dua hari kemudian Haris 
dibebaskan dan sejak itu tak pernah sekalipun ia bertemu lagi 
dengan Al-Faruq. 



Siapa menangkap Al-Faruq? Benarkah Al-Faruq 
ditangkap aparat imigrasi atau polisi karena pemalsuan paspor? 
Kantor Departemen Kehakiman di Jakarta mengaku tidak tahu- 
menahu penangkapan itu. "Kami tak mengirim tim ke Bogor," 
kata Ade Dachlan, juru bicara Direktorat Jenderal Imigrasi. 
Polisi pun mengatakan tak terlibat dalam penangkapan itu. 

Muchyar Yara, Asisten Kepala Bidang Sosial dan 
Kemasyarakatan Badan Intelijen Negara (BIN), mengatakan 
penangkapan itu dipimpin oleh Mayor Andika Perkasa, perwira 
pasukan elite Kopassus yang diperbantukan dalam operasi BIN. 
Andika sendiri adalah menantu Letnan Jenderal A.M. 
Hendropriyono, ketua badan intelijen itu. 

"Penangkapan itu memang kami yang mengarahkan," 
kata Muchyar kepada TEMPO pekan lalu. "Kami memperoleh 
informasi awal dari intelijen Filipina, Singapura, dan Amerika 
bahwa ada orang asing di kampung (Cijambu, Kecamatan 
Cijeruk, Bogor) yang terlibat dalam jaringan terorisme," tutur 
Muchyar. (Lihat wawancara dengan Muchyar Yara: "Haris 
Teman Lama Hendro") 

Namun, bukannya diadili di Indonesia, tiga hari setelah 
ditangkap Al-Faruq dibawa ke Bandar Udara Halim 
Perdanakusumah, Jakarta, tempat ia diterbangkan dengan 
sebuah pesawat khusus ke Amerika. Sebuah sumber TEMPO 
mengatakan, BIN-lah yang mencap paspor Faruq dengan cap 
kedatangan Malaysia agar berkesan ia telah dideportasi ke 
negara itu, dan menghindari kesan BIN telah menyerahkan Al- 
Faruq kepada Amerika. 

Beberapa hari setelah penangkapan di Masjid Raya 
Bogor itu, Mira Agustina mengaku menerima telepon dari 
Haris, yang bercerita perihal penangkapan suaminya tanpa 



penjelasan rinci. Belakangan Mira mengatakan kehilangan 
kontak dengan Haris, yang memintanya tidak lagi menelepon 
"karena ditekan oleh orang-orang yang menangkapnya". 

Sejak itu pula Mira tak tahu ke mana gerangan 
suaminya pergi, sampai September lalu ketika pengakuan Al- 
Faruq diangkat menjadi laporan utama majalah Time. 

Sumber: Majalah TEMPO Edisi 25 November - 1 Desember 
2002, hal. 69 - 87. 




Jejak Seluler 
Meringkus Faruq 

U MAR al-Faruq dicokok gara-gara telepon seluler. 
Sebab, telepon genggamnya itu justru menjadi 
petunjuk bagi intelijen. Untuk melacak di mana saja 
dia berada dan siapa saja yang ia kontak. Nomor teleponnya, 
08129576852, justru menebar di sejumlah ponsel orang-orang 
yang ditangkap oleh aparat keamanan di sejumlah negara. 
Menurut Muchyar Yara, Asisten Kepala Badan Intelijen Negara 
(BIN) Bidang Hubungan Masyarakat, nomor telepon Faruq 
tertera di ponsel Agus Dwikarna yang ditangkap di Filipina, 
dan Parlindungan Siregar yang ditangkap di Spanyol, April 
lalu. 

Keterangan Muchyar sama dengan laporan majalah 
Time yang mengutip investigasi CIA, November lalu. Menurut 
majalah terkemuka di dunia itu, nomor ponsel Faruq juga 
tercatat di telepon seluler Ibn al-Khattab, seorang komandan 
tentara Chechnya yang sudah ditangkap Rusia. Ada pula dalam 
hand phone Abu Zubaydah, tangan kanan Usamah bin Ladin, 
dan seorang Taliban yang ditahan di Penjara X Ray di 
Guantanamo Kuba. Agus Dwikama membantah soal ponsel ini. 
"Saya tidak pernah kontak dengan orang di Bogor,” kata Agus 
kepada TEMPO. 



Berdasarkan lalu lintas telepon itulah, kata Muchyar, 
kediaman Faruq dilacak. 

1. Spanyol-Bogor 

Parlindungan Siregar seorang warga Indonesia 
ditangkap polisi Spanyol dengan tuduhan anggota jaringan 
teroris. Di ponsel Parlindungan tercatat nomor ponsel Umar al- 
Faruq. Saat di tahanan, Parlindungan diperkenankan membawa 
ponselnya itu. Selama di tahanan, ia konon sempat beberapa 
kali menelepon Al-Faruq lewat handphone. Pembicaraannya 
direkam oleh polisi Spanyol. Informasi soal halo-halo itu juga 
dikirim ke intelijen Indonesia. 

2. Bogor-Spanyol 

Saat di tahanan itu beberapa kali ponsel Parlindungan 
menerima telepon dari sebuah wartel di kawasan Bogor, Jawa 
Barat. Diduga, wartel tersebut terletak tak jauh dari rumah Al- 
Faruq. 

3. Manila-Bogor 

Awal Juni lalu, polisi Filipina menangkap Agus 
Dwikarna, pemimpin Laskar Jundullah, yang disebut-sebut 
tertangkap basah membawa bahan peledak di kopomya. Di 
selnya, Agus membawa serta telepon seluler miliknya. Selama 
berada di sel itulah, kata Muchyar, Agus beberapa kali 
menelepon Al-Faruq melalui ponsel. Tapi Agus Dwikarna 
membantah. 



4. Bogor-Manila 

Sebuah ponsel dari kawasan Bogor terdeteksi beberapa 
kali menelepon ke ponsel Agus Dwikarna. Telepon juga kerap 
datang dari wartel yang tempataya sama dengan nomor telepon 
yang masuk ke ponsel Parlindungan. 

5. Chechnya 

Nomor ponsel Umar al-Faruq juga tertera di ponsel Ibn 
al-Khattab, seorang komandan tentara Chechnya yang 
ditangkap Rusia. 

6. Guantanamo, Kuba 

Nomor telepon Umar al-Faruq juga tertera di ponsel 
seorang anggota taliban yang disel di Penjara X Ray, 
Guantanamo, Kuba. 

Sumber: Badan Intelejen Nasional (Majalah TEMPO Edisi 25 
November - 1 Desember 2002, hal. 69 - 87). 



09 

Muhyar Yara: 

“H ari s Teman Lama 

Hendro” 


T AK cuma urusan menangkal teror yang membuat Badan 
Intelijen Negara (BIN) super sibuk belakangan ini. Para 
petinggi Pejaten, markas besar lembaga mata-mata itu, 
kini juga harus bekerja ekstra keras menangkis berbagai 
tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Meski belum satu pun 
yang didukung bukti konkret, oleh sebagian kalangan Kepala 
BIN Hendropriyono gencar dituding telah ikut "bermain" 
dalam gelombang penangkapan sejumlah tersangka teroris 
belakangan ini, atas pesanan intelijen asing, khususnya 
Amerika Serikat. 

Suara sumbang itu mulai keras terdengar saat 
penangkapan Tamsil Linrung dan Agus Dwiksma di Filipina 
beberapa waktu lalu. Diyakini banyak kalangan, BIN-lah 
sejatinya yang berada di balik operasi menggaruk Tamsil dan 
Agus, dua tokoh Komite Penegak Syariat Islam dan Komite 
Penanggulangan Krisis (Kompak) yang keras dicurigai telah 
ikut mengobarkan perang sipil di Poso. Sebagaimana dikutip 
kantor berita Antara, adalah Hendro sendiri yang pada 



pertengahan Desember tahun lain menyatakan sebuah indikasi 
ke arah itu: "Ada orang Al-Qaidah yang ditangkap di Spanyol. 
Pemerintah Spanyol yang memberi tahu Indonesia soal Al- 
Qaidah berlatih di Poso." 

Syak wasangka ke arah tokoh yang kini berada di pucuk 
lembaga intelijen ini bukan tanpa latar sejarah. Berbagai 
literatur, antara lain studi International Crisis Group, telah 
menunjukkan betapa All Moertopo, Ketua Badan Koordinasi 
Intelijen Negara (Bakin) di awal rezim Soeharto, telah giat 
memata-matai dan "memainkan" kelompok Islam militan untuk 
kepentingan politik Orde Baru. "Mereka (kelompok Islam garis 
keras) semacam kartu yang bisa dipakai oleh orang yang 
berambisi berbuat sesuatu," kata Indonesianis Daniel Lev. 

Dan sebagaimana halnya Ali, Hendro juga merupakan 
sosok yang punya pergaulan amat luas di kalangan ini. 
Persinggungan Hendro, pensiunan letnan jenderal berusia 57 
tahun, dengan kelompok Islam radikal berawal saat ia menjabat 
Komandan Komando Resor Militer (Korem) 043/Garuda 
Hitam, Lampung. Ketika itu, 7 Februari. 1989, pasukannya 
menyerbu Desa Talangsari, yang dicurigai merupakan markas 
Kumpulan Warsidi, salah satu kelompok Islam militan, dan 
menewaskan sedikitnya 246 orang. 

Dari situlah ia mengembangkan sayap. Dimulai pada 
awal 1990-an saat ia duduk di kursi Direktur A (bidang dalam 
negeri) Badan Intelijen Strategis -lembaga mata-mata militer— 
Hendro aktif melakukan pendekatan dengan para tokoh eks 
Talangsari. Dan penggalangan itu telah menunjukkan hasil. Di 
kalangan Islam militan lalu dikenal sejumlah orang yang kerap 
disebut-sebut sebagai "binaan Hendro". 



Kecurigaan ke arah itu kini mumlbul kembali seiring 
munculnya nama Abdul Haris dalam drama penangkapan Al- 
Faruq, warga Kuwait yang diyakini Cl A sebagai salah satu 
pentolan Al-Qaidah, yang ditangkap di Bogor oleh satuan 
gabungan intelijen Indonesia sebelum kemudian dideportasi ke 
tahanan Amerika di Afganistan. Penelusuran mingguan ini 
menduga, Haris tak lain adalah seorang agen BIN yang telah 
"ditanamkan" untuk mengawasi gerak-gerik berbagai jaringan 
Islam berhaluan keras, termasuk Majelis Mujahidin Indonesia 
(MMI) yang dipimpin Abu Bakar Ba'asyir. 

Untuk mengetahui apakah penyusupan ini merupakan 
sebuah kisah sukses operasi intelijen dalam menangkal 
terorisme ataukah tak lebih dari sekadar sebuah permainan 
spionase demi kepentingan yang lain, TEMPO mewawancarai 
Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang Hubungan 
Masyarakat. Berikut petikannya. 

Apa peran BIN dalam penangkapan Umar al-Faruq? 

Informasi memang dari kami. Tapi yang melakukan 
penangkapan adalah pihak imigrasi, lalu dideportasi. BIN 
hanya menyertai. 

Bersama Al-Faruq, ditangkap juga Abdul Haris, 
seorang aktivis Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). 

Haris adalah teman lama Hendropriyono sejak masih 
menjadi Panglima Daerah Militer Jaya, bahkan mungkin sejak 
masih kolonel. Hubungan antara Haris dan Pak Hendro sebatas 
teman. Tapi, tidak benar Haris ikut ditangkap bersama Al- 
Faruq. 

Jadi, Haris adalah teman yang kemudian dibina 
menjadi agen untuk disusupkan ke organisasi Islam? 



Enggaklah. Tapi, seandainya dia orang yang bekerja 
untuk BIN, lalu kenapa? Yang dimata-matai kan orang asing 
(Al-Faruq), tukang bikin kekacauan di Poso, Ambon. 

Haris juga berada di lingkungan Ba'asyir, yang 
disebut-sebut sebagai tokoh Jamaah Islamiyah dan dikaitkan 
dengan terorisme internasional. 

Terus kenapa? Apakah tidak boleh BIN mengamati 
Ba'asyir? 

Benarkah langkah itu diambil atas pesanan dari CIA? 

Ya, tidak benar. Soal Al-Faruq, kita memang mendapat 
informasi dari intelijen Filipina dan Singapura bahwa Faruq itu 
teroris. Tapi waktu itu tidak bisa kita buktikan. Dari CIA juga 
masuk informasi seperti itu, tapi bukan berarti ada order. Yang 
terbukti ketika ditangkap hanya pelanggaran imigrasi. Maka, 
sanksinya hanya dideportasi. Kalau saja waktu itu ada bukti 
kuat (terlibat terorisme), pasti langsung kami serahkan ke 
polisi. Yang ada di tangan saat itu cuma kontak telepon antara 
Agus Dwikarna dan Al-Faruq. Lalu, apa salahnya? 

Bukankah ada bukti rekaman video Faruq seperti yang 
pernah dipertontonkan Hendro ke Komisi Pertahanan Dewan 
Perwakilan Rakyat? 

Bukti itu baru didapat September lalu, setetah Faruq 
dideportasi. 

Kembali ke Haris. Benarkah ia direkrut langsung oleb 
Hendro karena pergaulannya yang luas di kalangan Islam 
militan? 

Yang saya tahu, mereka berkawan sejak dulu. Tapi, 
untuk urusan pekeijaan kantor, setahu saya tidak pernah ada 
Abdul Haris. Begitu juga sewaktu Pak Hendro masih di Badan 
Intelijen Strategis. Kalau yang akan Anda katakan adalah 



bahwa informan tak harus seorang anggota resmi BIN, itu 
betul. 

Jadi, dia informan BIN dalam penangkapan Faruq? 

Tidak. Dia tak tahu-menahu soal penangkapan Faruq. 
Yang dilakukannya hanya menjual tiket pesawat ke Malaysia 
untuk Faruq. 

Haris teman lama Hendro, tapi malah menjual tiket 
pesawat untuk Faruq. Cuma kebetulan? 

Ini bukan pekerjaan Pak Hendro. Dia tidak tahu apa-apa 
soal ini. 

Jadi, Haris sama sekali tidak terkait dengan 
penangkapan Faruq? 

Dalam konteks penangkapan Faruq, baik informasi awal 
maupun penangkapannya, tidak ada peran Haris. Menurut Pak 
Hendro, dia mengetahui Haris pernah mengurus tiket Faruq 
baru setelah Faruq dideportasi. 

Lalu, siapa yang ditangkap bersama Faruq? 

Setahu saya, yang ditangkap bareng Faruq itu pemuda 
masjid di sana yang kebetulan sedang berjalan bersama Faruq. 
Jadi, bukan Haris yang teman Pak Hendro itu. 

Namanya juga Abdul Haris? 

Enggak tahu juga tuh. Mungkin saja namanya sama. 
Kalau Haris yang Anda maksud adalah pemuda masjid yang 
ditangkap bersama Faruq, berarti dia sudah dilepaskan. Tapi, 
jika Haris yang dimaksud adalah orang yang mengurus paspor 
dan menjual tiket ke Faruq, dia tidak ikut ditangkap. 

Benarkah Haris pernah mendapat proyek pemasangan 
karpet di kantor BIN? 



Saya tidak tahu persis. Saya kira kok tidak ada proyek 
pemasangan karpet di BIN akhir-akhir ini. Mungkin sudah 
lama kali ya. 

Benarkah Haris aktif di MMI? 

Yang saya tahu, dia memang aktivis berbagai organisasi 
dan gerakan Islam. 

Kabarnya, dia juga pernah mendapat beasiswa ke 
Riyadh dari Bakin pada sekitar tahun 1990-an? 

Tidaklah. 

Menurut sumber kami di kepolisian, Haris masuk 
dalam daftar yang dikirim BIN ke polisi supaya segera 
ditangkap. Benar? 

Tidak mungkin. Kalaupun ya, pasti tidak termasuk 
Haris itu. Seratus persen tidak mungkin ada surat seperti itu 
dari BIN ke kepolisian. Ada sebabnya, tapi saya tak bisa 
menj elaskannya . 

Sumber: Majalah TEMPO Edisi 25 November - 1 Desember 
2002, hal. 69 - 87. 



10 

Antara Ba’asyir dan 
Hambali (1) 

A da sesuatu yang sangat menarik ketika saya 
menyaksikan acara teve bertajuk “Metro Realitas” 
pada stasiun Metro TV tanggal 28 Oktober 2002 
malam. Program berdurasi 30 minit itu menayangkan kisah 
tentang Omar al Farouq, tokoh misterius yang hingga kini 
masih belum ada kejelasan menganai jati dirinya. 

Pada tayangan itu juga diwawancarai seseorang yang 
diakui oleh presenter sebagai “orang dekat” Hambali, tokoh 
yang hingga kini sama misteriusnya dengan Omar Al Farouq. 

Menurut pengakuan “orang dekat” Hambali tadi, 
dikatakan bahwa Hambali sudah ditangkap pihak Kepolisian 
Pandeglang pada awal Juni 2002 ini, dan hingga kini tidak 
diketahui keberadaannya. 

Oleh pihak Kepolisian Indonesia, Hambali disebut- 
sebut terlibat di dalam berbagai tindak kekerasan (peledakan) 
yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Dan Hambali konon 
adalah orang dekat Ba’asyir, bahkan dikatakan aksi yang 
dilakukan Hambali merupakan perintah dari Ba’asyir. 

Kalau Hambali benar sudah ditangkap Kepolisian 
Pandeglang, mengapa pula aparat menyatakan pada berbagai 
media massa terbitan pekan-pekan lalu bahwa Hambali kini 



sedang dicari-cari aparat kepolisian Indonesia, seolah-olah ia 
belum tertangkap? 

Semakin hari semakin tercium adanya kejanggalan yang 
pekat dari kasus ini. Sebelum tragedi WTC 1 1 September, tidak 
ada yang mengkaitkan antara Ba’asyir dengan Hambali, kini 
pasca tragedi itu, apalagi setelah terjadi peledakan di Bali 12 
Oktober, tiba-tiba Hambali terkait erat dengan Ba’asyir yang 
kini berada di RS Polri Kramat Jati setelah mengalami evakuasi 
paksa oleh aparat kepolisian. 

Sumber: 

From: "Syaifuddin Bidakara " < svaifuddin-bidakara@operamail.com > 

Sent: Wednesday, October 30, 2002 7:54 AM 
Subject: [Sabili] Antara Ba’asyir dan Hambali 



11 

Antara Ba’asyir dan 
Hambali (2) 

B ila Al Farouq ditangkap pada tanggal 5 Juni 2002 di 
Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, Hambali ditangkap lebih 
dulu dari Al Farouq. Dari Pandeglang, Hambali sempat 
mendekam selama satu pekan di tahanan Mabes Polri, 
kemudian dijemput oleh aparat BIN. 

Setelah itu, Hambali lenyap bagai ditelan angin. Tidak 
ketahuan rimbanya, di mana ia ditahan, atau dimana 
kuburannya bila memang sudah “disukabumikan”. 

Berbeda dengan Al Farouq yang kini mendekam di 
Guantanamo setelah dideportasi dengan alasan punya masalah 
keimigrasian, Hambali diyakini sejak lepas dari tahanan Mabes 
Polri sudah dieliminasi BIN. 

Anehnya, petinggi Polri justru memberikan kesan 
seolah-olah Hambali adalah sosok yang masih hidup dan kini 
tengah dicari-cari (diburu), karena punya kaitan dengan 
Ba’asyir. 



Sementara itu, ustadz Abu Bakar Ba’asyir justru sudah 
tidak sabar menanti persidangan. Barangkali untuk meyakinkan 
publik, pihak aparat akan memunculkan sosok “Hambali” new 
version ke hadapan kita. 

Sumber: 

From: "Somad Karim" < somadkarim@yahoo.com > 

Sent: Thursday, October 31, 2002 7:47 AM 
Subject: [Sabili] Re: Antara Ba’asyir dan Hambali 



12 

Menciptakan 
Hantu Teroris 

Oleh Ir. Muhammad Umar Alkatiri* 

M ANTAN Direktur Bakin, A. C. Manullang pada 
sebuah media mengatakan, Omar Al-Farouq adalah 
agen binaan CIA, yang ditugaskan menyusup, 
merekrut agen lokal dari kalangan Islam radikal. Banyak yang 
terheran-heran dengan pernyataan itu. Bagaimana mungkin Al- 
Farouq yang menikahi Mira Agustina yang bercadar, putri dari 
Haris Fadhillah alias Abu Dzar, panglima perang yang tewas di 
Ambon belum lama ini, adalah agen CIA? 

Begitulah kenyataannya. Kalangan Islam (pergerakan) 
memang amat sangat rentan disusupi. Terutama sejak 
dasawarsa pertama Orde Baru. Misalnya, pada kasus Komando 
Jihad, yang melibatkan nama Hispran, Adah Djaelani, Danu M. 
Hasan, tokoh senior DI-TII atau NII, yang dipercaya Ali 
Moertopo melalui ajakan “kerja sama” menggalang kekuatan 
untuk mengusir bahaya komunisme dari Utara (ketika itu 
Amerika baru saja kalah perang dengan Vietnam yang 
komunis). 

Kemudian di tahun 1981, kelompok pengajian pimpinan 
Imran di Cimahi, Jawa Barat, disusupi Najamuddin, yang 
kemudian diidentifikasi sebagai “intel”. Orang inilah yang 



memprovokasi anak-anak muda itu bertindak anarkis, 
menyerang Kantor Polisi Cicendo (Bandung), bahkan 
kemudian merancang pembajakan pesawat Garuda yang 
terkenal dengan kasus Pembajakan Woyla. 

Itu hanya dua contoh yang bisa dikemukakan. Kalau 
“intel” lokal saja begitu mudah menyusup ke dalam Islam 
pergerakan, tentu lebih mudah lagi bagi intel luar untuk 
menyusup. Apalagi sumber daya manusia Islam pergerakan 
kebanyakan dari kalangan sosial ekonomi yang belum kuat, 
begitu juga dengan kapasitas intelegensianya yang belum 
setara, sehingga gerakan intelligence selalu dihadapi dengan 
otot dan emosi. 

Kelemahan pada dua sektor “sosial ekonomi dan 
kapasitas intelegensia” tadi, sebenarnya sudah dapat dijadikan 
bukti untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang layak jadi 
teroris di Indonesia ini. Kalau toh ada, itu “diciptakan” oleh 
kekuatan dari luar dirinya. Partisipannya adalah mereka yang 
“tidak tahu” atau “tidak sadar” namun ada juga yang “tahu” dan 
“sadar” demi sejumlah imbalan yang sebenarnya tidak patut. 

Upaya menciptakan hantu teroris lokal dari kalangan 
Islam (pergerakan) merupakan prestasi gemilang rezim Orde 
Baru. Bagi rezim Orde Baru —yang lahir setelah berhasil 
menjadikan komunisme sebagai hantu sekaligus ancaman 
bersama, dan menghabisi aktivis komunis dengan 
mengandalkan kekuatan umat Islam— tidak sulit menciptakan 
hantu teroris lokal dari kalangan Islam (pergerakan). 

Memberikan kesan adanya “teroris” lokal seperti itu, 
saya alami sendiri. Setiap menuju persidangan (dari rumah 
tahanan), aparat mengawal saya secara berlebihan. Sejumlah 
alat berat sudah siaga di sekitar persidangan. Menimbulkan 



kesan seram. Seolah-olah yang hadir adalah teroris kelas dunia. 
Padahal, kami hanyalah rakyat biasa yang secara amatiran 
melakukan peledakan di beberapa kantor BCA, karena marah 
terhadap ketidakadilan ekonomi, terutama atas pembantaian 
yang terjadi di Tanjung Priok, 12 September 1984. 

Prestasi inilah yang berusaha dimanfaatkan oleh CIA 
(Central Intelligence Agency) pasca tragedi WTC 911 (World 
Trade Center 11 September). Lahirnya tokoh-tokoh semacam 
Al-Farouq bukanlah hal yang aneh. Al-Farouq sudah mulai 
“beroperasi” setidaknya sejak 1999 di Indonesia. 

Dari segi nama “asli” yang digunakan Omar Al-Farouq, 
yaitu Mahmud bin Ahmad Assegaf, bisa dirasakan adanya 
kejanggalan. Bagi keturunan Arab-Indonesia, kombinasi nama- 
nama itu sangat tidak lazim. Nampaknya, nama “asli” itu 
disiapkan oleh orang Indonesia yang bukan keturunan Arab, 
sehingga tidak cermat dalam memilih kombinasi nama. 

Dua dari beberapa pengakuan Al-Farouq sebagaimana 
dilansir The Times, adalah keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir 
pada peledakan Istiqlal (1999) dan Peledakan pada malam 
Natal (24 Desember 2000). Rupanya ustadz Abu Bakar 
Ba’asyir dan kawan-kawana sudah sejak lama dijadikan target, 
untuk dijadikan “hantu teroris lokal”. Setidaknya sejak 1999, 
menurut Abdul Qadir Djaelani (anggota DPR RI) pada berbagai 
media, salah seorang petinggi berbintang dua pernah berusaha 
melakukan pendekatan kepada kawan-kawan Abu Bakar 
Ba’sayir yang ketika itu sedang merancang Kongres Mujahidin 
di Yogyakarta. Pendekatan itu tidak berhasil. 

Pendekatan kepada kelompok Ba’asyir itu dijalin 
(kuartal III 2000), setelah menemui kegagalan dengan skenario 



sebelumnya, memunculkan hantu teroris dari kalangan Islam 
(pergerakan) yang dianggap radikal. 

Di awal 1999, berkeliaran sesosok nama yang mengaku- 
ngaku sebagai Kahar Muzakar. Padahal kita tahu, Kahar sudah 
wafat sejak lama. Namun sebagian kalangan mempercayai 
sosok itu sebagai Kahar. Kemunculan tokoh itu mengawali 
lahirnya kasus Peledakan Plaza Hayamwuruk dan Perampokan 
BC A Tamansari, keduanya di Jakarta Barat, pada 15 April 1999 
yang dilanjutkan dengan kasus peledakan di Istiqlal, pada 19 
April 1999. 

Dari kedua peristiwa itu, mencuatkan nama kelompok 
AMIN (Angkatan Mujahidin Islam Nusantara) di Cijeruk, 
Bogor. Kawasan Cijeruk tentu sangat mengingatkan kita 
kepada sebuah kawasan tempat Omar Al-Farouq ditangkap 
aparat pada 5 Juni 2002 lalu. 

Adalah harian Republika yang sangat berjasa, karena 
merupakan media cetak yang pertama kali mengungkap sosok 
“Kahar Muzakar” yang punya nama alias Syamsuri, melalui 
pemuatan surat pembaca pada tanggal 27 April 1999. Pemuatan 
surat pembaca itu, yang kemudian diikuti oleh banyak media 
cetak, telah menyurutkan langkah Syamsuri dan kawan- 
kawannya. Kedok Syamsuri yang sedang terbongkar itu, 
rupanya berusaha diperbaiki oleh majalah Sabili (No. 12, Th. 
VIII, 29 November 2000), dengan menurunkan wawancara 
eksklusif dengan KH Sulaeman Habib, Mufti Besar RPII-Kahar 
Muzakar, salah seorang kawan baik Kahar Muzakar. Ternyata, 
Sulaeman Habib sebelum bergabung dengan pasukan Kahar 
Muzakar pernah masuk dunia militer di bagian semi-pionir 
(tukang rusak). 



Belakangan sosok Syamsuri semakin ditelanjangi oleh 
Majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2001. Ternyata, 
Syamsuri yang biasa dipanggil Kiai, dan diyakini pengikutnya 
adalah Kahar Muzakar asli yang masih hidup, menurut sebuah 
sumber adalah pensiunan perwira menengah pada sebuah 
angkatan. 

Meski secara terbuka Syamsuri pernah menyatakan 
bahwa dirinya bukanlah Kahar Muzakar, namun KH Sulaiman 
Habib dan Qahir (tangan kanan Syamsuri) tetap bergerilya 
meyakinkan banyak pihak bahwa Syamsuri adalah Kahar 
Muzakar. Nampaknya, setelah gagal memunculkan sosok 
Syamsuri (Kahar Muzakar palsu) untuk dijadikan hantu teroris 
lokal, diupayakanlah sosok lainnya yang bisa dijadikan hantu 
teroris lokal. 

Sebagai bagian dari komunitas Islam (pergerakan), saya 
berkesimpulan, bahwa tidak ada satu lembaga pun dari 
sejumlah lembaga Islam (pergerakan) yang punya kualifikasi 
untuk bisa menjalankan aksi terorisme (professional terorisme). 
Kalau toh ada aksi teror yang pernah terjadi dan pelakunya 
adalah salah satu dari kelompok Islam (pergerakan) tertentu, 
menurut saya, itu terjadi karena ada “kerja sama” dengan 
instansi lain yang lebih kuat. 

Artinya, mereka dimanfaatkan untuk menjalankan 
skenario orang lain. Atau, memang sengaja dilahirkan untuk 
menjadi hantu teroris, dalam rangka menakut-nakuti kita 
semua. “Oh, seraaam...” 

*Penulis adalah Mantan Napol Kasus Peledakan BCA 
Sumber: Harian BERITA BUANA, Sabtu, 9 November 2002, 
halaman 5. 



13 

Kronologis 

Kasus PHK Sepihak 
15 Wartawan 
Republika 

P ada April 2000, Indopac Usaha Prima masuk ke 
Republika atas rekomendasi Adi Sasono dengan modal 
Rp 6,667 miliar dan langsung mendominasi saham 
kepemilikan Koran dengan pembaca Muslim ini. Mereka 
menguasai 39,99 persen saham, sementara PT Abdi Bangsa, 
penerbit Republika, hanya 27,84 persen. Tak lama setelah itu 
Erick Thohir dkk masuk ke Republika dan Pami Hadi 
tersingkir. Saham karyawan pun menyusut sampai 12 persen. 
Setelah masuknya Erick, berbagai perubahan dilakukan. 
Mereka yang dinilai fundamentalis Islam mendapat sorotan 
tajam, di antaranya Dedi Junaedi, mantan Ketua Dewan 
Karyawan (serikat pekerja karyawan) Republika, dan 
Mujiyanto, wakil ketua Dewan Karyawan. Dua orang ini intens 
menyuarakan fatwa haram bagi mereka yang melaksanakan 
natal bersama dan anti terhadap gagasan Islam Liberal. 
Keduanya juga dianggap Islam fundamentalis yang tak cocok 
buat masa depan Republika. 



April 2002 

Dedi Juanedi terpilih sebagai ketua badan eksekutif 
Dewan Karyawan (DK) Republika, menggantikan pengurus 
yang lama. Pada akhir April, pengurus DK bertemu dengan 
manajer SDM untuk membicarakan rencana rasionalisasi 
perusahaan dengan pesangon sekitar 3,5 sampai 4 kali 
Peraturan Menteri Tenaga Kerja (PMTK). Jumlah yang akan di 
PHK ini sekitar 90 sampai 100 orang dengan dana sekitar Rp 4- 
5 miliar. DK sendiri mengambil sikap tak keberatan adanya 
rasionalisasi demi kemajuan Republika asalkan aturan dan 
kriterianya jelas, serta sesuai dengan Kesepakatan Kerja 
Berama (KKB). KKB sendiri mengatur bahwa jumlah uang 
pesangon buat karyawan yang diberhentikan secara hormat 
adalah 5 kali PMTK, bukan 3,5 atau 4 kali. 

Mei 2002 

Uneg-uneg soal rencana rasionalisasi dan peningkatan 
kesejahteraan karyawan mulai berkembang. Untuk 
memfasilitasi maraknya uneg-uneg ini DK membuat milis di 
internet yang anggotanya semua karyawan Republika. Direksi 
agaknya tak senang dengan munculnya milis ini. Salah seorang 
direksi malah berkata kepada Dedi, "jika Republika runtuh, 
Dedi yang harus bertanggungjawab." 

Juni 2002 

Direksi menggelar pertemuan terbuka dengan seluruh 
karyawan. Direksi meminta karyawan bekerja lebih baik. Saat 
pertemuan itu Direksi juga mengutarakan rencana menjual 
gedung Republika di Buncit 37. 



Agustus 2002 

DK melakukan jajak pendapat soal rencana direksi 
menjual gedung Republika. Hasilnya, 58 persen karyawan tidak 
setuju gedung dijual. Direksi marah dan menilai DK sudah 
bersikap oposisi. 

Oktober 2003 

Bom Bali meledak. Direksi intens bertemu intelijen dan 
kalangan TNI. Tak jelas ada apa dibalik mulai akrabnya direksi 
dengan jajaran militer. Bahkan, ZA Maulani dan Soeripto tak 
boleh diwawancarai dan dikutip omongannya. Tapi, sekali-kali 
redaksi masih mengabaikan larangan ini. 

Nopember 2002 

Pada bulan Ramadhan, DK mengadakan tarawih 
bersama seluruh karyawan di kantor Republika setiap hari, 
sementara direksi menggelar acara buka puasa bersama dari 
hotel ke hotel. Direksi sempat meributkan acara tarawih 
bersama yang diselenggarakan DK sebagai acara tandingan 
terhadap program direksi. Pada bulan yang sama Dedi Junaedi 
mengeluarkan buku tentang konspirasi di balik bom bali. 
Konon, buku ini membuat kalangan BIN marah. Dedi akhirnya 
dimutasi ke suplemen Dialog Jumat. Kepada pemred dan 
Redaktur Pelaksana, direksi mengaku terus terang tak nyaman 
dengan aktivitas Dedi. 

Desember 2002 

DK menggagas acara pemilihan karyawan favorit 
dengan tujuan menaikkan kembali semangat kerja karyawan. 



DK ingin menunjukkan bahwa masih ada karyawan-karyawan 
yang loyal bekerja dan beribadah meskipun kondisi keuangan 
yang —katanya— lesu dan informasi mengenai perusahaan yang 
simpang siur. Sayangnya, manajemen tak mendukung acara ini. 
Bahkan mereka menilai acara ini hanya merongrong 
kewibawaan mereka. Pada bulan yang sama direksi 
mengeluarkan surat pemanggilan untuk rencana efisiensi 
kepada 30-an karyawan. Mereka dipanggil satu per satu dan 
ditawarkan untuk mengundurkan diri dengan pesangon 3,5 kali 
PMTK. 

Januari 2003 

DK bereaksi keras terhadap rencana ini. DK 
mempertanyakan kriteria apa sehingga seseorang itu “diajak” 
untuk mundur. Langkah direksi, menurut DK, sudah di luar 
batas kewajaran. Sebab, secara psikologis, orang-orang yang 
diajak untuk mundur sudah merasa “terbuang” dan tak 
memiliki semangat kerja lagi. Padahal, tak ada kriteria yang 
jelas atas pemanggilan itu. Terbukti, beberapa di antara 
karyawan yang dipanggil itu sudah merasa “tak dibutuhkan 
lagi” dan akhirnya menerima permintaan perusahaan untuk 
diberhentikan tak sesuai dengan KKB. Pada bulan yang sama, 
untuk mengantisipasi kasus serupa terulang lagi, DK menggelar 
sosialisasi isi KKB kepada karyawan, terutama pasal-pasal 
yang menyangkut PHK, sekaligus hitungan pesangon jika di 
PHK. 

Februari 2003 

Direksi mengundang DK untuk membicarakan rencana 
PHK. Pertemuan berlangsung panas karena DK ngotot 



mempertahankan KKB sementara direksi berniat 
mengubahnya. Wakil Dirut pada rapat itu mengatakan “kalau 
kalian tak mau kompromi, silahkan pilih kalian yang keluar 
atau kami yang keluar.” 

Maret 2003 

Direksi mengadakan rapat manajemen di luar kantor. 
Lalu, sekitar 20-an karyawan dirumahkan sambil menunggu 
realisasi program PHK. Kebanyakan 20-an karyawan ini 
adalah yang menolak menerima pesangon 3,5 kali PMTK. 

April 2003 

Perusahaan berencana melatih dan memagangkan 20 
orang BIN di Republika. DK menolak rencana tersebut dengan 
alasan itu tak akan membawa maslahat, sebaiknya potensi 
mudlaratnya amat besar. Acara batal karena 10 instruktur yang 
ditunjuk mengajukan keberatan. 

Mei 2003 

DK menggelar rapat terbuka untuk menyerap aspirasi 
karyawan. Muncullah usulan-usulan agar perusahaan mau 
memperbaiki kesejahteraan karyawan hingga 80 persen dari 
sebelumnya. Usulan ini diteruskan ke direksi dan mereka 
menyetujui adanya kenaikan gaji pada Juli 2003. Namun, 
persentase besarnya kenaikan belum diumumkan. 

Juni 2003 

Lagi-lagi, direksi meluncurkan program pengunduran 
diri sukarela (PDS) dengan pesangon 3 kali PMTK. DK 
mengingatkan agar program ini jangan mengulang kesalahan 



masa lalu, jangan ada paksaan, tidak boleh menunjuk nama 
karyawan, hitungan pesangon harus jelas, sehingga karyawan 
mendapat kesempatan berfikir realistis untuk menerima 
tawaran ini. Beberapa hari kemudian redaksi menggelar rapat 
di Puncak, Bogor. Isinya, menolak program PDS. Sebab, 
program ini dinilai akal-akalan direksi untuk melakukan 
program rasionalisasi dengan biaya murah. Muncul juga 
keinginan untuk mendesak direksi agar tak main-main dengan 
tuntutan perbaikan kesejahteraan karyawan. Setelah pertemuan 
itu usai, beredarlah isu “dewan jenderal” yang direkayasa 
manajemen perusahaan untuk membuat DK tandingan. 
Tujuannya, membubarkan DK pimpinan Dedi Juanedi. Dedi 
juga sempat dirayu untuk mundur dari DK, tapi yang 
bersangkutan menolak dengan alasan itu bukan aspirasi 
karyawan. 

Rabu, 18 Juni 2003 

Direksi mengajak DK rapat soal kebijakan baru 
perusahaan untuk mem-PHK beberapa karyawan dalam rangka 
rasionalisasi. Sekali lagi, DK menyatakan tidak keberatan asal 
melalui proses dan kriteria yang jelas, serta sesuai dengan 
KKB. Direksi kemudian berjanji bahwa penilaian layak 
tidaknya seorang karyawan di PHK harus melibatkan 
(rekomendasi) kepala divisi yang bersangkutan. Beberapa 
menit setelah rapat usai, manajemen menggelar acara serah 
terima jabatan pemred dari sebelumnya Yayat Supriyatna ke 
Asro Kamal Rokan. Secara mengejutkan, saat itu juga 
diumumkan susunan redaksi yang baru. Dan, yang lebih 
mengejutkan lagi, pergantian tersebut efektif beijalan detik itu 
juga, tak ada tenggang waktu untuk penyesuaian. Nama 15 



wartawan yang di PHK sama sekali tak ada dalam daftar jajaran 
redaksi yang baru. Beberapa menit setelah sertijab usai (sekitar 
dua jam dari pertemuan Direksi DK), dua staf SDM 
mendatangi ruang redaksi sambil membawa surat pemanggilan 
untuk efisiensi kepada 15 wartawan, yaitu Dedi Junaedi, 
redaktur suplemen Dialog Jumat sekaligus Ketua DK 
Republika; Mujianto, redaktur halaman luar yang juga wakil 
ketua DK; Mahladi, redaktur suplemen Rekor yang merangkap 
sekretaris DK; Nizom, editor bahasa merangkap anggota divisi 
pelatihan DK, Zis Muzahid Hasan, redaktur website Republika 
Online (ROL) yang juga mantan sekretaris DK. Kemudian Bani 
Saksono, redaktur nasional merangkap mantan ketua DK, Aris 
Eko Sudiono, redaktur Republika Minggu; Luthfi Hamidi, 
redaktur ekonomi syariah; Ritno Hendro Irianto, redaktur 
Republika Minggu; Dani Rachmat Bagja, redaktur olahraga; 
Sigit Pramono redaktur ROL; Syamsil Ajirismandiar, redaktur 
suplemen Kalam; Nur Haryanto wartawan olahraga dan Bowo 
Leksono wartawan Kalam. 

Semula, redaksi berencana melakukan mogok pada saat 
itu juga, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan perusahaan 
yang dinilai bewenang-wenang. Beberapa kali Pemred, Asro 
Kamal Rokan, menyuruh redaksi untuk bekerja kembali, tapi 
permintaan tersebut tak digubris. Wartawan yang tak di PHK, 
dimotori oleh Subroto, Damanhuri Zuhri, Evi Susidia, dan Siti 
Darojah, berkali-kali meminta kepada perusahaan agar 
keputusan tersebut ditinjau kembali, tapi perusahaan menolak. 
Sebagian besar wartawan yang tak tahan melihat nasib rekan- 
rekan yang ter PHK menyatakan rasa dukanya dengan 
menangis, sementara pemred tetap bersikukuh tak mau 
mengatakan alasan PHK. "Saya berhak tidak menjawabnya." 



Ke- 15 wartawan ter-PHK berkumpul dan menimbang baik- 
buruknya jika mogok terjadi saat itu. Mogok memang hak 
karyawan, namun perlu memperhatikan prosedur antara lain 
memberitahukan terlebih dahulu ke pihak manajemen minimal 
seminggu sebelum hari-H. Jika mogok spontan terjadi 
karyawan bisa kena sanksi hukum. Atas dasar itu, kelompok 1 5 
(wartawan yang di-PHK) kemudian mempersilakan teman- 
teman untuk bekerja agar koran bisa terbit keesokan harinya. 

Mulai pukul 20:00 redaksi kembali bekerja. Malam itu 
redaksi bersepakat untuk menghadap manajemen secara 
bersama-sama. Pertemuan itu bukan untuk menghasilkan 
keputusan, melainkan minta waktu penundaan eksekusi sampai 
satu pekan ke depan. 

Kamis (19 Juni 2003) 

Pagi-pagi, awak redaksi sudah berkumpul. Sekitar 
pukul 08.00, sejumlah lebih dari 60 wartawan (reporter dan 
redaktur) bertemu manajemen yang saat itu diwakili Direktur 
Keuangan Robin D Hartono dan Manajer SDM Teuku Khairul. 
Subroto mengawali pembicaraan dengan mengajukan 
pertanyaan-pertanyaan, mengapa proses PHK begitu cepat? 
Apa kriteria dan bagaimana prosesnya? Siapa bertangungjawab 
menyusun 15 nama itu? Jika tak bisa ditinjau kembali, Redaksi 
minta penundaan eksekusi sampai pekan berikutnya. 

Robin dan Khariul menjelaskan pihaknya tidak 
berkompeten untuk menjawab. Soal permintaan penundaan 
eksekusi, setelah mengontak Wadirut DG, Robin menyatakan 
setuju, tapi waktunya cuma satu hari. 



Siangnya, jajaran redaksi minta pertanggungjawaban 
dari pemred, wapemred dan redpel untuk menjelaskan apa yang 
sebenarnya terjadi di balik proses PHK yang begitu cepat. 
Pemred Asro kembali mengatakan, dirinya berhak untuk tidak 
bicara. Malamnya, kelompok 15 masih berpikir untuk 
mempertimbangkan tawaran advokasi dari Jaringan Jurnalis 
Profetik, Aliansi Jurnalis Independen, dan Pusat Advokasi 
Hukum dan HAM (PAHAM) untuk membawa masalah ini ke 
pengadilan. 

Jumat (20 Juni 2003) 

Ba’da shalat Jumat, redaksi dan kelompok 15 kembali 
berunding untuk mengambil sikap. Ketua DK mengatakan, 
kalau mau kita bisa mengambil langkah hukum minimal 
memakai UU Perlindungan Serikat Pekerja. Jangankan 
memberhentikan, menurut UU ini, sekadar memindahkan dan 
menurunkan aktivis serikat pekerja (DK) itu merupakan tindak 
pidana dengan ancaman penjara sampai 5 tahun dan denda Rp 
500 juta. Masalahnya, itu butuh waktu lama dan akan memakan 
energi besar dengan dampak yang mungkin merugikan teman- 
teman yang masih berada di Republika. Apa jadinya jika 
manajemen dan karyawan Republika gugat-gugatan di 
pengadilan dan ditonton publik. Maka, dengan mengedepankan 
aspek maslahat/mudlaratnya, kami mengambil sikap untuk 
sedapat mungkin menghindari langkah hukum. Menjelang sore, 
terjadilah penandatanganan persetujuan PHK oleh 15 
wartawan, didampingi pengurus DK yang tersisa. Setelah itu 
Redaksi menggelar acara perpisahan redaksi. Tak bisa 
digambarkan bagaimana besar rasa kehilangan teman-teman 
Republika. “Republika telah kehilangan orang-orang sholeh, 



figur-figur yang selama ini menjadi ikon Republika sebagai 
koran Islam,” kata Irwan Kelana, redaktur senior. Sementara 
Subroto mengatakan, “mereka adalah orang-orang yang selama 
ini selalu bersikap kritis dan punya komitmen keislaman yang 
kuat. Kami sungguh amat prihatin. Kalau bisa memilih, kami 
merasa lebih terhormat masuk kelompok yang ter-PHK.” 

Sumber: 

Sent: Thursday, June 26, 2003 2:13 PM 

Subject: [ar-royyan] KRONOLOGIS PEMECATAN 15 WARTAWAN REPUBLIKA 

(SEBARKAN) 



14 

Omar Al Farouq, 
Haris dan Amrozy 

P ekan ketiga bulan Oktober 2002, pada salah satu 
edisinya harian REPUBLIKA mengutip pernyataan Mira 
Agustina (istri Omar Al Farouq). Antara lain dikatakan, 
bahwa suaminya ketika ditangkap aparat 5 Juni 2002 sedang 
bersama dengan seorang kawannya bernama Haris. 

Siapa Haris? Nama lengkapnya adalah Abdul Haris. 
Lulusan IAIN, pernah menempuh pendidikan di Madinah untuk 
meraih gelar Lc. Ia adalah perwira sebuah angkatan di 
lingkungan TNI. Sekolah ke Madinah, juga merupakan salah 
satu tugas yang harus ia jalankan. 

Abdul Haris pernah berkelana ke Masyumi Baru yang 
dideklarasikan Ridwan Saidi. Ikut nimbrung di Masyumi 
pimpinan Abdullah Hehamahua. Yang agak lama, di Majelis 
Mujahidin Indonesia. Ia ikut Kongres Mujahidin yang 
berlangsung 5-7 Agustus 2000. Dan masuk ke dalam struktur 
khususnya di Departemen Hubungan Antar Mujahid bersama 
dua nama lainya sebagai pengurus inti departemen tersebut. 

Nampaknya, Abdul Haris sudah mulai menyusup ke 
institusi Islam garis keras jauh sebelum berlangsungnya 
Kongres Mujahidin 5-7 Agustus 2000. Apalagi selama ini ia 



selalu menunjukkan kedekatannya dengan Prof. Deliar Noer, 
juga dengan Ustadz Rani Yunsih. 

Karena ia dikenal dekat dengan dua nama tadi, maka 
mudah baginya masuk ke gerakan Islam, seperti MMI. 

MMI pernah didekati oleh seorang Letjen AD namun 
tidak berhasil. Pemah juga didekati oleh Syamsuri (pensiunan 
perwira AL yang mengaku-aku sebagai Kahar Muzakar), juga 
tidak berhasil. Pernah juga didekati oleh Nurhidayat, 
provokator kasus Lampung (1989), seorang petualang politik 
yang membawa-bawa nama Islam untuk mendapat recehan, 
juga tidak berhasil. 

Ketika disusupi Abdul Haris, MMI tidak menyadari 
sampai akhirnya meledak kasus Omar Al-Farouq. 

Ternyata Abdul Harislah yang mengurus passport Omar 
Al Farouq. Bahkan Abdul Haris pula yang bersama-sama 
dengan Brigjen Aryanto Sutadi dan seorang pejabat BIN 
menemui Omar Al Farouq di sebuah negara yang dirahasiakan. 

Abdul Haris nampaknya intel kelas kakap. Ia sudah 
bebekerja untuk badan intelijen jauh sebelum BIN, setidaknya 
sejak awal 1990-an. 

Kaitannya Dengan Amrozy 

Pada harian MEDIA INDONESIA terbitan Rabu, 13 
November 2002, halaman 1, "Zakaria Yakin Amrozi Pelaku 
Peledakan Bom" khususnya 4 alinea terakhir, dikutip 
pernyataan Humas BIN Muchyar Yara: ". BIN tidak melakukan 
penangkapan terhadap AH, orang yang diduga berperan sebagai 
intellectuele dader dan koordinator peledakan bom Bali." 



Abdul Haris nampaknya ingin "dikorbankan" setelah 
pihak aparat gagal mengkaitkan Amrozy dengan Ba'asyir. 
Sebelumnya Amrozy dikatakan sebagai pelaku utama kasus 
bom Bali. Namun, membuat skenario yang bisa menyeret 
Ba'asyir ke dalam kasus ini cukup rumit. 

Lain halnya bila yang dijadikan tokoh utama kasus Bali 
adalah Abdul Haris. Ia punya jabatan penting di MMI pimpinan 
Ba'asyir. Ia juga berpendidikan S-l IAIN, dan mengerti Islam, 
kenal dengan Prof. Deliar Noer dan Ustadz Rani Yunsih. Ia 
merupakan sosok yang sempurna untuk dijadikan "tokoh teroris 
Islam garis keras". 

Menurut kabar terakhir, konon Abdul Haris kini sudah 
ditangkap aparat Kepolisian. Boleh jadi melalui pengakuannya, 
kelak Ba'asyir akan dituduh sebagai imam spiritual yang 
memerintahkan AH melakukan peledakan di Bali. Karena AH 
adalah pejabat MMI maka MMI diberangus, dan selanjutnya 
memberangus gerakan Islam lainnya. 

Namun demikian, rekayasa Allah jualah yang paling 
sempurna. 

Sumber: 

From: "Doddy Syafrudin " < doddv-syaf@operamail.com > 

Sent: Friday, November 15, 2002 7:19 AM 
Subject: [Sabili] Omar Al Farouq, Haris dan Amrozy 



15 

ICG dan Kesaktian 
Sidney Jones 

Oleh Irfan S. Awwas 

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahdin Indonesia 

P ADA masa reformasi sekarang ini, rezim Megawati 
mewarisi sepak terjang pendahulunya dengan memburu 
orang-orang yang diduga terlibat dalam apa yang 
disebutnya sebagai Jamaah Islamiyah. Semua ini terjadi akibat 
intervensi pihak asing, terutama AS. Untuk yang terakhir ini, 
peranan ICG (International Crisis Group) -khususnya Sidney 
Jones— di dalam membentuk opini sangat jelas, dan dilakukan 
secara sistematis. 

Meski terlihat ringkih, Sidney Jones jelas punya 
kesaktian yang mampu menyihir kita. Laporan direktur ICG 
untuk Indonesia ini, yang diterbitkan Agustus lalu mengenai 
"Ngruki Network" menunjukkan hal itu. 

Selain kalangan pers, pakar sejarah dan pakar politik di 
Indonesia seperti mendapat "pencerahan" melalui laporan 
sigkat itu. Bahkan, ada yang seperti terkesima menyaksikan 
tayangan yang disuguhkan Sidney Jones tentang diri kita 
sendiri. 

Antara lain, digambarkan, saya dan Agus Dwikarna — 
kini menjadi tahanan polisi Filipina— sudah berkawan sejak 



lama, semenjak menjadi sesama aktivis menentang asas tunggal 
Pancasila. Padahal, saya kali pertama berjumpa dan kenal Agus 
pada Agustus 2000, ketika ia membawa banyak partisipan dari 
Makassar pada Kongres Pertama Mujahidin Jogjakarta. 

Agus adalah aktivis KPPSI (Komite Persiapan 
Penegakan Syariah Islam) di Sulawesi Selatan, yang 
kelangsungannya sudah terjalin sebelum Kongres Mujahidin. 
Bila untuk peristiwa yang belum lama terjadi akurasi laporan 
Sidney Jones melenceng jauh, bagaimana mungkin kita bisa 
mempercayai rangkaian fakta masa lalu yang dijadikannya 
sumber utama mengaitkan Al Qaidah dan Jamaah Islamiyah 
dengan Ustad Abu Bakar Ba'asyir. 

Pada bagian lain dituliskan Abdullah Anshari alias Ibnu 
Thoyib alias Abu Fatih pada Juni 1986 mengasingkan diri ke 
Malaysia. Padahal, yang bersangkutan pada 1986 berada di 
Lapas Cipinang dan sebelum 1986 dia sudah mendekam di 
Lapas dengan vonis 9 tahun untuk kasus Usroh, dan tetap 
mendekam di Lapas hingga bebas 1993. 

Pada masa Orde Baru, sosok seperti Sidney Jones bagi 
para tahanan politik seperti saya, misalnya, adalah kawan yang 
punya semangat sama, yaitu melawan tirani Orde Baru. Tentu 
aneh bila kini sosok Sidney Jones justru tampil dengan wajah 
baru yang tidak bersahabat. 

Laporan sensasional ICG, khususnya Indonesia Brefing, 
8 Agustus 2002, berjudul Al-Qaeda in Southeast Asia: The Case 
of The "Ngruki Network" in Indonesia semakin memberatkan 
orang-orang yang menjadi korban tuduhan teroris Amerika. 

Sidney Jones mengais-ngais dokumen peradilan yang 
sudah lama menjadi "sampah" yang teronggok di sudut 



rumahnya. "Sampah" itu serta-merta menjadi harta karun 
setelah tragedi WTC, 11 September 2001. 

Melalui dokumen peradilan itulah Sidney Jones 
merangkai sebuah jalinan cerita dan mengaitkannya dengan 
peristiwa yang terjadi masa kini. Mengaitkan Ba'asyir dengan 
Jamaah Islamiyah, dengan Omar Al-Faruq, dan sebagainya. 

Sidney Jones tidak bisa disalahkan. Dia punya hak 
memanfaatkan "sampah" itu sebagai apa saja. Dia punya hak 
menjadikan "sampah" itu sebagai bahan dasar merekonstruksi 
sejarah anak bangsa dalam rangka memenuhi kesimpulan yang 
dia inginkan, meski itu untuk mendukung kepentingan badan 
intelejen tertentu. Yang salah adalah kita. Momen sejarah yang 
belum terlalu lama berlalu harus dituliskan orang asing seperti 
Sidney Jones. Bahkan menjadikannya sebagai kebenaran. 

Pada laporan terbaru ICG 1 1 Desember 2002 (Indonesia 
Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network 
Operates), antara lain, disebutkan Teungku Fauzi Hasbi (putra 
Hasbi Geudong), pernah menjalin hubungan dengan Letnan 
Satu Syafrie Syamsudin —kini mayor jenderal. 

Laporan itu hanya menggambarkan bahwa Teungku 
Fauzi Hasbi (paman Al Chaidar) masih menjalin komunikasi 
dengan Syafrie hingga kini. Juga digambarkan Hasbi punya 
kedekatan dengan A.M. Hendropriyono (kepala BIN). Padahal, 
hingga kini dia masih menjalin kontak tidak saja dengan 
Syafrie, bahkan dengan banyak petinggi militer aktif dan 
purnawirawan seperti Wiranto (mantan Pangab). Karena itulah, 
GAM pimpinan Teungku Fauzi Hasbi oleh kalangan Islam 
pergerakan disebut GAM made in militer untuk 
membedakannya dengan GAM lainnya. 



Masalah lainnya, laporan yang dipublikasikan secara 
berkala itu terasa menyesakkan dada akibat aroma diskriminasi 
yang ditiupkannya begitu menyengat. Jika ICG bisa 
menemukan fakta keterlibatan JI dalam setiap kasus 
pengeboman yang konon dirancang untuk memuluskan gagasan 
Negara Islam Nusantara, mengapa ICG tidak menemukan 
gerakan Kristen Asia Pasifik, dengan embrionya di Indonesia 
berupa Gerakan Papua Merdeka yang mengibarkan bendera 
Bintang Kejora dan gerakan separatis RMS di Maluku? 

Laporan ICG mencoba meyakinkan kita bahwa 
pengeboman Bali dilakukan kelompok Imam Samudera. 
Kesimpulan tersebut mendahului keputusan pengadilan yang 
baru digelar Januari 2003. Adakah hal ini dimaksudkan untuk 
memprovokasi aparat keamanan agar bersikap lebih represif 
terhadap anggota JI yang disebut jaringan terorisme 
internasional itu? 

Bila laporan ICG menguraikan motif pengeboman Bali 
karena dendam kepada AS yang arogan dan membantai umat 
Islam di mana-mana, mengapa logika yang sama tidak 
digunakan terhadap gerakan Negara Kristen Asia Pasifik, yang 
mengekspresikan kebenciannya kepada umat Islam dengan 
membantai muslim Madura di Sampit, tragedi Idul Fitri di 
Ambon, pembantaian ratusan santri Pesantren Walisongo di 
Poso, dan sekarang pembakaran kebun cengkih warga Muslim 
di Maluku? 

Dengan laporan sensasionalnya itu, ada beberapa hal 
penting yang ingin dicapai ICG. Pertama, memandulkan 
potensi perjuangan penegakan syariat Islam dengan 
memprovokasi aparat kepolisian supaya membasmi gerakan 
teroris yang dinisbahkan kepada Jamaah Islamiyah. Kedua, 



merusak citra TNI sebagai penghambat demokrasi melalui 
jalinan kerjasama antara oknum TNI dengan gerakan teroris di 
Indonesia. 

Ketiga, dengan bersikap tidak adil dan tidak jujur di 
dalam memberikan laporannya, ICG telah berupaya menutup 
kemungkinan lain bagi polisi untuk mencari pelaku 
pengeboman di luar komunitas Islam pergerakan. 

Sumber: Jawa Pos, Jumat 27 Desember 2002, OPINI. 



16 

Fuad Bawazier, 
Al-Chaidar dan 
Nur Hidayat 

K isman Latumakulita yang pernah menjadi “pengawal” 
atau “penjaga rumah” Fuad Bawazier, menurut 
pemeriksaan Polisi adalah pemilik sejumlah bom yang 
ditemukan di Hotel Mega, Menteng, Jakarta Pusat. 

Belakangan, Polisi menduga bom milik Kisman itu 
diperoleh dari kaki tangan Tommy dengan cara membeli 
seharga Rp 500.000,- per buah. Informasi ini jelas antiklimaks, 
karena ketika nama Fuad Bawazier terkait, orang sudah 
berharap polisi dapat menguak peranan Fuad di balik aksi teror 
bom selama ini. 

Ternyata Fuad tidak kenal Kisman, begitu juga 
sebaliknya. Kisman bisa menjadi penjaga rumah Fuad adalah 
atas ajakan Nur Hidayat. Jadi, sewaktu Fuad merasa terancam 
oleh massa Gus Dur, ia menyewa Nur Hidayat mantan napol 
kasus Lampung (1989) untuk menjaga rumahnya. Nur Hidayat 
kemudian mengajak Kisman dan kawan-kawan. 

Namun dalam kasus ini, nama Nur Hidayat tidak 
mencuat, hanya nama Kisman yang melambung, padahal boleh 



jadi Nur Hidayat pun terkait dengan kasus kepemilikan bom 
oleh Kisman. 

Nur Hidayat, oleh Abdul Qadir Djaelani (anggota DPR 
RI) pernah dituding terlibat dalam kasus peledakan bom di 
malam Natal (24 Desember 2000). Nampaknya Nur Hidayat — 
yang pemah menjadi provokator kasus Lampung (1989) dan 
ikut melahirkan Pam Swakarsa di masa Habibie— sampai kini 
masih berada tak jauh dari lingkaran aksi teror. 

Menurut seorang aktivis Islam, sejak tiga bulan lalu 
(September 2001) Nur Hidayat nampak sibuk di sekitar Jawa 
Timur. Ia nampak sedang ngubek-ngubek Jatim, mengajak 
sejumlah aktivis Islam pergerakan (khususnya aktivis NII atau 
DI) untuk “berjuang” (aksi peledakan). 

Ajakan Nur Hidayat itu tidak digubris, karena banyak di 
antara aktivis Islam pergerakan yang sudah tahu jati diri Nur 
Hidayat, yang digolongkan sebagai “pejuang recehan”. Namun 
ada juga yang karena keawamannya mau diajak oleh Nur 
Hidayat untuk “berjuang” (aksi peledakan). Mungkin ini ada 
kaitannya dengan kasus peledakan Gereja Petra yang terkesan 
amatiran, dan pelakunya pun para anak muda yang belum kenal 
dunia pergerakan Islam secara baik, akibatnya mereka tidak 
kenal jati diri Nur Hidayat sebenarnya. 

Anak-anak muda itu, kemungkinan besar berasal dari 
faksi DI yang ada, namun tindakannya konon sama sekali 
bukan atas perintah faksi DI yang menaunginya. 

Informasi inilah yang sebenarnya hendak disampaikan 
Al Chaidar. Namun Al Chaidar sendiri sulit untuk 
menjelaskannya secara gamblang kepada publik karena sulitnya 
menemukan bukti-bukti kongkrit yang jelas dan kuat. Al 



Chaidar cuma bisa menyebutkan “informasi ini merupakan 
sinyalemen yang berbentuk indikasi”. 

Dalam mengungkap “sinyalemen berupa indikasi” 
tersebut ternyata Al Chaidar punya motivasi beragam. 

Sebagaimana diketahui, beberapa hari setelah terjadi 
kasus peledakan Atrium (1 Agustus 2001), kantor Al Chaidar di 
gang Arab digrebek aparat polisi, dan sejumlah dokumen 
(termasuk buku-buku) diangkut untuk dijadikan alat bukti. 

Setelah penggerebekan itu, Al Chaidar kemudian 
mempraperadilankan Kapolri dengan tuntutan 2, 1 miliar rupiah. 
Oleh aparat proses ini tidak dijalankan dengan alasan Al 
Chaidar bukan warga negara RI tetapi warga negara DI. 
Terjadilah tawar menawar, yaitu agar Al Chaidar mau 
membuka mulut tentang faksi DI garis keras. 

Namun, Al Chaidar hanya bisa memberikan 
“sinyalemen berbentuk indikasi” karena siapa pun tahu, amat 
mustahil bisa memberikan bukti-bukti kongkrit dan jelas untuk 
kasus seperti ini. 

Setidaknya dengan memberikan “sinyalamen berbentuk 
indikasi” itu Al Chaidar mendapatkan beberapa hal: 

1 . Popularitas 

2. Kantornya tidak dijadikan sasaran penggerebekan 
aparat polisi. 

3. Faksi garis keras yang merencanakan aksi teror 
(peledakan) mengurungkan niatnya. 

4. Proses mempraperadilankan Kapolri bisa berlanjut, dan 
kalau toh tuntutannya dikalahkan, setidaknya Al 
Chaidar masih berharap dapat “uang recehan” dari 
kepolisian. 



Beberapa saat setelah Al Chaidar menyampaikan 
pernyataannya di media massa, tampak Nur Hidayat (dan Eggy 
Sujana dll) membuat pernyataan yang bermaksud 
mementahkan Al Chaidar. 

Apa perlunya Nur Hidayat melakukan itu? Karena ia takut 
sepak terjangnya terbuka kembali, sebagaimana pernah terjadi 
pada kasus bom malam natal 24 Desember 2000 lalu. 

Konon, saat ini Nur Hidayat berhutang sebesar Rp 50 juta 
kepada Saurip Kadi, yang pernah disinyalir terlibat kasus bom 
malam natal 24 Desember 2000 lalu. Bukan mustahil untuk 
membayar hutangnya, Nur Hidayat mau menerima order dari 
siapa saja untuk melakukan aksi teror. 

Yang jadi pertanyaan, bila Al Chaidar diperiksa sebagai 
saksi, mengapa polisi tidak memeriksa Nur Hidayat sebagai 
saksi untuk kasus peledakan bom malam natal 2000 lalu, 
padahal ia termasuk “yang tahu sebelum peristiwa itu terjadi 
namun tidak melaporkannya kepada Polisi” (baca RAKYAT 
MERDEKA edisi 29 Januari 2001 hal. 13). 

Artinya, proses pemeriksaan Al Chaidar akan berhenti tanpa 
hasil. Tentu saja penonton pun kecewa. 

Sumber: 

From: apakabar(a),saltmine. radix. net 

Date: Sat Nov 24 2001 - 12:55:35 MST 


17 

Al Faruq Beli 3 Ton Bahan 
Peledak dari Sumber TNI 

Reporter : Nurul Hidayati 

detikcom - Jakarta, Berita mengejutkan datang dari harian 
Sunday Times. Koran Inggris ini menulis bahwa Omar Al 
Faruq selama ini telah membeli bahan peledak sebanyak 3 ton. 
Barang berbahaya sebanyak itu dibeli dari sumber-sumber TNI. 

Berita Sunday Times itu dilansir koran Singapura The 
Straits Times edisi Senin (21/10/2002). Sunday Times mengaku 
melihat sendiri sebuah dokumen penting yang berisi statemen 
Al Faruq yang mengaku telah membeli bahan peledak itu dari 
sumber-sumber TNI. 

Koran itu juga menyatakan bahwa militer Indonesia 
juga menggunakan bom plastik alias C-4 (C-four). Bom jenis 
ini sendiri terdeteksi di sisa ledakan bom Bali. 

Sekadar diketahui, petinggi TNI jauh hari telah 
membantah pihaknya memiliki dan menggunakan bom C-4. 
KSAD Jenderal E.Sutarto mengaku jajarannya hanya memakai 
bahan peledak jenis TNT. "Standar bahan peledak di TNI 
sampai saat ini hanyalah TNT," tegas KSAD. 


Sumber: Detik.com 21 Oktober 2002 
http://www.detik.com/peristiwa/2Q02/ 1 0/21/2002 1021-1 020 14.shtml 




18 

Rencana Membunuh 
Megawati 

M emang rencana membunuh Megawati bukanlah 
isapan jempol. Tetapi, gagasan itu bukan lahir dari 
kalangan Islam. 

Sekelompok militer Orde Baru menjelang akhir 
kejatuhan Soeharto, memunculkan issu bahwa bila Megawati 
naik ke RI-1, maka komunis akan bangkit kembali. Di belakang 
Megawati ada Amerika Serikat. 

Begitulah analisa yang disosialisasikan kalangan militer 
tentang Megawati, yang kala itu mendapat dukungan 
(emosional) dari banyak kalangan wong cilik. Sebenarnya, 
yang mereka (keluarga Soeharto dan militer) takutkan adalah 
politik balas dendam. 

Dulu, Soekarno disakiti, dizalimi rezim fasis Soeharto 
dengan tuduhan terlibat komunis. Maka, bila Megawati 
menjadi Presiden, dikhawatirkan terjadi aksi balas dendam 
terhadap Soeharto dan keluarganya, termasuk militer 
khususnya AD. 

Dagangannya kalangan militer itu ditawarkan ke sana 
ke mari, khususnya kepada kelompok Islam tertentu yang 
mempunyai potensi radikalisme. Dagangan itu sempat 



ditanggapi, tapi yang jelas, bukan Ba'asyir dan kawan- 
kawannya. 

Rencana membunuh Megawati tidak terbukti terlaksana. 
Hingga kini Mega masih hidup. Yang berhasil adalah kasus 27 
Juli yang melibatkan Soetiyoso. Ironisnya, Megawati yang 
didongkrak oleh kasus 27 Juli setelah jadi Presiden justru 
mendukung Soetiyoso menjadi Gubernur untuk masa jabatan 
kedua kalinya. 

Mega menangguk keuntungan bisa jadi Presiden. 
Militer juga untung. Eh, yang mendapat stigma malah umat 
Islam, Abu Bakar Ba'asyir, dituduh merencanakan 
pembunuhan terhadap Megawati. 

Militer kita adalah antek Amerika. Jadi rencana 
membunuh Megawati adalah pesanan AS yang takut 
komunisme bangkit kembali bila Mega jadi Presiden. 

Memang terbukti, setelah Mega jadi Presiden, unsur 
komunis jadi berani tampil. Namun tidak terbukti bahwa Mega 
melakukan politik balas dendam kepada Soeharto. Justru ia kini 
lebih layak disebut sebagai Megawati Soehartopoetri. 

Dulu militer memanfaatkan (baca: mengelabui) 

kalangan Islam untuk menjegal Mega. Kini, mereka mengadu- 
domba kalangan Islam dengan Polri (yang sudah lepas dari 
ABRI) melalui kasus Ba'asyir, bom Bali dan sebagainya. 

Oleh karena itu, camkanlah wahai umat Islam, jangan 
percaya rayuan gombal militer. Ahmad Soemargono, Fadli Zon, 
Farid Prawiranegara adalah orang-orang yang paling berdosa 
karena telah menjebloskan sebagian kecil kalangan Islam 
(pergerakan) ke dalam jebakan militer! 



Untungnya, masih banyak Islam pergerakan yang 
waras, dan sampai sekarang tidak mau bersentuhan dengan 
militer. Sebab mereka adalah sumber masalah! 

Sumber: 

From: "Doddy Syafrudin " < doddv-svaf@operamail.com > 

Sent: Thursday, November 21, 2002 8:09 AM 
Subject: [Sabili] Rencana Membunuh Megawati 



19 

Umat Islam dan Tentara 

02 April 2001 : 08.05 

Kolom Opini : Agus Kusnaeni (1) 

bangsaku.com - Sebelum ada TNI, sejak pra kemerdekaan 
hingga kemerdekaan, komponen-komponen pejuang terbagi 
dalam beberapa kelompok, yaitu Hisbullah, Peta (Pembela 
Tanah Air) dan Laskar-laskar. Milisi Hisbullah merupakan 
campuran berbagai ormas Islam seperti Muhammadiyah, 
Masyumi, Syarikat Islam, dan NU. 

Sedangkan milisi Peta (Pembela Tanah Air) 
mayoritasnya berasal dari Muhammadiyah, dimana Jenderal 
Besar Sudirman merupakan salah satu tokohnya. 

Yang dimaksud dengan laskar-laskar, terdiri dari 
berbagai laskar seperti laskar minyak, laskar listrik, laskar 
pesindu, laskar pemuda sosialis dan laskar Kristen. 

Laskar pemuda sosialis dan laskar kristen adalah 
minoritas. Sedangkan laskar minyak, listrik dan sejenisnya 
berasal dari komunitas sejenis bajing loncat yang insyaf dan 
membentuk kekuatan rakyat. 

Pada 1946 terbentuk TKR (Tentara Keselamatan 
Rakyat) yang berasal dari ketiga komponen tersebut, dan 
Hisbullah merupakan unsur yang paling banyak (mayoritas). 

Pada 1947, TKR menjadi TRI (Tentara Rakyat 
Indonesia), di bawah pimpinan Panglima Besar Sudirman yang 



berasal dari Peta. Sebagai wakilnya adalah Urip Sumoharjo 
seorang mantan tentara KNIL (tentara Belanda) yang beragama 
Kristen. 

Sejak saat itulah terjadi ketidak-adilan, dimana 
minoritas menguasai mayoritas di tubuh (embrio) TNI. Kelak, 
para pejuang sejati dari Hisbullah dan peta (terutama Hisbullah) 
digusur oleh mantan tentara KNIL. Selain Urip Sumohardjo 
(mantan KNIL beragama Kristen), mantan KNIL lainnya 
adalah Gatot Soebroto (Budha), Soeharto (Kejawen), dan A.H. 
Nasution (nasionalis sekuler yang keberislamannya tumbuh 
setelah digusur Soeharto). 

Tentara KNIL adalah tentara Belanda yang memerangi 
tentara rakyat Indonesia yang ketika itu sedang berusaha 
menggapai kemerdekaan. Tentara KNIL adalah pengkhianat 
bangsa. Namun ketika Indonesia merdeka, merekalah yang 
merebut banyak posisi di tubuh institusi tentara (TNI). 
Sedangkan pejuang sejati terutama yang tergabung dalam 
Hisbullah disingkirkan begitu saja. 

Terbukti kemudian, ketika para pengkhianat itu 
memimpin bangsa (seperti Soeharto), kehidupan kita menjadi 
penuh musibah. Soekarno juga seorang pengkhianat, ketika 
rakyat bersusah payah mengusir penjajah, ia justru membuat 
perjanjian damai dengan Belanda. Sedangkan anak angkat 
Gatot Soebroto yang bernama Bob Hasan, termasuk salah 
seorang tokoh pemegang HPH yang menggunduli hutan kita. 

Kahar Muzakar dan Kartosoewirjo 

Pada tahun 1946 Kahar Muzakar (Panglima Hisbullah 
dari Sulawesi) dikirim ke Yogya (Ibukota RI) untuk 



menghimpun kekuatan rakyat. Saat itu Panglima Hisbullah 
Kalimantan adalah Hasan Basri, yang berpusat di Banjarmasin. 

Sedangkan Panglima Nusatenggara adalah Ngurah Rai 
yang berpusat di Bali. Sedangkan Kartosoewirjo adalah 
Panglima Hisbullah Jawa Barat. Ia terus berjuang melawan 
penjajah Belanda. 

Pada tahun 1948, ketika terjadi Peijanjian Renville (di 
atas kapal Renville) daerah yang dikuasi rakyat Indonesai 
semakin kecil, karena daerah inclave harus dikosongkan. 
Kartosoewirjo tidak mau mengosongkan Jawa Barat, maka 
timbullah pemberontakan Kartosoewirjo tahun 1948 melawan 
Belanda. 

Kala itu Kartosoewirjo selain harus menghadapi 
Belanda juga menghadapi mantan tentara KNIL yang sudah 
bergabung ke TRI yang kala itu mereka bani saja kembali dari 
Yogyakarta. 

Kartosoewirjo yang berjuang melawan Belanda dalam 
rangka mempertahankan Jawa Barat karena dia adalah 
Panglima Divisi Jawa Barat, justru dicap pemberontak oleh 
Soekarno, sehingga dihukum mati pada 1962. 

Menurut Dr. Bambang Sulistomo, putra pahlawan 
kemerdekaan Bung Tomo, tuduhan pemberontak kepada 
Kartosoewirjo dinilai bertentangan dengan fakta sejarah. 

"Menurut kesaksian almarhum ayah saya, yang 
ditulisnya dalam sebuah buku kecil berjudul HIMBAUAN, 
dikatakan bahwa pasukan Hizbullah dan Sabilillah, menolak 
perintah hijrah ke Yogyakarta sebagai pelaksanaan isi 
perjanjian Renvile; dan memilih berjuang dengan gagah berani 
mengusir penjajah dari wilayah Jawa Barat. Keberadaan 
mereka di sana adalah atas persetujuan Jenderal Soedirman dan 



Wakil Presiden Mohammad Hatta. Pada saat clash Belanda 
kedua, pasukan TNI kembali ke Jawa Barat dan merasa lebih 
berhak menguasai wilayah yang telah berhasil direbut dengan 
berkuah darah dari tangan penjajah oleh pasukan Hizbullah dan 
Sabilillah di bawah komando SM Kartosoewirjo. Karena tidak 
dicapai kesepakatan, maka terjadilah pertempuran antara 
pasukan Islam dan tentara republik tersebut..." (Lihat Buku 
"FAKTA Diskriminasi Rezim Soeharto Terhadap Umat Islam", 
1998, hal. xviii). 

Sehubungan dengan hal tersebut, Prof. Dr. Deliar Noor 
berkomentar: "Kesaksian almarhum ayah saudara itu, persis 
seperti kesaksian Haji Agoes,Salim yang disampaikan di 
Cornell University Amerika Serikat, tahun 1953. Memang perlu 
penelitian ulang terhadap sejarah yang ditulis sekarang..." 

Pada buku berjudul "Menelusuri Perjalanan Jihad SM 
Kartosuwiryo" (Juli 1999, hal. xv-xvi), KH Firdaus AN 
menuliskan sebagai berikut: 

"...Setelah perjanjian Renville ditandatangani antara 
Indonesia dan Belanda pada tanggal 17 Januari 1948, maka 
pasukan Siliwangi harus ’hijrah’ dari Jawa Barat ke Yogyakarta, 
sehingga Jawa Barat dikuasai Belanda. Jelas perjanjian itu 
sangat merugikan Republik Indonesia. Waktu itu Jenderal 
Sudirman menyambut kedatangan pasukan Siliwangi di Stasiun 
Tugu Yogyakarta. Seorang wartawan Antara yang dipercaya 
sang Jendral diajak oleh beliau naik mobil sang Panglima TNI 
itu...." 

"...Di atas mobil itulah sang wartawan bertanya kepada 
Jendral Sudirman: 'Apakah siasat ini tidak merugikan kita?' Pak 
Dirman menjawab, 'Saya telah menempatkan orang kita disana', 



seperti apa yang diceritakan oleh wartawan Antara itu kepada 
penulis. 

"...Bung Tomo, bapak pahlawan pemberontak 
Surabaya, 10 November dan mantan menteri dalam negeri 
kabinet Burhanuddin Harahap, dalam sebuah buku kecil 
berjudul 'Himbauan', yang ditulis beliau pada tanggal 7 
September 1977, mengatakan bahwa Pak Karto (Kartosuwiryo, 
pen.) telah mendapat restu dari Panglima Besar Sudirman. . ." 

"...Dalam keterangan itu, jelaslah bahwa waktu 
meninggalkan Yogyakarta pada tahun 1948 sebelum pergi ke 
Jawa Barat, beliau (Kartosuwiryo) pamit dan minta restu 
kepada Panglima Besar TNI itu dan diberi restu seperti 
keterangan Bung Tomo tersebut. 

Dikatakan dengan keterangan Jenderal Sudirman 
kepada wartawan Antara di atas tadi, maka orang dapat 
menduga bahwa yang dimaksud 'orang kita' atau orangnya 
Sudirman itu, tidak lain adalah Kartosuwiryo sendiri. Apalagi 
kalau diingat bahwa waktu itu Kartosuwiryo adalah orang 
penting dalam Kementerian Pertahanan Republik Indonesia 
yang pernah ditawari menjadi Menteri Muda Pertahanan, tetapi 
ditolaknya. Jabatan Menteri Muda Pertahanan itu ternyata 
kemudian diduduki oleh sahabat beliau sendiri, Arudji 
Kartawinata. Dapatlah dimengerti, kenapa Panglima Besar 
Sudirman tidak memerintahkan untuk menumpas DI /TU; dan 
yang menumpasnya adalah Jenderal AH Nasution dan Ibrahim 
Adji. Alangkah banyaknya orang Islam yang mati terbunuh 
oleh Nasution dan Ibrahim Adji! Apakah itu bukan dosa. . .?" 

02 April 2001 : 08.35 

Kolom Opini : Agus Kusnaeni (2) 



bangsaku.com - Tahun 1950, TRI mereorganisasi 
membentuk divisi-divisi dalam bentuk TT (Tentara Teritorium 
yang merupakan embrio Kodam. Ini merupakan awal daripada 
AD (Angkatan Darat) dan PKI (Partai Komunis Indonesia) 
berkuasa menguasai TRI melalui kodam-kodam (divisi-divisi). 

Kala itu provinsi di Ind masih terdiri dari 1 . 
Kalimantan, dengan ibukota Banjarmasin 2. Sulawesi, dengan 
ibukota Makassar 3. Sumatera Selatan, dengan ibukota 
Palembang 4. Sumatera Tengah, dengan ibukota Padang 5. 
Aceh, dengan ibukota Banda Aceh 6. Sunda Kecil (Bali, NTT, 
NTB), dengan ibukota Singaraja. Pada Desember 1950 terjadi 
pengakuan kedaulatan RI. Dua bulan kemudian Jen. Sudirman 
meninggal, kepemimpinannya dilanjutkan oleh Urip mantan 
tentara KNIL beragama Kristen. Sementara itu, Panglima 
Divisi Sulawesi, Kahar Muzakar yang ditugaskan ke Yogya utk 
menghimpun kekuatan rakyat di tahun 1946, jabatannya 
sebagai Panglima Divisi Sulawesi diisi oleh Gatot Subroto 
mantan KNIL beragama Budha yang anti Hisbullah. 

Terjadi konflik antara Kahar dengan Gatot Subroto, 
sehingga diciptakan situasi yang merugikan/merusak citra 
Kahar (putra daerah), akibatnya Kahar melawan ketidakdilan 
dan ketidak benaran yang dihembuskan Gatot Subroto. 

Tahun 59/60 Kahar dinyatakan terbunuh dalam 
pertempuran, tetapi jenazahnya tidak ditemukan. M. Jusuf 
pemah dikirim melawan Kahar, mengalami kekalahan namun 
bisa selamat kembali ke Jakarta. 

Tidak semua divisi mengalami pergolakan. Di 
Kalimantan Selatan, Ibnu Hadjar menjadi Panglima KRJT 
(Kesatoean Rakjat Jang Tertindas). Institusi ini di bawah 
Panglima Divisi kalimantan yang panglimanya adalah Hasan 



Basri. Sedangkan Divisi Jawa Timur panglimanya adalah Jen. 
Sudirman (sebelum meninggal dunia). 

Ketidak-adilan di dalam tubuh TRI semakin terasa 
ketika orang-orang dari Sulut yang beragama Kristen (dan 
mantan tentara KNIL) banyak menduduki jabatan penting, 
antara lain Kol. Kawilarang (menjabat panglima divisi 
Siliwangi), Kol. Ventje Sumual, dan sebagainya. 

Apalagi kemudian AD memegang kendali 
pemerintahan, setelah Soekarno tumbang. Soeharto yang 
mantan KNIL dan penganut Kejawen, kemudian mengawali 
pemerintahannya dengan rasa benci yang mendalam terhadap 
Islam. 

Sebelum era Benny Moerdani, Soeharto menempatkan 
orang-orangnya seperti Panggabean, Soedomo dan Ali 
Moertopo yang dengan baik memenuhi kemauan Soeharto. 

Ali Moertopo sukses dengan proyek Komando Jihad. 
Kemudian Soedomo juga sukses dengan Kopkamtibnya 
"ngegebukin" umat Islam. Benny Moerdani sukses dengan 
proyek Imran/Woyla dan Tanjung Priok. Try Soetrisno sukses 
dengan proyek Lampung dan DOM Aceh, juga beberapa kasus 
seperti Haur Koneng, dan sebagainya. 

Jenderal M. Jusuf (orang Makasar) sempat didudukkan 
sebagai Pangab, sebelum Benny. Ketika itu tekanan terhadap 
Islam agak mereda, perlakuan ala binatang terhadap Tapol dan 
Napol Islam, agak berkurang ketika Yusuf menjadi Pangab. 

Kesejahteraan prajurit pun membaik. Namun tidak 
banyak yang bisa ia lakukan. Meski dari Makasar ternyata 
Yusuf tidak semilitan Katholik abangan seperti Benny. 

Di masa Benny, betapa sulitnya mendapatkan perwira 
Muslim yang menjabat Komandan Kodim. Semuanya Kristen, 



hanya satu-dua saja yang Budha atau Hindu. Pada umumnya 
Dandim adalah perwira Kopassandha (kini Kopassus). Untuk 
menjadi perwira Kopassandha, rangkaian testing dilakukan hari 
Jumat, sehingga prajurit yang masih loyal kepada agamanya, 
tidak bisa ikut test. Akibatnya, dari puluhan perwira 
Kopassandha kala itu, hanya satu yang Islam (abangan), dan 
satu Hindu atau Budha. 

Penyingkiran secara sistematis ini sudah berlangsung 
sejak Panggabean, yang meneruskan tradisi Urip Soemohardjo 
dan Gatot Soebroto, sejak awal kemerdekaan terutama sejak 
wafatnya Jen. Soedirman. 

Namun demikian untuk menghindarkan kesan 
diskriminatif, Benny merekrut juga pemuda-pemuda Islam 
menjadi tentara (bukan perwira Kopassandha). Tapi yang ia 
pilih yang tolol-tolol. Kalau ada pemuda Islam dari keluarga 
baik-baik (militan) kemudian cerdas, pasti dinyatakan tidak 
lulus testing dengan berbagai macam alasan. 

Pemuda Islam tolol yang direkrut jadi tentara sebagian 
besar dikirim ke Timor Timur untuk menyetorkan nyawa. Ada 
diantara mereka yang selamat, seperti Ratono yang pernah 
terlibat kasus Priok. Ratono sampai kini masih hidup semata- 
mata karena keberuntungan, atau setidaknya Allah jadikan ia 
sebagai saksi hidup kebiadaban Benny dan para pendahulunya. 

Tahun 1988 perseteruan Benny - Soeharto meruncing, 
terutama setelah rencana kudeta yang gagal dari Benny cs 
terhadap Soeharto, yang berakibat dicopotnya Benny dari 
jabatan Pangab dan digantikan Try. 

Ketika Try menjabat Pangab (1989), Benny Moerdani 
kemudian menjabat Menhankam. Anehnya, Try masih melapor 
kepada Benny, padahal seharusnya ke presiden sebagai Pangti. 



Termasuk, laporan intelijen (ketika itu BAIS masih di bawah 
Pangab) Try Soetrisno selalu meneruskannya ke Benny. 

Tahun 1992 Try dipensiunkan dan menduduki kursi 
Wapres berkat usaha gigih kalangan AD. Ketika itu sebenarnya 
Soeharto lebih condong ke Habibie, namun berkat fait 
accomply Harsudiono Hartas yang ketika itu menjabat 
Kassospol ABRI, akhirnya Try-lah yang baik mendampingi 
Soeharto selama lima tahun (hingga 1997). 

Kursi Pangab kemudian diisi Eddy Sudrajat. Di masa 
Eddy inilah tekanan terhadap ummat Islam yang gencar 
dilakukan sejak Benny dan Try menjadi Pangab, agak 
mengendor. Bahkan kemudian di Mabes berdiri mesjid, 
sehingga para perwira dan prajurit bisa shalat Jum'at di Mabes. 

Pada masa itu, Eddy Sudrajat sempat menjabat tiga 
jabatan sekaligus. Selain masih menjabat KASAD dan 
Panglima ABRI ia pun dilantik sebagai Menhankam. Semua 
jabatan itu satu per satu dilepaskan, kecuali Menhankam. 
Jabatan KASAD dilimpahkan ke Wismojo dan Panglima ABRI 
kepada Feisal Tanjung. 

Di masa Feisal Tanjung, ummat Islam bisa bernafas 
lega. Tapol dan Napol banyak yang dibebaskan, meski masih 
terkesan takut-takut. Bahaya ekstrim kanan yang selalu 
dihembuskan sejak dulu, sirna dengan sendirinya. Bahkan, 
lulusan pesantren bisa masuk AKABRI ya cuma di masa Feisal 
Tanjung. 

Sayangnya Feisal bersama Syarwan Hamid dituduh 
terlibat kasus 27 Juli, yang sebagian besar korbannya ya ummat 
Islam juga. Pada masa inilah muncul istilah ABRI hijau dengan 
konotasi negatif. 



Setelah Feisal, Wiranto mendapat giliran menjadi 
Pangab. Wiranto semula adalah kader Benny. Karenanya, 
ketika ia naik menjadi KASAD kemudian Pangab, banyak juga 
yang waswas. Ketika Wiranto menjadi KASAD, perwira 
Muslim di lingkungan KASAD digeser dan digantikan dengan 
Hindu atau Budha. 

Untung ada Prabowo. Sebenarnya Prabowo juga kader 
Benny, bahkan sejak ia masih Letnan. Namun akhirnya 
Prabowo melihat ketidak-adilan yang dibuat Benny, dan ia 
memberontak, sehingga jadilah Prabowo sebagai musuh nomor 
satu Benny. Kalau tidak ada Prabowo, mungkin sampai kini 
tidak ada yang bisa menjadi musuh Benny. Selain karena ia 
menantu Presiden, Prabowo juga banyak uang sehingga bisa 
menetralisir pengaruh "orang-orang Benny" di tubuh ABRI. 

Meski Bowo jarang shalat, ia tetap saja dikategorikan 
sebagai ABRI hijau, mungkin karena keberpihakannya. Berkat 
tekanan dari Prabowo dkk akhirnya Wiranto tak berkutik. 
Bahkan belakangan ia ikut-ikutan menjadi ABRI hijau. 

Sebuah pilihan yang pragmatis. Wiranto akhirnya bisa 
juga berteman dengan Abdul Qadir Djaelani, dan sebagainya. 
Dari sinilah lahir istilah aneh-aneh, seperti Pam Swakarsa, dan 
sebagainya, yang kesemuanya itu cuma membuat malu umat 
Islam. 

Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa sejak dulu 
yang namanya tentara itu lebih banyak merugikan Islam. Kalau 
tidak memusuhi secara terang-terangan, maka ia berbaik-baik 
sambil memberikan stigma. 

Seharusnya ummat Islam menjaga jarak yang pas 
dengan tentara. Jangan mau digebukin tetapi juga jangan 
sampai ditunggangi dengan alasan kerja sama sinergis. 



Sialnya, masih ada saja diantara umat Islam yang mau 
ditunggangi tentara padahal dulu mereka sering digebukin. 
Rasanya, kemiskinanlah yang membuat mereka seperti itu.*** 



20 

Abdul Qadir Djaelani Ngaku Punya Data Bom 

“SK Itu Dalang Bom” 


A bdul Qadir Djaelani mengaku punya data-data akurat 
/ 1 soal rangkaian pengeboman termasuk pengeboman di 
^ .A. malam natal lalu. Data-data apa yang dimiliki anggota 
DPR dari Fraksi Bidan Bintang ini? Kepada Syahrial 
Nasution, dia membeberkannya. Petikannya: 


Kabarnya Anda kenal dengan Nur Hidayat, pelaku 
pemboman malam Natal yang dikatakan agen 
Afghanistan? 

Saya kenal dengan Nur Hidayat sudah lama waktu saya 
masih di penjara. Saya bahkan sering ngobrol dan makan 
bareng dengan dia selama tujuh tahun. Kebetulan kan waktu di 
penjara kita berada dalam satu blok. Pendeknya selain Nur 
Hidayat saya juga banyak kenal dengan Tapol peristiwa 
Lampung. 

Apa betul Nur Hidayat punya hubungan dekat 
dengan beberapa jenderal di TNI? 

Saya mendapat informasi akurat dari orang-orang saya 
bahwa Nur Hidayat dekat dengan SK (Mayjen) aktif. Bahkan 
dalam acara perpisahan mutasi SK, Nur Hidayat dan anak 
buahnya ikut hadir dalam acara tersebut. Hubungan Nur 
Hidayat dan SK tidak cuma soal seperti itu saja. Pada saat 



terjadi peledakan malam Natal, pagi harinya Nur Hidayat 
menelepon seseorang bernama HMD (tokoh masyarakat) dan 
mengatakan bahwa dialah (Nur Hidayat) dan anak buahnyalah 
yang melakukan pemboman. Dan yang saya tahu juga Nur 
Hidayat telah membuat paspor untuk ke luar negeri. Sedangkan 
anak buah Nur Hidayat mengetahui soal rencana peledakan 
seminggu sebelumnya. 

Apa hubungan antara peledakan di Jakarta dan 
Bandung? 

Pada 24 Desember 2000 yang lalu, Haji Aceng pemilik 
bengkel di Jl. Jakarta, Bandung persis menjelang Maghrib 
kedatangan Iqbal (keduanya sudah ditangkap). Padahal Iqbal 
ini sudah dua tahun tidak pernah muncul dan ikut pengajian 
dengan kelompok Islam fundamentalis. Dia datang bersama 
dua orang temannya yang tidak dikenal Haji Aceng. 

Nah, rumah Haji Aceng memang sering dilakukan 
sebagai tempat pengajian dan banyak juga yang menginap di 
loteng rumah itu. Menjelang tengah malam, tiba-tiba bom 
meledak dan Haji Aceng, Iqbal bersama dua orang temannya 
melarikan diri. Ternyata bom itu sengaja diledakkan di tempat 
pengajian Haji Aceng cs supaya terkesan pelaku bom malam 
Natal adalah kelompok Islam fundanmentalis. Karena jenis 
bom yang meledak di kedua tempat sama dan waktunya juga 
bersamaan. 

Bagaimana ceritanya kok SK bisa dekat dengan 
kelompok Islam fundamentalis? 

Menjelang Muktamar sebuah kelompok Islam di 
Yogyakarta bulan Juli 2000, SK menemui I J (OC Muktamar 
tersebut, red). Ia menawarkan kerjasama. Hingga akhirnya SK 
menyumbangkan Rp 200 juta untuk muktamar. Tetapi, setelah 



saya tanya ke IJ, dana itu ditolak. Dia kemudian mendekati 
beberapa kelompok fundamentalis. Tujuannya untuk membuat 
sebuah bukti bahwa kelompok Islam fundamentalis adalah 
teroris yang memusuhi umat agama lain. Dan itu ingin mereka 
buktikan saat malam Natal yang lalu. 

Lalu tujuan politis lain yang Anda ketahui? 

SK adalah kelompok TNI yang dekat dengan AW (TNI 
aktif), Mn (Ketua LSM), Jnd (bekas intel), BG, MS dan AW 
yang terhimpun dalam Fordem. Mereka satu sama lain 
merupakan pembisik skenario bom yang mereka buat sendiri. 
Jadi, kalau AW menuduh atau memfitnah Jenderal (Pur) 
Hartono dan Letjen (Pur) Prabowo sebagai otak peledakan bom 
malam Natal, begitu juga dengan Mn. Semuanya dari skenario 
yang sama. Sayangnya memang kedua jenderal itu tidak mau 
menuntut AW sehingga skenario keji berikutnya tidak bisa 
dideteksi. 

Bagaimana dengan Elize yang dibayar 75 juta oleh 
Tommy untuk meledakkan tiga tempat. Apa ada 
hubungannya? 

Saya kira itu pun masih dalam skenario mereka. Mana 
masuk akal lokasi Menteng yang telah diisolir polisi bisa 
kebobolan pada pukul 20.00. Apa Tommy sebodoh itu? Saya 
yakin Tommy masih bisa membayar orang yang setia 
kepadanya kalau cuma buat nyerahin bom. Selain itu saya juga 
melihat bahwa AW memang sengaja membuat opini bani 
dengan menekankan seluruh persoalan kepada keluarga 
Cendana. 

Dan satu lagi, ada upaya lain yang mereka lakukan yaitu 
untuk mendiskreditkan TNI dalam kasus teror bom ini. Mereka 
merekayasa supaya seolah-olah yang mampu melakukan teror 



itu adalah TNI. Dengan demikian TNI dan polisi akan saling 
berhadapan. Kalau sudah begitu maka skenario selanjutnya 
adalah AW pada bulan Februari nanti akan melakukan reshuffle 
dalam beberapa jabatan di TNI dan menarik SK dan AW ke 
posisi strategis kembali. 

Anda yakin dengan informasi yang Anda dapatkan? 

Saya sangat yakin. Buat apa saya belain tentara, dulu 
kan yang nangkap saya tentara. Cuma saya tidak bicara orang 
per orang. Biar bagaimanapun institusi TNI harus tetap ada. 
Saya sangat yakin TNI saat ini memang sedang dipojokkan dan 
akan dihadapkan dengan polisi. Dan skenario ini tanpa kita 
sadari memang sudah dilakukan. Negara Indonesia ini tidak 
akan ada kalau tidak ada.TNI. 

Saya pikir bodoh sekali kalau-ada intelijen yang 
percaya begitu saja sama seorang dukun. Saya sudah pernah 
belajar operasi intelijen, jadi paling tidak saya tahu apa yang 
harusnya dilakukan polisi sebelum begitu saja mengeluarkan 
statemen bahwa Eliza itu adalah suruhannya Tommy. 


Keterangan (bukan dari AQD) 

SK (Mayjen) = Saurip Kadi 

AW (TNI aktif) = Agus Wirahadikusumah 

Mn (LSM) = Munir 

Jnd (mantan Intel) = Juanda (Kolonel AL, salah 

seorang pembisik AW alias GD) 
BG (Fordem) = Bondan Gunawan 

MS (Fordem) = Marsilam Simanjuntak 

AW = Abdurrahman Wahid 

Sumber: Harian RAKYAT MERDEKA, 23 Januari 2001 (28 
Syawal 1421 H) 




Kiai Syamsuri Dan 
Peledakan 


16 Januari 2001 : 11.35 

Forum Pembca : Syaifudin Bidakara 

bangsaku.com - Beberapa tahun lalu (1998-1999), muncul 
seseorang yang mengaku-aku sebagai Kahar Muzakar. Lelaki 
itu ternyata bernama Syamsuri, berusia antara 50-60 tahun. 
Selain mengaku-aku sebagai Kahar Muzakar, Syamsuri juga 
berkeliling daerah di Indonesia untuk mengumumkan bahwa 
dirinya adalah Kahar Muzakar. 

Sebagian kalangan memang ada yang percaya, termasuk 
salah seorang anak (dan menantu) Kahar sendiri. Namun bagi 
yang berfikiran waras, kemunculan Syamsuri yang mengaku- 
aku sebagai Kahar Muzakar justru menjadi bahan tertawaan. 

Namun demikian, Syamsuri nampaknya punya 
kemampuan mempengaruhi orang yang cukyup lumayan, 
sehingga ada saja sejumlah orang yang mau taat dan patuh 
kepadanya, dan bahkan mempercayai bahwa Syamsuri adalah 
Kahar Muzakar. 

Beberapa bulan setelah kemunculan Syamsuri, terjadi 
peristiwa peledakan Plaza Hayamwuruk dan perampokan BCA 
Taman Sari, Jakarta Barat, pada tanggal 15 April 1999. 



Kemudian diikuti pula dengan peledakan Istiqlal (19 April 
1999). 

Setelah ditelanjangi oleh kalangan Islam sendiri, dan 
merasa kedoknya terbuka, Syamsuri akhirnya hengkang ke 
Batam dan dilanjutkan menyeberang ke Malaysia. Namanya 
pun bagai lenyap ditelan bumi. 

Namun, tiba-tiba tokoh Syamsuri muncul kembali. Ia 
dimunculkan kembali antara lain oleh majalah SABILI edisi 29 
November 2000, melalui wawancara KH Sulaeman Habib 
(teman dekat Kahar Muzakar yang sudah almarhum). Sulaeman 
Habib melalui pernyataannya di SABILI berusaha meyakinkan 
kita bahwa Syamsuri adalah Kahar Muzakar. 

Tak berapa lama kemudian, terjadilah peledakan di 
malam Natal, 24 Desember 2000 di berbagai kota di Indonesia. 

Dulu, kasus peledakan Plaza Hayamwuruk dan 
perampokan BCA Taman Sari serta peledakan Istiqlal, 
melibatkan nama AMIN, yang konon bermarkas di Maseng 
(Bogor, Jawa Barat). Hingga kini tak ketahuan jelas akhir dari 
penangkapan itu, juga nasib persidangannya. 

Sedangkan kasus peledakan malam Natal 24 Desember 
2000, melibatkan beberapa kalangan sejenis AMIN seperti 
alumni Afghan dan sebagainya. Diyakini, Syamsuri merupakan 
salah seorang tokoh yang dimunculkan aparat (TNI dan 
intelijen), untuk menyeret orang-orang tolol semacam Qahir 
dan sebagainya terlibat di dalam aksi teror yang ujung- 
ujungnya menyulitkan posisi umat Islam. 

Siapa Syamsuri sebenarnya? Menurut penyelidikan, ia 
adalah Kolonel purnawirawan dari Angkatan Laut. Siapa pula 
KH Sulaeman Habib yang mati-matian meyakinkan umat Islam 
bahwa Syamsuri itu adalah Kahar Muzakar? Sulaeman Habib 



adalah mantan tentara yang pernah bertugas di semi-pionir 
(tukang rusak). 

Di majalah Suara Hidayatullah edisi Januari 2001, 
sosok Syamsuri kembali tampil, namun untuk menjelaskan 
bahwa dirinya bukanlah Kahar Muzakar. Padahal dulu ia dan 
pengikutnya sangat intens melakukan upaya-upaya meyakinkan 
umat Islam bahwa Syamsuri adalah Kahar Muzakar. Namun 
setelah keluarga besar almarhum Kahar Muzakar menyatakan 
Syamsuri bukan Kahar, maka Syamsuri pun berubah sikap. Ia 
mengatakan, sebenarnya orang lainlah yang menobatkannya 
sebagai Kahar, bukan dirinya. Sikap plintat-plintut Syamsuri ini 
semakin mempertegas bahwa ia cuma seorang aktor yang 
sedang menjalankan peranan sebagai Kiai. Apalagi mengingat 
latar belakangnya yang pernah di kesatuan (AL) dengan 
pangkat terakhir setingkat Kolonel. Terbukti, selama mukim di 
Batam, Syamsuri selalu bertempat tinggal di wisma perwira 
AL. 

Bila majalah Suara Hidayatullah dengan tegas bersikap 
dalam memberitakan Syamsuri ini, yaitu memposisikan 
Syamsuri sebagai sosok yang negatif. Sedangkan majalah 
SABILI nampaknya masih berusaha memberitakan sosok 
Syamsuri dengan 'seimbang' sebagaimana bisa dilihat pada 
edisi 5 Januari 2001. Maklumlah majalah Sabili memang agak 
dekat dengan tentara. 

Terhadap sosok Syamsuri ini, ada baiknya pihak 
kepolisian menjadikannya saksi (kalau perlu langsung jadi 
tersangka) untuk kasus peledakan malam Natal lalu, karena 
setiap ia tampil, tak berapa lama kemudian terjadi peledakan 
yang melibatkan orang Islam pergerakan. Dulu AMIN kini 



alumni Afghan. Entah besok siapa lagi yang dijadikan korban 
oleh Syamsuri. 

Untuk mengetahui domisili Syamsuri tanyakanlah ke 
wartawan SABILI dan Suara Hidayatullah yang berhasil 
mewawancarainya. Atau, coba hubungi Qahirudin (tangan 
kanan Syamsuri) yang pernah melakukan pembelaan terhadap 
Syamsuri melalui tulisannya di surat pembaca majalah MEDIA 
DAKWAH edisi Juni 1999, dengan alamat: Pondok Maharta 
Blok A. 19/20, Pondok Kacang Timur, Ciledug, Tangerang 
15226. 

Melalui Syamsuri siapa tahu aparat kepolisian dapat 
mengungkap lebih jauh lagi tentang berbagai kasus peledakan 
yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk peledakan malam Natal 
24 Desember 2000 lalu 



22 

Umar Abduh, Mantan Tapol Kasus Woyla Tentang Pelaku 

Peledakan 

“Pelaku NH, Otaknya 
Jendral SK” 


18 Januari 2001 : 19.00 

bangsaku.com - Peledakan malam Natal, dalam analisa Umar 
Abduh, mantan Tapol Kasus Woyla merupakan skenario untuk 
melakukan pembusukan dan penciptaan stigma terhadap Islam. 
Kelompok Islam yang digunakan sebagai pupuk pembusukan 
ini adalah jalur NH. Mata-rantai NH adalah AM dan GT yang 
merupakan tokoh jalur struktural yang sudah memisahkan diri 
dari induknya yakni NII faksi TRB dan Dd, yang berbasis di 
Garut. Dan, otak dari semua ini tetap militer anti islam. 
"Aktornya itu SK," ujar Abduh kepada banesaku.com Kamis, 
(18/01/2001). 

Bagi Umar tentara saat ini ada berbagai macam ada 
tentara yang sok jadi kiai, tentara yang sok jadi konglomerat. 
Tentara yang satu ini sudah berhubungan sebelumnya untuk 
mengembosi Mujahidin. LM, sebuah lembaga Islam, menurut 
Umar sudah dipasok. "Irfan, salah satu kelompok yang telah 
terpisah dari NII juga pemah ditawari namun ditolak. "Nah, NH 
doyan untuk masalah ini," tuturnya. 



Lebih lanjut, Umar mensinyalir semua skenario ini 
adalah untuk menghantam Mujahidin. "Karena Mujahidin ini 
langkahnya gencar dan dapat diterima oleh bebagai pihak, 
maka harus dihentikan," paparnya. (rey) 



23 

Mantan Tapol Kasus Imran/Woyla 1981, Umar Abduh, 
Bongkar Eksekutor Bom Natal 

Embrio 

Tragedi Lampung Kedua 

Oleh Umar Abduh 

Tgl. publikasi: 16/1/2001 09:08 WIB 

S alah seorang kawan saya bercerita dengan perasaan 
gundah gulana. Pasalnya, menjelang Lebaran lalu anak 
lelakinya yang menuntut ilmu di salah satu pesantren di 
Jawa Barat, mengajukan pertanyaan yang tergolong aneh: "Pak, 
bagaimana kalau saya membunuh tentara?" 

Sang bapak tentu saja tersentak dengan pertanyaan 
seperti itu. Belum sempat pertanyaan aneh itu dijawab, sang 
anak sudah nyerocos tentang berbagai hal yang tak jauh dari 
tema jihad. "Saya ingin berjihad. Kalau tidak ke Ambon, ya di 
sini saja." 

Menurut sang anak, teman-temannya sesama santri 
sudah siap jihad. Begitu juga dengan masyarakat sekitar 
pesantren, sudah siap angkat senjata, siap melakukan 
penyerangan terhadap tentara. Selain itu, mereka juga sudah 
mengetahui adanya rencana peledakan (yang kemudian terbukti 
terjadi di malam Natal), sejak jauh hari dan bahkan diminta 



partisipasi aktifnya oleh seseorang. Berdasarkan penuturan 
sang anak, bisa dirasakan adanya suasana yang sedemikian 
panas di lingkungan pesantren tertentu di Jawa Barat. 

Suasana sangat panas di sejumlah pesantren itu juga 
digambarkan oleh beberapa staff sebuah yayasan yang 
menaungi lembaga penelitian Islam di Jakarta, ketika mereka 
pulang kampung seminggu menjelang Idul Fitri 1421 H lalu. 
Bahkan saking panasnya, mereka yang merasa sudah siap jihad 
itu dengan agak gusar sempat mempertanyakan sejauhmana 
kesiapan orang Jakarta untuk berjihad dan mati syahid. 

Memang pada akhirnya mereka tidak melakukan apa- 
apa, tidak membunuh tentara dan tidak pula terlibat upaya 
peledakan di malam Natal lalu, namun mereka pada saat itu, 
setidaknya seminggu menjelang Idul Fitri, sudah dalam 
keadaan siap-siaga penuh: menunggu komando dari seseorang 
untuk bergerak. 

Suasana panas dan siap menunggu komando itu, 
setidaknya terjadi di beberapa pesantren di Jawa Barat, 
khususnya beberapa pesantren di sekitar Garut, Tasikmalaya, 
Ciamis sampai ke arah Banjar. 

Di salah satu pesantren di sekitar Garut, para santrinya 
bahkan sudah mendapatkan semacam brosur (dokumen) 
tentang jenis-jenis senjata yang akan dipasok kepada mereka, 
dalam rangka melakukan perlawanan terhadap tentara. 
Termasuk dokumen tentang rencana gerakan yang akan 
dilakukan kelak. Para santri di pesantren itu yang semula awam 
tentang jenis-jenis senjata, ketika itu justru nampak faseh 
menjelaskan jenis-jenis dan fungsi senjata, yang panjang, yang 
pendek, yang canggih, standar Jerman atau bukan, dan 
sebagainya. 



Jika kasus peledakan malam Natal tidak jelas 
sasarannya, karena hampir seluruh ledakan terjadi di luar areal 
gereja, untuk kasus ini begitu jelas sasarannya yaitu tentara. 
Nampaknya ada upaya (skenario) menghadapkan komunitas 
Islam pergerakan (dan komunitas presantren) dengan tentara. 

Tiga Bulan Sebelum Bom Natal 

Sekitar tiga bulan sebelum kasus peledakan malam 
Natal terjadi, seorang lelaki muda berinisial NH, kita sebut saja 
demikian, nampak rajin melakukan kunjungan ke berbagai 
kelompok dan perorangan yang pernah terlibat dalam 
pergerakan (Islam) lama maupun baru, terutama di kawasan 
Jabotabek. Mata-rantai NH adalah AM dan GT yang 
merupakan tokoh jalur struktural yang sudah memisahkan diri 
dari induknya yakni NII faksi TRB dan Dd, yang berbasis di 
Garut. 

Selain me-lobby ia juga menawarkan gagasan 
melakukan perlawanan (provokasi) karena menurutnya keadaan 
sudah sedemikian genting dan mengancam eksistensi ummat 
Islam, sehingga perlu dihadapi dengan sebuah perlawanan 
serentak. Mata-rantai NH itu selalu membawa-bawa brosur 
senjata, dan bahkan kepada setiap orang pesantren (maupun 
perorangan) yang didatanginya ia berusaha meyakinkan bahwa 
pasokan senjata sudah sampai tahap siap kirim. 

Sekali waktu, sebelum bom malam Natal meledak, NH 
pernah mengunjungi seorang tokoh Islam. Tak berapa lama 
datang menyusul seseorang yang diakui sebagai teman NH 
namun tidak dikenal sang tokoh Islam. Kepada sang tokoh 
Islam, teman NH itu berusaha menitipkan dua pucuk M- 16, 



tetapi sang tokoh menolak. Karena ditolak, kemudian NH dan 
temannya itu pergi dari rumah sang tokoh Islam tadi. 

Informasi mengenai NH dan mata-rantainya ini, sejak 
awal-awal kejadian kasus malam Natal 24 Desember 2000 
sudah diketahui oleh berbagai kalangan, tidak saja oleh 
kalangan intelijen, juga aktivis Islam yang concern terhadap 
masalah ini. 

Siapa NH ini? Ia adalah mantan Karateka Nasional dan 
pemah bekerja di Bea Cukai. Pernah mendekam di penjara 
untuk kasus Talangsari (Lampung) yang meledak di bulan 
Februari 1989. 

NH adalah tokoh kunci kasus Talangsari (Lampung). Ia 
berhasil memprovokasi Warsidi, pemilik lahan sekitar 1,5 
hektar yang dijadikannya sebagai basis perlawanan dan 
pemberontakan terhadap pemerintah dan ABRI kala itu. 

Ketika itu NH berhasil memperdaya dan memprovokasi 
Warsidi, sehingga Warsidi yang semula buta politik dan tidak 
radikal menjadi 'ngerti' politik sekaligus radikal. NH berhasil 
pula memprovokasi sejumlah orang dari Jawa untuk 'hijrah' ke 
Talangsari dan mempersiapkan diri untuk 'berjihad' melawan 
pemerintah dan ABRI. 

NH berhasil meyakinkan Warsidi dan puluhan orang 
lainnya, antara lain dikatakan bahwa bantuan senjata siap 
dikirim sebanyak satu kontainer, sehingga dengan senjata itu 
Warsidi dan kawan-kawan bisa dengan mudah melakukan 
perlawanan terhadap ABRI, dan menguasai Bakauheni 
(pelabuhan yang menghubungkan Jawa dengan Sumatera). 

Ketika bentrokan antara jamaah Warsidi dengan aparat 
yang dibantu warga setempat terjadi, NH ketika itu justru tidak 



berada di lokasi kejadian. Ia tetap di Jakarta ketika sejumlah 
nyawa meregang dari tubuhnya. 

Nampaknya, kini NH hendak mengulang sukses yang 
pernah dibukukannya di tahun 1989 dulu. Ia melalui mata- 
rantainya sempat berhasil membawa api ke berbagai pesantren 
di sekitar Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar, untuk 
bersiap-siap melakukan perlawanan terhadap tentara, 
sebagaimana pernah berhasil dilakukannya terhadap Warsidi 
dan jamaahnya. 

Kali ini ia gagal. Yang kemudian mendesak di benak 
adalah, siapa membekingi NH sehingga ia dan mata-rantainya 
begitu mudah membawa-bawa brosur berbagai jenis senjata 
bahkan berikut contohnya? Adakah ia salah satu pion aparat 
yang bertugas melakukan pembusukan ke dalam tubuh ummat 
Islam, sekaligus berperan menjalankan politik pecah-belah? 

Selepas menjalani masa tahanannya karena terlibat 
kasus Talangsari (Lampung), NH menjadi petualang. Ia sempat 
menikmati 'uang santunan’ dari Hendropriyono yang 
berkepentingan agar kasus Talangsari tidak diungkap. 
Kemudian NH pemah pula oleh aparat 'ditugaskan' untuk 
membentuk Pam Swakarsa. Oleh Baramuli NH pemah dibayar 
untuk mengerahkan milisi sipil dalam rangka mendukung 
Habibie. Tentu saja itu semua dilakukan dengan imbalan yang 
cukup besar. 

Kabar terakhir mengatakan, NH dan mata-rantainya 
mempunyai peranan yang jelas dalam kasus peledakan 24 
Desember 2000, khususnya untuk daerah Jakarta dan Jawa 
Barat. Sedangkan untuk daerah lainnya dikoordinasikan oleh 
selain NH. Di daerah lain, tipikal pelaku peledakan berbeda 
dengan Jakarta dan jawa Barat, yaitu ada diantaranya yang 



mengenakan anting-anting, yang menyiratkan bahwa pelakunya 
dari kalangan preman, kriminal, dan sebagainya. 

Nampaknya, NH diberi otoritas untuk membuat teror 
hanya di Jakarta dan Jawa Barat saja, tentunya ada kelompok 
lain yang juga diberi otoritas yang sama untuk melakukan hal 
serupa di daerah-daerah lainnya. Namun mengapa hanya jalur 
NH saja yang bisa terungkap sedangkan lainnya tidak? 
Nampaknya jebakan ala Komando Jihad dan kasus Talangsari 
(Lampung 1989) serta tragedi Priok 1984 hendak diulang 
kembali. 

Sebagaimana diberitakan media massa, sebagian pelaku 
peledakan di Jakarta dan Jawa Barat adalah alumni Afghan, dan 
mereka itu adalah mata-rantai NH-AM-GT yang bermarkas di 
Garut. Keterlibatan mereka adalah sebagai pribadi (sama sekali 
tanpa sepengetahuan lembaga dimana mereka bernaung). 

Anehnya, informasi tentang keterlibatan mata-rantai NH 
ini pada kasus peledakan malam Natal itu —dalam tempo sangat 
singkat— sudah menjadi konsumsi umum di kalangan intel dan 
aktivis Islam, sehingga menimbulkan rasa heran. Mengapa 
begitu cepat, dan mengapa hanya jalur NH (Jakarta dan Jawa 
Barat) saja yang terungkap sedangkan jalur lainnya tidak 
terungkap padahal kasus peledakan itu terjadi hampir serentak 
di berbagai wilayah? 

Dalam menjalankan aksinya untuk meyakinkan para 
tokoh lembaga Islam dan tokoh Islam (perorangan) yang 
concern pada derakan-gerakan Islam, NH selalu ke mana-mana 
mencatut nama tokoh-tokoh dari lembaga Islam tertentu. Antara 
lain ia membawa-bawa nama tokoh Majelis Mujahidin seperti 
Mursalin, Qadir Baradja, Baasyir dan sebagainya. Padahal, 
tokoh-tokoh itu tidak mungkin bersentuhan dengan petualang 



dan pecundang semacam NH dan mata-rantainya (AM dan 
GT). Bahkan konon ketika NH melamar menjadi aktivis 
Majelis Mujahidin, ia dipersilakan keluar, mengingat track 
record-nya yang tercela. 

Dapat disimpulkan, bahwa melalui kasus peledakan 
malam Natal lalu, nampaknya ada skenario ingin 
membenturkan antara kalangan Islam dengan tentara, dan 
antara kalangan Islam dengan Kristen. Termasuk adanya upaya 
stigmatisasi terhadap gerakan Islam dengan pola ala Komando 
Jihad dan sebagainya. 

Ummat Islam sudah seharusnya bersatu untuk 
mengungkap gerak-langkah petualang politik semacam NH ini, 
dalam rangka menghindarkan timbulnya korban jiwa dari 
kalangan rakyat tak berdosa, sebagaimana pernah terjadi pada 
kasus Komando Jihad, Lampung, Priok dan sebagainya. 
Sementara rakyat tak berdosa mati sia-sia, sang petualang dan 
provokator justru menerima imbalan untuk hidup bersenang- 
senang. 

Jakarta, 15 Januari 2001 
ksm29@hotmail.com 

Catatan: Redaksi eramuslim telah mengkonfirmasi langsung 
email ini kepada yang bersangkutan. 

http://www.eramuslim.com Selasa, 21 Syawwal 1421/ 16 
Januari 2001